Nasib Nelayan Kecil, Tewas Terhirup Racun | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Nasib Nelayan Kecil, Tewas Terhirup Racun

Nasib Nelayan Kecil, Tewas Terhirup Racun
Foto Nasib Nelayan Kecil, Tewas Terhirup Racun

Dua nelayan Singkil mengalami nasib tragis ketika sedang mencari nafkah di dasar laut. Keduanya terhirup racun buangan kompresor yang mereka pakai sebagai alat bantu untuk menangkap ikan. Seorang tewas di laut, satu lainnya harus menjalani perawatan intensif.

Menurut catatan, yang menjadi korban kompresor saat menyelam bukan kali ini saja. Sebelumnya ada puluhan orang yang tewas maupun cacat fisik seumur hidup.

Kepala Dinas Perikanan Aceh Singkil, Ir Ismet Taufiq, menyesalkan peristiwa yang merenggut nyawa itu. Sebab, penggunaan kompresor itu sangat dilarang Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan.

Dinas perikanan setempat sudah berulang-ulang melarang keras penggunaan kompresor saat menyelam. Termasuk mengingatakan bahwa kalau mereka mengalami nasib sial, tidak akan mendapat santunan apa-apa. “Ahli waris nelayan yang meninggal, maupun nelayan yang masih hidup tidak mendapat klaim asuransi lantaran mereka menggunakan alat tangkap ilegal,” ujar Ismet.

Karenanya, ia mengimbau nelayan agar segera menghentikan penggunaan kompresor sebelum jatuh korban berikutnya. “Ada beberapa nelayan yang masih nekat menggunakan kompresor.”

Nelayan mestinya takl harus bertarung dengan maut. Toh, Bupati Aceh Singkil, Dulmusrid sudah mempersilakan para nelayan mengajukan usulan per kelompok untuk pengadaan alat bantu pengganti yang ramah lingkungan. Bupati menyetujui jika nelayan yang biasa menyelam beralih menggunakan peralatan scuba, dengan catatan saat menyelam tidak merusak terumbu karang. “Pemerintah menyediakan mesin oksigen, sedangkan tauke membelikan tabung oksigen untuk anggotanya yang menyelam,” kata Dulmusrid.

Nelayan tradisional atau sering kita sebut nelayan kecil, memang mencari nafkah dengan cara-cara yang berisiko tinggi. Bertahun-tahun lalu banyak nelayan yang merakit bom untuk dipakai membom ikan di dasar laut. Ini juga banyak yang mengalami nasib tragis. Ada yang tewas dengan tubuh tercabik-cabik karena ledakan bom. Di Aceh besar, dulu banyak nelayan yang menggergaji bom besar –entah dari mana mereka peroleh– kemudian isi bom itu diracik kembali menjadi beberapa bom ikan. Saat menggergaji bom itulah terkadang ada yang meledak dan menewaskan nelayan.

Tragedi tidak sampai di situ saja, ada juga nelayan yang tewas atau bahkan cacat seumur hidup karena bom ikan meledak di tangannya. Pendek kata, begitu banyak risiko maut yang harus mereka hadapi saat mencari nafkah sehari-hari.

Harusnya, saat ini para nelayan benar-benar perlu diyakinkan tentang banyaknya fasilitas yang diberikan secara cuma-cuma pemerintah. Cuma saja, pemerintah juga harus evaluasi juga mekanisme penyaluran bantuan untuk nelayan. Sebab, selama ini diberi boat bantuan ada yang malah dijual oleh orang tak berhak. Diberi alat tangkap, malah hilang di jalan. Yang lebih parah lagi, ada bantuan yang justru tak dibutuhkan oleh nelayan.

Makanya, untuk kali ini, nelayan-nelayan kecil yang suka berbuat nekat itu harus benar-benar dicaritahu apa kebutuhan yang tak sanggup mereka adakan sendiri. Itulah yang harus diberikan oleh pemerintah. Jadi, jangan biarkan lagi mereka mencari nafkah sambil mempertaruhkan nyawa. (uri/ilviana/ebriyani/SF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id