Banda Aceh Dapat Penghargaan Sinovik, Peusaba: Ini Bukan Kreatif tapi Penghinaan Sejarah | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Banda Aceh Dapat Penghargaan Sinovik, Peusaba: Ini Bukan Kreatif tapi Penghinaan Sejarah

Banda Aceh Dapat Penghargaan Sinovik, Peusaba: Ini Bukan Kreatif tapi Penghinaan Sejarah
Foto Banda Aceh Dapat Penghargaan Sinovik, Peusaba: Ini Bukan Kreatif tapi Penghinaan Sejarah

URI.co.id, BANDA ACEH – Lembaga penyelamat sejarah dan budaya Aceh (Peusaba) melontarkan kritikan keras atas kebijakan Pemerintah Kota.

Karena menjadikan situs sejarah di kawasan Gampong Pande dan Gampong Jawa, Kecamatan Kutaraja sebagai lokasi pembangunan proyek limbah tinja.

Sebagaimana diketahui Pemerintah Kota Banda Aceh kembali meraih prestasi tingkat nasional.

Kali ini dalam bidang inovasi pengolahan sampah menjadi gas di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Gampong Jawa yang berhasil masuk dalam Top 40 Sistem Informasi Inovasi Pelayanan Publik (Sinovik) 2017.

Baca: Gampong Pande, Riwayatmu Kini

Penghargaan tersebut diserahkan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Puan Maharani, kepada Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman.

Penyerahannya berlansung pada acara pembukaan Pekan Kerja Nyata Revolusi Mental, di Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, Jumat (25/8).

Menurut Ketua Pesaba Mawardi Usman, penghargaan itu bukanlah sebuah prestasi yang harus dibanggakan.

Sebab, penghargaan itu diraih dengan telah mengorbankan identitas situs sejarah dan makam para ulama yang pernah hidup dan jaya pada masa Kerajaan Aceh Darussalam.

Baca: Gampong Pande, di Sini Kuta Raja Bermula

Semua makam dan situs sejarah kini telah rusak akibat timbunan lahan proyek TPA Gampong Jawa.

Terlebih saat ini Pemerintah Kota Banda Aceh juga gencar membangun instalasi pembuangan air limbah (IPAL) yang terletak di kawasan Gampong Pande, dan bersebelahan dengan lokasi proyek TPA Gampong Jawa.

Usman menegaskan Peusaba mempertanyakan apakah layak penghargaan itu diberikan dan dianggap kreatif.

Sedangkan proyek pembuangan sampah dan limbah tinja dilakukan di kompleks bekas masjid, Istana Darul Makmur kompleks makam raja dan ulama yang alim.

Baca: Misteri Koin Emas Gampong Pande Terkuak

“Ini bukan kreatif tapi penghinaan terhadap sejarah dan peran ulama penyebar Islam. Peusaba meminta wali kota Banda Aceh agar segera sadar dan menghentikan proyek IPAL secepatnya,” kata Mawardi.

Menurutnya jika sebuah kesengajaan melanjutkan proyek IPAL, maka Wali Kota Banda Aceh telah melakukan dosa yang tidak termaafkan.

“Layakkah wali kota mengaku melaksanakan syariat Islam secara kaffah, namun menjadikan kompleks makam raja dan ulama sebagai tempat pembuangan limbah tinja. Itu adalah penghinaan besar dan berdosa besar dan menjadi catatan buruk untuk generasi mendatang,” tegas Mawardi.

Peusaba juga mempertanyakan kepada Menteri Puan Maharani.

Baca: Warga Gampong Pande Minta Dibangun Museum

Apakah Puan tahu kalau pembuangan sampah dan limbah tinja yang akan dijadikan gas metana adalah wilayah kompleks makam bersejarah besar di Asia Tenggara.

Peusaba mengingatkan bahwa hukum Allah akan berlaku pada siapa saja yang mengganggu makam para wali dan aulia Allah.

“Karena itu Peusaba meminta Pemerintah Pusat segera menghentikan proyek pembuangan sampah dan limbah tinja di Gampong Jawa dan Gampong Pande,” tegas Mawardi. (uri/strid/lleonora/AE)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id