Kasus Bentrok Warga Didamaikan | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Kasus Bentrok Warga Didamaikan

Kasus Bentrok Warga Didamaikan
Foto Kasus Bentrok Warga Didamaikan

LHOKSEUMAWE – Kasus bentrokan puluhan warga dari Desa Keude Bungkaih dengan Desa Paloh Awe, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara akhirnya didamaikan pihak kepolisian di Mapolres Lhokseumawe, Minggu (27/8). Kesepakatan perdamaian kedua pihak bertikai tersebut dibuktikan dengan penandatanganan surat pernyataan oleh kedua kubu di atas materai.

Masing-masing, Nazaruddin (30), dan Rusli Bin Usman (58), keduanya warga Desa Keude Bungkaih sebagai pihak yang memiliki hak menggarap sawah pemicu sengketa itu. Lalu, Eva Munandar (19), warga Desa Keude Bungkaih dan Muhamad Nasir (24), warga Desa Paloh Awe sebagai pihak yang memiliki tanah sawah tersebut. Proses damai itu juga disaksikan aparat dari kedua desa tersebut, plus sejumlah warga lainnya.

Untuk diketahui, puluhan warga Desa Bungkaih bentrok dengan puluhan warga Desa Paloh, kecamatan yang sama di areal persawahan yang masih bersengketa, kawasan Dusun Cot Jabet, Desa Paloh Awe, Sabtu (26/8) sekitar pukul 09.10 WIB. Bentrokan warga dua desa tersebut berhasil dilerai polisi setelah melepaskan tembakan ke udara belasan kali.

Mereka juga menyepakati, kasus sengketa tanah tersebut akan diselesaikan dengan bijak melalui tokoh masyarakat dan jalur hukum. Atas kejadian itu, mereka bersepakat juga tidak akan saling menuntut di muka umum dan juga berjanji tidak akan saling mengadukan penganiayaan yang terjadi pada Sabtu (26/8) kemarin kepada polisi.

“Mereka juga menyepakati, apabila ke depan ada pihak yang melakukan penganiayaan, pelakunya akan diproses sesuai prosedur hukum yang berlaku,” ujar Kapolres Lhokseumawe, AKBP Hendri Budiman melalui Kasat Reskrim AKP Budi Nasuha kepada Serambi, kemarin. Kasat Reskrim meminta kepada kedua pihak supaya saling menjaga agar persoalan serupa tak terulang lagi di masa mendatang.

Menurut Kasat Reskrim, selama tiga bulan terakhir sudah ada empat kasus penganiayaan yang ditangani pihaknya karena persoalan sengketa kasus persawahan tersebut. Dua kasus di antaranya sudah dilimpahkan ke kejaksa karena berkasnya sudah lengkap (P21) dan dua lagi masih dalam proses penyidikan. “Empat kasus itu kita tangani selama tiga bulan saya di Polres Lhokseumawe,” ujar AKP Budi.

Informasi lain yang diterima Serambi, Muspika Muara Batu bersama aparat dari dua desa dan juga kabag terkait di Pemko Lhokseumawe sudah menemui pihak Pengadilan Negeri (PN) untuk meminta penjelasan atas putusan Mahkamah Agung (MA) dalam kasus sengketa tanah sawah tersebut. Karena MA menyatakan putusan itu Niet Ontvankelijke Verklaard (NO) atau tidak dapat diterima. Namun, hakim tidak bisa memberikan penjelasan pasti.(jaf) (uri/leny/andraini/GC)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id