Jepang akan Bangun Perikanan di Sabang | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Jepang akan Bangun Perikanan di Sabang

Jepang akan Bangun Perikanan di Sabang
Foto Jepang akan Bangun Perikanan di Sabang

* Dubes Kunjungi Serambi

BANDA ACEH – Duta Besar (Dubes) Jepang untuk Indonesia, Masafumi Ishii, mengatakan bahwa Pemerintah Jepang akan meningkatkan kerja sama dengan Indonesia, khususnya Aceh. Salah satunya dalam sektor perikanan, dengan membangun beberapa fasilitas di Sabang.

Hal itu disampaikan Masafumi Ishii saat mengunjungi Kantor Harian Serambi Indonesia di Meunasah Manyang, Ingin Jaya, Aceh Besar, Senin (28/8). Masafumi yang berkunjung bersama istri dan staf, disambut Pemimpin Umum Harian Serambi Indonesia, H Sjamsul Kahar dan Sekretaris Redaksi, Bukhari M Ali.

Ia jelaskan, dalam kerja sama ke depan Pemerintah Jepang berencana akan mengembangkan pelabuhan, pasar, dan fasilitas penunjang perikanan di Sabang, sebab potensi perikanan yang dimiliki Sabang sangatlah besar.

Pihak Jepang akan melakukan survei untuk menentukan lokasi proyek itu, karena untuk pembangunan pasar juga akan dibutuhkan fasilitas penyimpanan ikan yang besar.

Masafumi menambahkan, proyek itu nanti merupakan bagian dari program Jepang yang ingin mengembangkan perikanan beberapa pulau kecil di Indonesia. Jika di Indonesia Timur Jepang melirik Pulau Morotai, maka di bagian barat dipilih Pulau Weh (Sabang). Menurutnya, ada enam pulau di Indonesia yang akan dikembangkan.

Saat ini antara Kota Banda Aceh dengan Kota Higashi Matsushima, Jepang, juga sudah terjalin beberapa kerja sama, misalnya, memberi edukasi tentang bencana tsunami di Museum Tsunami Aceh. Apalagi kedua kota itu memiliki museum tsunami.

Menurut Masafumi, Jepang dengan Indonesia dan Aceh memiliki banyak hubungan, terutama yang terkait dengan gempa dan tsunami. Pada saat Aceh dilanda tsunami tahun 2004, Jepang ikut membantu prose pemulihannya. Demikian juga saat Jepang dilanda tsunami tahun 2011, Indonesia serta Aceh ikut memberi bantuan.

Dalam kunjungan ke Banda Aceh, Dubes yang baru bertugas sejak April lalu ini juga menyambangi SMA Negeri 6 Banda Aceh. Ia mewakili Pemerintah Jepang mengundang enam siswa sekolah itu ke Jepang, guna menghadiri pertemuan pelajar se-dunia di Okinawa pada November mendatang. Forum yang rutin mengundang pelajar Aceh itu akan membahas dampak serta penanggulangan bencana. “Pertemuan ini sangat penting, karena bertujuan menurunkan pengetahuan tentang tsunami ke generasi selanjutnya,” ujar Masafumi.

Selain itu, dalam waktu dekat juga akan memperingati 60 tahun hubungan diplomatik Jepang dengan Indonesia. Rencananya, untuk memperingatinya, Dubes Jepang akan menggelar serangkaian kegiatan di sejumlah daerah.

Dalam pertemuan kemarin, Dubes Jepang ini juga menanyakan kondisi terkini di Aceh. Termasuk soal keamanan dan ekonomi, serta potensi yang dimiliki.

Dubes Jepang untuk Indonesia itu, juga mengunjungi Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Senin (28/8). Masafumi yang datang bersama istri serta Sekretaris Kedutaan, Masamu Yamamori disambut Wakil Rektor I Unsyiah, Dr Hizir di Ruang Mini Rektor Unsyiah, Darussalam, Banda Aceh.

Turut hadir dalam pertemuan ini Wakil Rektor II Unsyiah, Prof Dr Husni SH MHum, Kepala Pusat Pengembangan Sistem Manajemen Mutu Unsyiah, Dr Ir M Aman Yaman MagricSc, Direktur 7 in 1 Unsyiah, Dr Tarmizi MSc, dan Sekretaris Program Magister Ilmu Kebencanaan Unsyiah, Dr Nizamuddin MInfoSc.

Hizir mengatakan, selama ini Unsyiah banyak menjalin kerja sama dengan beberapa Universitas di Jepang dalam bidang penelitian, publikasi ilmiah, pertukaran mahasiswa atau dosen, dan beasiswa. “Dari ratusan Phd (lulusan S3) di Unsyiah juga banyak berasal dari Jepang. Bahkan, Rektor Unsyiah Prof Dr Ir Samsul Rizal MEng juga salah satu lulusan dari Jepang,” ungkap Hizir. Pada kesempatan itu, Hizir juga menyampaikan terima kasih atas banyaknya bantuan dari Jepang, baik sebelum maupun sesudah tsunami di Aceh.

Sementara itu Masafumi mengutarakan, kerja sama Pemerintah Jepang di Aceh sebenarnya difokuskan dalam bidang mitigasi bencana. Pada saat gempa dan tsunami di Aceh pada 2004, masyarakat Jepang turut membantu meringankan beban masyarakat Aceh. “Lalu, kami juga berterima kasih karena saat gempa besar di Jepang pada 2016, masyarakat Indonesia termasuk Aceh, sangat peduli kepada masyarakat Jepang,” ungkapnya.

Masafumi pun mengakui bahwa hasil riset dari peneliti Indonesia turut membantu pemerintah Jepang dalam menghadapi bencana, khususnya bencana gunung merapi. Beberapa waktu lalu saat Jepang dilanda bencana gunung merapi, beberapa peneliti Jepang datang ke Indonesia untuk mempelajari penanganan musibah tersebut. “Untuk penelitian gunung merapi, sebenarnya Indonesia lebih maju daripada Jepang dan peneliti Jepang juga pernah datang ke Indonesia untuk meneliti tentang aliran lahar,” ujarnya.

Banda Aceh adalah kota kedua yang dikunjungi setelah dirinya menjabat sebagai Duta Besar Jepang sejak awal April 2017. Kunjungan ini bertujuan agar dirinya bisa lebih mengenal Indonesia. Di Unsyiah Masfumi pun mengungkapkan rasa kagumnya terhadap alam Aceh yang, menurutnya, tak jauh berbeda dengan Jepang. (mun/jal) (uri/inaldy/eryance/RG)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id