Risiko Bencana dan Laka Lantas | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Risiko Bencana dan Laka Lantas

Foto Risiko Bencana dan Laka Lantas

Oleh Kiswanto

SELAIN faktor alam, bencana juga bisa muncul karena faktor manusia seperti konflik sosial, ataupun bencana alam yang disebabkan unsur manusia seperti kejadian pada kecelakaan berlalu lintas. Bencana terbesar yang merenggut korban jiwa selain perang dan bencana alam adalah kecelakaan lalu lintas (laka lantas). Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), angka kematian global saat ini tercatat mencapai 1,24 juta per tahun. Diperkirakan, angka tersebut akan meningkat hingga tiga kali lipat menjadi 3,6 juta per tahun pada 2030 nanti.

Indonesia menempati urutan pertama peningkatan kecelakaan menurut data Global Status Report on Road Safety yang dikeluarkan WHO. Indonesia dilaporkan mengalami kenaikan jumlah kecelakaan lalu lintas hingga lebih dari 80 persen. Korban meninggal dunia lebih banyak terjadi pada pengguna sepeda motor. Penyebabnya dikatakan beragam, misalnya melanggar lalu lintas, tidak mematuhi rambu, dan belum mampu berkendara dengan baik.

Saat ini, menurut data WHO 2015, ada lebih dari 60 juta sepeda motor di ruas-ruas jalan di Indonesia dibandingkan dengan delapan juta mobil. Jumlah tersebut terbilang spektakuler. Satu hal lagi yang disoroti, Korlantas Polri mencatat selama Januari-November 2014 lalu, kerugian material karena kecelakaan lalu lintas mencapai Rp 224.297.495.685. Walaupun jumlah itu menurun 14 persen dibanding 2013, tetap saja sangat jumlahnya. Namun dalam hal pengurangan risiko bencana berlalu lintas belum menjadi agenda utama pemerintah.

Banyak partai politik yang mengampanyekan seputar perbaikan ekonomi, pendidikan murah dan lain-lainnya. Sehingga program yang penting dan genting sering terlupakan. Sudah saatnya Dinas Pendidikan bekerja sama dengan Polri dan Dinas Perhubungan dalam menyusun dan mencanangkan pengurangan risiko bencana berlalu lintas berbasis sekolah. Dengan kerja sama antara stakeholder mengangkat isu dalam memasukkan kurikulum kesiapsiagaan bencana dalam berlalu lintas berbasis sekolah. Sehingga pendidikan berlalu lintas menjadi kurikulum wajib di sekolah dasar.

Akar masalah tentang bencana berlalu lintas sampai sekarang ini masih kurang dalam bahan kajian yang signifikan oleh pemerintah sendiri. Faktor yang sudah lama berakar dalam masyarakat yang membentuk dan mempertahankan terjadinya kerentanan terus saja dibiarkan. Gangguan serius terhadap pelanggaran berlalu lintas di masyarakat menyebabkan kerugian pada manusia berlalu lintas sendiri.

Perhatian khusus
Dalam laporan bertajuk World Report on Road Traffic Injury Prevention, WHO dan Bank Dunia memberi perhatian khusus pada masalah kecelakaan lalu lintas. Proyeksi WHO, dalam kurun 2000 hingga 2020 nanti, kematian akibat kecelakaan lalu lintas akan menurun 30% di negara-negara berpendapatan tinggi. Tetapi akan meninggkat di negara-negara berpendapatan sedang dan rendah. Tanpa adanya tindakan yang nyata pada 2020, kecelakaan lalu lintas akan menjadi penyebab kecelakaan dan “penyakit” nomor tiga di dunia.

Menurut data WHO, setiap tahun terdapat lima juta orang tewas akibat kecelakaan lalu lintas di dunia, dan 25% di antaranya terjadi di Asia Tenggara. Setiap hari rata-rata 29 orang tewas akibat kecelakaan lalu lintas (lalin) di Indonesia. Sementara kecelakaan per tahun rata-rata mencapai 14.604 kejadian dengan jumlah korban 10.696 orang tewas. Data tersebut berasal dari sumber Mabes Polri selama lima tahun terakhir pada rata-rata 40 kasus kecelakaan lalu lintas.

Organisasi kesehatan dunia (WHO) melaporkan kecelakaan lalu lintas merupakan pembunuh utama pada kaum muda berusia 10-24 tahun. Hampir 400 ribu pemuda dibawah usia 25 tahun setiap tahun meninggal dunia karena kecelakaan, dan jutaaan lainnya cacat. WHO memperkirakan total kerugian akibat kecelakaan lalu lintas, baik berupa kerugian material, kesehatan maupun pengeluaran lain, mencapai 518 miliar dolar AS per tahun. Di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah, kerugian akibat kecelakaan lalu lintas bisa mencapai 1-1,5% dari GNP (Gross National Product). Setiap 2 Km, seorang pengendara motor memiliki risiko tewas karena kecelakaan atau 20 kali lebih besar dibandingkan dengan seorang pengendara mobil.

Data Kementerian Perhubungan menyebutkan, angka kecelakaan yang melibatkan sepeda motor pada 2006 lalu sebanyak 70.308 unit atau terjadi peningkatan 44.121 unit dibanding dua tahun sebelumnya.

Dari hasil penelitian dan pengkajian di lapangan, dapat disimpulakan bahwa kecelakaan lalu lintas dapat dipengaruhi oleh faktor manusia, kendaraan, dan lingkungan jalan, serta interaksi kombinasi dua atau lebih faktor tersebut (Austroats, 2002).

Masuk kurikulum sekolah
Kecelakaan yang terjadi selama ini lebih banyak diakibatkan oleh anak-anak muda atau anak sekolah. Sayangnya pendidikan tertib berlalu lintas belum masuk dalam kurikulum sekolah. Padahal pendidikan berlalu lintas ini sangat penting bagi anak-anak sekolah. Laka lantas yang terjadi sampai sekarang ini lebih banyak diakibatkan kecerobohan manusia sendiri. Ini juga dipicu karena banyak yang belum mengerti dan paham aturan berlalu lintas. Dengan memasukan muatan kurikulum dalam pengurangan risiko berlalu lintas di sekolah-sekolah, diharapkan dapat mengurangi kerentanan dan meningkatkan kapasitas berlalu lintas.

Pelanggaran yang sering kali mengakibatkan kefatalan yaitu, enggannya pengemudi memakai helm maupun sabuk pengaman. Untuk mengurangi laka lantas yang terus meningkat, sebenarnya Departemen Perhubungan telah mengampanyekan keselamatan naik mobil memakai sabuk pengaman sebagaimana diamanatkan UU No.14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Dan juga pemakaian wajib helm. Sebenarnya penggunaan sabuk keselamatan yang benar akan mengurangi risiko tingkat fatalitas sebesar 1/15 dari setiap 1.000 kecelakaan, dibandingkan dengan penumpang yang tidak memakai sabuk pengaman.

Selain itu, akan mencegah kepala penumpang kendaraan bermotor roda empat atau lebih yang berada/duduk di kursi depan membentur roda kemudi, dasbor dan kaca depan. Adanya sabuk itu mengurangi kemungkinan terlempar dari kendaraan pada saat kecelakaan. Hal-hal semacam itu seharusnya bisa menjadi media kampanye dalam pendidikan pengurangan resiko berlalulintas di sekolah-sekolah.

Kampanye dan sosialisasi yang dilakukan oleh pihak Kementerian Perhubungan dalam pengurangan risiko berlalu lintas dirasa juga masih sangat kurang. Hanya menyentuh sebagian kecil saja belum merata ke semua lapisan masyarakat. Untuk mengurangi risiko kecelakaan yang terjadi di Indonesia, Ditjen Perhubungan Darat dapat bekerja sama dengan Polri dan Dinas Pendidikan dalam memasukkan kurikulum pendidikan pengurangan resiko berlalu lintas di sekolah-sekolah.

Pendidikan yang dilakukan menyangkut keselamatan pembinaan mental, psikologi dan kesehatan, serta sistem keselamatan bagi pengemudi. Untuk mendukung tingkat kesehatan pengemudi, Dephub juga bisa mengadakan kerja sama dengan Depkes. Kerja sama itu berisikan tentang pembinaan kesehatan kerja pada pekerja transportasi. Kerja sama itu juga untuk mengoordinasikan langkah-langkah pembinaan kesehatan kerja pada pekerja tranportasi dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan dan keselamatan kerja.

Pada dasarnya penyebab kecelakaan lalulintas meliputi beberapa faktor: Pertama, faktor kendaraan 6%. Faktor kendaraan disebabkan kondisi rem blong dan ketebalan ban sering menjadi penyebab kecelakaan; Kedua, faktor kondisi jalan 3%. Kondisi jalan yang rusak dapat menyebabkan kecelakaan. Begitu juga rambu jalan yang tidak berfungsi; Ketiga, faktor lingkungan jalan 1%. Kondisi lingkungan jalan yang kurang bagus, seperti embun, asap pembakaran, hujan deras, dan; Keempat, faktor manusia 90%. Human eror ini adalah penyebab utama kecelakaan.

Kalau kita perhatikan dengan benar penyebab utama laka lantas itu adalah faktor manusia, antara lain lemahnya kesadaran tertib berlalu lintas, menurunnya disiplin pengemudi dan lemahnya sistem pengawas transportasi di jalan dan di terminal, serta belum tersosialisasinya pengutamaan keselamatan publik. Hal ini menjadi langkah yang tepat bagi pemerintah untuk memasukkan pendidikan pengurangan risiko berlalu lintas di setiap sekolah yang ada di Indonesia. Semoga!

* Kiswanto, M.Si., Dosen Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh. Email: [email protected] (uri/syrafi/orat/AG)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id