PENGANTAR Lipsus Proyek Tinja di Makam Ulama | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

PENGANTAR Lipsus Proyek Tinja di Makam Ulama

PENGANTAR Lipsus Proyek Tinja di Makam Ulama
Foto PENGANTAR Lipsus Proyek Tinja di Makam Ulama

URI.co.id – Gampong Pande, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh kembali menjadi sorotan publik. Kali ini bukan karena penemuan mata uang emas yang sempat heboh pada akhir 2013 lalu.

Tapi kali ini nama Gampong Pande disorot karena kehadiran mega proyek pengolahan sampah dan tinja dengan nama Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL).

Proyek yang berlokasi di antara Gampong Pande dan Gampong Jawa ini mulai digarap pada 2015 di atas lahan seluas 1,6 hektare dengan anggaran Rp 107 miliar.

Ironisnya, proyek APBN dengan leading sektor Pemko Banda Aceh ini ditengarai telah merusak dan menghilangkan situs sejarah penting peninggalan Kerajaan Aceh Darussalam.

(Baca: Miris, Makam Ulama di Banda Aceh Jadi Tempat Pembuangan Limbah)

Sejarawan, arkeolog, dan tokoh masyarakat setempat menyebut kawasan tempat proyek ini berada, dulunya masuk dalam wilayah Gampong Pande, sebuah perkampungan yang memainkan peran penting pada masa Kerajaan Aceh Darussalam.

Kawasan ini dulunya disebut sebagai tempat para pandai besi, perajin emas, pusat perdagangan, serta salah satu pusat pendidikan agama dan militer Kerajaan Aceh.

Peran penting Gampong Pande dalam sejarah Aceh ini dibuktikan dengan ditemukannya banyak artefak dan nisan kuno, termasuk koin emas yang menghebohkan Aceh akhir 2013 lalu.

Terbaru, di lokasi penggalian proyek IPAL ini juga ditemukan sejumlah nisan yang diduga merupakan bagian dari makam para ulama dan raja Aceh.

Para aktivis, sejarawan, dan arkeolog mengklaim pembangunan proyek IPAL telah merusak dan menghilangkan bukti sejarah Kerajaan Aceh Darussalam, yang tersebar dan terkubur di sana.

(Baca: Asyiknya Minum Nipah di Gampong Pande)

Lantas bagaimana sebetulnya pembangunan proyek IPAL yang disebut-sebut merupakan proyek strategis Presiden Jokowi bisa berjalan nyaris tak terdengar publik?

Apa pentingnya kawasan situs di area proyek tersebut harus diselamatkan? Dan apa saja temuan penting dan bernilai di lokasi area proyek menurut pandangan arkeolog?

Bagaimana pendapat tokoh dan perangkat desa Gampong Pande terhadap kelanjutan proyek itu?

Bagaimana pula tanggapan Pemko Banda Aceh selaku leading sektor proyek tersebut?

Ikuti laporan hasil liputan Tim Multimedia Serambi Indonesia, Zainal Arifin M Nur, Ansari Hasyim, Muhammad Nasir, dan Matahari Mahardika, yang turun ke lokasi pada, Selasa (29/8/2017).

Liputan ini diturunkan secara berseri di empat platform media Serambi Group, yaitu Serambi Indonesia (edisi cetak), URI.co.id (online), Serambi FM (radio), dan Serambi TV (video streaming). (uri/strid/lleonora/AE)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id