Memaknai Ibadah Haji | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Memaknai Ibadah Haji

Memaknai Ibadah Haji
Foto Memaknai Ibadah Haji

Oleh Agustin Hanafi

“Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, tidak ada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, kekuasaan adalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu.”

DOA talbiyah yang selalu dipanjatkan oleh para jamaah haji ketika hendak melaksanakan ibadah di tanah suci, mereka mengucapkannya penuh semangat dan antusias walaupun kadang kondisi fisik sudah tidak prima lagi, sehingga membuat bulu kudu kita merinding karena sungguh mengharukan. Memang sekilas kalimat ini sederhana, tetapi pada hakikatnya memiliki makna yang cukup dalam. Ungkapan yang tulus dari lubuk hati bahwa mereka dapat melaksanakan rukun Islam kelima ini tidak lain kecuali atas izin Allah, memenuhi undangan Allah, maka wajar gelar “tamu Allah” melekat pada mereka. Untuk itu, para jamaah patut bersyukur atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya karena tidak semua orang mendapatkan kesempatan hadir di tempat yang mulia ini.

Dengan demikian, harus memiliki semangat dan motivasi tinggi serta tekad yang kuat untuk melaksanakan ibadah secara sungguh-sungguh sembari bersikap pasrah dan menyerahkan semua urusan kepada Allah Tuhan Semesta Alam. Mengabaikan hal lain yang tidak ada kaitannya dengan ibadah sama sekali, seperti mutasi jabatan, kondisi gampong yang terkadang lampunya padam, atau tanaman yang kering-kerontang akibat kemarau panjang. Tetapi benar-benar menghayati bahwa kehadirannya di sana murni untuk beribadah, menjiwai spirit Nabi saw, keluarga serta sahabatnya, bagaimana terjalnya perjuangan mereka dalam menegakkan panji-panji Islam sehingga tersebar ke seluruh dunia. Meskipun napak tilas baginda Rasulullah saw telah berlalu 14 abad silam, tetapi cahaya obor tetap menyala pada setiap sanubari muslim.

Berat dan unik
Tidak ada satu tempat pun di dunia ini yang setiap saat dikunjungi oleh jutaan manusia, bahkan hingga detik ini ribuan orang di Aceh rela antre dalam proses daftar tunggu (waiting list) yang boleh jadi sepuluh tahun ke depan baru mendapatkan giliran. Hal ini menandakan bahwa tempat ini begitu mulia dan penuh berkah, sehingga setiap insan mendambakan untuk bisa hadir di sana.

Ibadah haji merupakan ibadah yang unik dan sulit dirasionalkan, meskipun sebagian orang telah pernah melaksanakannya namun masih saja punya hasrat tinggi dan berharap agar tetap bisa hadir di rumah Allah bersama muslim lainnya yang datang dari berbagai penjuru dunia untuk melaksanakan thawaf di sekeliling kakbah karena dapat menghadirkan kepuasan batin terhadap jiwanya. Tidak sedikit pun mereka mengeluh dan merasa jenuh, padahal kondisi medan di sana begitu berat dan penuh perjuangan, lautan manusia tumpah ruah sehingga suasananya padat merayap bahkan terkadang harus berdesakan, cuaca panas begitu menyengat hingga mencapai 46 derajat Celcius.

Uniknya lagi, tidak kita temukan jamaah jatuh miskin dan bangkrut usai pulang dari tanah suci, padahal biaya perjalanan haji cukup besar. Inilah keberkahan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya bagi yang tulus melaksanakan ibadah. Jika ia mendekatkan diri kepada Allah satu jengkal saja maka niscaya Allah akan membalasnya dengan lebih dekat yaitu satu hasta, begitulah seterusnya.

Haji merupakan ibadah yang cukup berat, karena harus mampu secara fisik dan materi. Pelaksanaannya juga memiliki “godaan” yang cukup berat, misalnya bagaimana menjinakkan lingkungan sekitar yang dipenuhi gedung-gedung pencakar langit, begitu megah dan indah yang terkadang tanpa sadar membuat kita asyik ber-selfie ria di sekitarnya, sehingga lupa beribadah kepada Allah Swt. Acapkali yang hadir dalam benak kita kamera handphone, lalu meng-update status dan memposting di media sosial, sehingga dikagumi oleh rekan sejawat.

Kemudian, godaan yang tidak kalah dahsyat adalah barang dagangan yang mempesona yang dapat menghipnotis jamaah. Suatu yang menggelikan baru dua hari menginjakkan kaki, tetapi telah sibuk memikirkan oleh-oleh yang akan dibawa pulang untuk orang-orang terdekatnya. Sehingga beribadah tidak optimal, padahal kesempatan untuk bisa hadir di tanah suci belum tentu terulang untuk keduakalinya.

Godaan lain adalah datang dari sesama manusia yang memiliki beraneka ragam suku budaya, watak, dan tabiat yang berbeda. Untuk itu, kita dituntut untuk benar-benar bersabar dan menahan amarah, karena boleh jadi makanan dan tempat tinggal kurang sesuai selera, mobil pengangkut jamah telat tiba di lokasi akibat kemacetan di mana-mana. Ada juga sikap kolega yang menjengkelkan, karena suka mencari kambing hitam dan menyalahkan orang lain, meremehkan peran dan jasa baik orang, menggurui dan melecehkan lantaran telah hilir mudik ke Masjidil Haram. Tidak sedikit juga yang berbangga dengan keturunan dan status sosialnya, sehingga membuat kawannya yang satu kamar kurang nyaman. Allah Swt berfirman, “Barang siapa mengerjakan ibadah haji maka janganlah ia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat dan bertengkar dalam melakukan ibadah haji.”

Nilai kesetaraan
Satu nilai yang paling fundamental dalam ibadah haji adalah kesetaraan manusia di hadapan Allah Swt. Hal ini dapat dilihat pada simbol pakaian ihram yang serba putih, yang harus dikenakan bagi siapapun yang melaksanakan ibadah haji. Artinya, setinggi apapun kedudukan dan status sosial seseorang dalam masyarakat, namun di hadapan Allah Swt semuanya memiliki kedudukan setara. Tidak ada perbedaan antara presiden dengan pesinden, menteri dengan tukang pateri, gubernur dengan tukang cukur, bupati dengan tukang pedati, pak camat dengan penjual tomat, kepala gampong dengan penjual kangkung, kepala desa dengan penarik beca, hamba dengan raja, jenderal dengan kopral, kecuali hanya ketakwaan semata.

Untuk itu, segala yang berkaitan dengan simbol atribut duniawi harus ditanggalkan, bersikaplah rendah hati, lenyapkan perasaan angkuh dan sombong, jangan mengkerdilkan orang lain lantaran rendah pendidikan dan ekonominya.

Kemudian simbol lain dari pakaian ihram yang harus kita sadari betul bahwa semuanya yang kita miliki akan fana dan kita tinggalkan, kelak yang akan dibawa ke liang lahat hanyalah sehelai kain putih. Semua akan mempertanggungjawabkan amalnya di hadapan Allah Swt secara individu, sebagaimana dalam praktik ibadah haji itu sendiri. Meskipun kenyataannya di sana manusia berjubel dan berdesakan, tetapi semuanya sibuk menyelamatkan dirinya sendiri.

Untuk itu, persiapkan bekal untuk kehidupan yang lebih abadi. Jangan terlena dengan kehidupan duniawi yang sifatnya hanya sementara. Jangan karena terlalu sibuk dengan harta, lalu shalat menjadi lupa. Jangan karena uang berlimpah, lalu menganggap diri sebagai raja diraja dan berbuat maksiat seenaknya. Tetapi berusahalah selalu berbuat baik dengan mematuhi segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Dan, harus selalu diingat bahwa sebesar biji zarrah pun niscaya akan kita pertanggungjawabkan kelak di yaumil-mahsyar.

Bagi siapa pun yang menunaikan ibadah haji, tentunya pasti mengharapkan agar memperoleh haji mabrur, yang imbalannya adalah surga. Namun untuk mendapatkannya tidaklah secara otomatis, melainkan harus dengan kerja keras. Mabrur tidaknya haji seseorang dapat diamati secara mudah, yaitu; apakah membekas atau berpengaruh pada prilaku dan amalannya usai menunaikan ibadah haji itu?

Bagi yang mabrur, tentu pribadinya akan menjadi lebih baik, semakin bersabar saat menghadapi musibah, semakin pandai bersyukur dan bersikap rendah hati ketika memperoleh nikmat, murah senyum dan memberikan pelayanan yang terbaik bagi siapa yang membutuhkannya. Kemudian amal ibadahnya semakin meningkat, dekat dengan masjid untuk selalu hadir shalat berjamaah, memiliki kepekaan sosial yang tinggi dan jauh dari sikap kikir, semakin menghargai waktu dengan tidak lama-lama nongkrong di kafe-kafe, semakin tumbuh rasa cinta dan sayang kepada pasangan dan anaknya, semakin mengenal akan jati dirinya bahwa hidup ini pasti akan berakhir.

Jika gejala di atas tidak terlihat sedikit pun pada diri kita usai menunaikan ibadah haji, maka sungguh malang nasib kita. Biaya besar yang telah dikeluarkan menjadi sia-sia, karena tidak memiliki implikasi apapun untuk tabungan akhirat. Walahu a‘lam bi al-sawab.

* Dr. H. Agustin Hanafi, Lc., MA., Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh, dan Anggota Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT-Aceh). Email: [email protected] (uri/ilati/sra/MU)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id