Ekonomi Aceh dalam Imajiner | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Ekonomi Aceh dalam Imajiner

Ekonomi Aceh dalam Imajiner
Foto Ekonomi Aceh dalam Imajiner

Oleh Said Achmad Kabiru Rafiie

SATU ironi bagi bangsa Aceh yang pernah menjadi bangsa pengendali perdaganggan di selat Malaka termasuk Malaysia, Singapore, Johor, Selatan Philipina, hingga selatan Thailand bagian kesultanan Aceh. Aceh telah membelanjakan lebih dari Rp 40 triliun dana Otonomi Khusus (Otsus). Namun perekonomian Aceh belum mampu memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya. Buktinya banyak warga Aceh kini sedang berjuang mencari nafkah di negeri orang.

Patut di catat kemajuan Aceh pada abad ke 16 merupakan satu land mark (titik tolak) untuk membangkitkan kembali semangat kegigihan pedagang Aceh yang memudar, terkuras oleh perubahan jaman. Ekonomi Aceh kehilangan arah kompas pembangunan, dan kita tidak belajar dari sejarah keruntuhan sebuah bangsa dimulai dari keruntuhan ekonominya.

Lihat saja sejarah Uni Soviet yang dijuluki sebagai Negara Beruang Putih, pada era 1990-an bubar menjadi 17 keping Negara di semenanjung Balkan. Ini bukan karena hantaman bom atom atau serbuan pasukan musuh, namun karena penyakit ekonomi inflasi dan penganguran yang tinggi akibat belanja Negara yang tidak profesional dan proporsional.

Bagaimana ekonomi Aceh setelah dana otsus habis pada 2027 nanti? Apa yang akan terjadi jika pengeluaran lebih besar dari pendapatan? Mampukan Aceh menciptakan jalur perdagangan di Asia Tenggara dan meletakan kembali kejayaan perdagangan dengan fondasi masa lalu sebagai pusat komoditi dagang Asia Tenggara?

Mari mengingat ekonomi Aceh dalam dunia imajiner, seolah-olah kita hidup 400 tahun yang lalu. Bandar Aceh, Lamuri, tempat lalu lalang porselin, kain sutra dari penjuru timur dan senjata, ukiran kaca, alat-alat perunggu dari dunia barat datang membuka dagangannya di pelabuhan Aceh. Sebagai gantinya, lada, emas, dan gading gajah aceh menjadi komoditas unggulan dari Aceh.

Komoditi terbaik
Aceh memiliki segalanya komoditi terbaik dunia, perkebunan sawit pertama di dunia di Sungai Liput Aceh Tamiang 1911, karet terbaik di Meulaboh, pinang di Bireuen, kakoa Pidie Jaya, beras Tangse, pade sigupai Aceh Barat Daya, Kopi Gayo, Cengkih Simeulue, Pala Aceh Selatan, nilam Teunom, termasuk buah alpokat, hingga mungkin jika menjadi komoditi ganja. Sederetan komoditi ini telah diakui dunia sebagai yang terbaik.

Namun ada yang hilang di Aceh, yaitu semangat karena bangsa yang besar dibangun oleh semangat rakyatnya yang berkobar kobar untuk perubahan. Aceh telah mengubur semangat besar pemimpin yang mendirikannya Sultan Ali Mughayat Syah (1496). Hanya batu nisan peningalan kemasyurannya yang tersisa bertebaran diseantero Asia Tenggra. tidak lebih sekedar batu nisan untuk mengingat mereka yang pernah Berjaya. keturunanya tidak mampu mempertahankan kemasyuran leluhurnya dan membawa masyarakatnya adil, makmur dan sejahtera. Kini menjadi bangsa yang terlunta-lunta di tengah hujan uang Otsus di negerinya.

Di tengah kelesuan ekonomi seperti sekarang ini, Aceh membutuhkan gaya leadership baru dari gubernur dan bupati/wali kota yang telah dipilih oleh rakyat Aceh dalam Pilkada 15 Februari 2017 lalu. Leadership yang mampu menyelematkan rakyatnya dari hantaman krisis terutama semakin gencarnya serangan produk luar yang tidak mampu disaingin oleh pedagang kita.

Telor dari Medan, minyak goreng juga medan, tepung terigu, pakan, garam, sederatan sembako semuanya dipasok dari luar daerah, lalu apa yang mampu kita hasilkan dari yang kita butuhkan. Sementara itu, daya beli masyarakat semakin menurun karena harga pertanian yang tidak stabil.

Dalam sebuah perekonomian dibutuhan faktor-faktor produksi, yaitu tenaga kerja, modal, sumber daya alam, dan kewirausahaan untuk menciptakan produk. Aceh membutuhkan tenaga kerja terampil, disiplin, bermotivasi tinggi, dan memiliki semangat juang. Tirulah tenaga kerja Jepang dalam bekerja karena mereka telah mengajarkan kepada dunia arti disiplin, dedikasi dan loyalitas kepada organisasi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh 2015, jumlah penduduk Aceh usia kerja 2.378.755 jiwa tinggal di perdesaan dan 1.061.879 jiwa tinggal di perkotaan. Pemimpin baru Aceh harus mampu memberdayakan 3 juta lebih angkatan kerja di Aceh dengan diberikan keterampilan, skill, sesuai master plan pembangunan Aceh sebagai pusat dagang Asia Tenggra 2032, maka tenaga kerja ini akan menjadi motor pengerak pembangunan Aceh.

Faktor kedua adalah ketersedian modal. Berdasarkan data Kajian Ekonomi Regional Bank Indonesia (BI) 2015, total aset perbankan di Aceh mencapai Rp 45,8 triliun. Namun dalam proporsi kredit 59,37% kredit bank untuk kegiatan konsumtif. Hal ini menunjukan perilaku konsumtif masyarakat Aceh dengan mengunakan kredit bank.

Untuk menjadi bangsa pedagang, perlu perubahan perilaku konsumtif menjadi produktif dengan mengunakan modal bank untuk kegiatan modal kerja dan investasi. Aceh butuh leadership yang mampu mengajak masyarakat untuk terjun ke sawah, kebun, ladang, kolam, laut, dan berniaga.

Zaman keemasan
Sedangkan faktor sumber daya alam, Aceh sudah terkenal sebagai Negara yang kaya akan komoditi dunia, zaman keemasan Bandar Aceh dalam perdagangan komoditi dikupas sejarawan Barbara Watson Andaya Dkk 2015 (A History of Early Modern Southeast Asia 1400-1830) Aceh’s a bridge for a connection with the Islamic world, Persian empire, Muhgal and ottoman empire.

Monopoli Aceh di Selat Malaka oleh Young Alexander -Sultan Iskandar Muda (1607-1636), menjadikan Bandar Aceh sebagai tempat transit komoditi di Asia Tenggar. Untuk mewujudkan cita-citanya, Sultan Iskandar melahirkan angkatan laut terkuat di kerajaannya. Kini status tersebut disandang oleh Singapura. Dapatkah pemimpin baru mengembalikan status Aceh masa lalu?

Sedangkan faktor produksi terakhir yang sangat penting untuk mengulang sejarah zaman kejayaan perdagangan Aceh adalah kewirausahaan. Faktor ini berkaitan dengan manajemen kepemimpinan dalam mengelola bisnis atau organisasi untuk mencapai tujuan. Leadership Aceh, leadership yang mewarisi sifat-sifat founding father Aceh, sifat sifat kepemimpinan yang merangkul, maju bersama, mengasihani dan mengayomi masyarakat Aceh.

400 Tahun yang lalu, Aceh memiliki sultan yang beristrikan putri Pahang. Mungkin ini mencerminkan leadership global Sultan Aceh; bagaimana menciptakan komunitas masyarakat plural. Kini, roda sejarah berputar, alam imajiner kita berharap zaman dan waktu itu akan terulang kembali. Mengutip Karl Marx, history repeats it self, first as tragedy, second as farce (Sejarah berulang pertama sebuah tragedi atau kedua sebagai lelucon). Nah!

* Said Achmad Kabiru Rafiie, SE, MBA., Dosen Manajemen Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh, penerima Beasiswa Doktoral LPSDM Aceh (PhD Student University Sains Malaysia). Email: [email protected] (uri/atrya/ratama/SP)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id