Darwati A Gani: Wah, Itu Paling Menegangkan | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Darwati A Gani: Wah, Itu Paling Menegangkan

Darwati A Gani: Wah, Itu Paling Menegangkan
Foto Darwati A Gani: Wah, Itu Paling Menegangkan

Hebat. Hati-hati buk. Sehat selalu ya buk. Keren. Mantap. Ka geupo lom (sudah terbang lagi).

ITULAH beberapa komentar netizen ketika menyaksikan tayangan langsung melalui akun facebook Darwati A Gani, saat dirinya terbang bersama Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, saat kembali menuju Banda Aceh dari kunjungan mereka ke Lhokseumawe pada peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas), Selasa (22/8). Siaran langsung itu sekira pukul 18.00 WIB di hari yang sama. Sedangkan mereka berangkat ke Lhokseumawe pada pukul 07.00 dan tiba pukul 08.30 WIB, tidak disiaranlangsungkan.

Komentar-komentar itu boleh jadi mewakili perasaan kita juga. Bagaimana rasanya terbang ya? Tidak ngeri? Atau mungkin kita menjadi kepo (ingin tahu saja) juga, karena pasangan ini adalah public figure. Pilotnya gubernur dan penumpangnya istri gubernur. Tapi, bagaimana ya cerita first lady Aceh ini terbang dengan pesawat ringan Eagle One bertagline Hanakaru Hokagata yang dipiloti suaminya itu?

Saat kampanye Pilkada lalu, orang tua dari lima anak ini, untuk yang pertama kali terbang bersama, dari Banda Aceh ke Lhokseumawe, pulang pergi. “Takut ndak?” tanya Serambi. “Wah itu paling menegangkan. Bukan saya saja. Tapi Abang (Irwandi Yusuf-red) juga deg-degan. Soalnya, itu pertama kali Abang membawa saya. Tapi kami saling menguatkan, dan berpasrah kepada Allah,” ungkap mantan anggota DPRA ini.

Kini, ia mengaku tak gentar lagi terbang bersama suami, yang memang sudah berpengalaman dan punya izin terbang. Sudah bukan sekali dua, Ketua Dekranas Aceh yang kekiniannya akrab dengan media sosial ini, terbang bersama. “Ya, terkadang Abang juga suka ganggu-ganggu saya, saat usilnya datang. Eh, tiba-tiba dia buat manuver di udara. Bisa terbang sampai rendah sekali,” sebut Darwati kepada Serambi, Selasa (22/8) malam lalu.

Darwati yang juga pernah memvideokan “Negeri Seribu Bukit” dari udara, penampilan Saman Gayo yang memecahkan Rekor Muri itu, membenarkan, bahwa sekali-kali perasaan takut pasti ada. Bila terjadi guncangan dan masuk ke awan yang agak gelap, toh ia kecut juga. “Pasti semua doa habis terbaca saat itu. Ya sekali-kali juga terlintas, gimana kalau ada musibah? Jatuh misalnya. Tapi bila pikiran itu terlintas, saya langsung istighfar dan berzikir aja, dan meyakini bahwa umur itu ada ditangan Allah, jadi bisa diambil-Nya kapan saja.”

Perempuan yang akrab dengan kostum dan hijab orange ini tak lupa memaparkan bagaimana suatu kali terbang dalam cuaca buruk. Awan tebal dan hujan pula. Tak dipungkirinya bahwa situasi itu membuatnya berdebar. Penutup tubuh pesawat yang tembus pandang, membuat dirinya bisa melihat langsung detik-detik derasnya hujan menerpa pesawat, bagai mengalir langsung di atas dirinya dan Irwandi. Bayangkan, dengan pesawat kecil kapasitas dua orang dan terombang dalam hujan lebat dan awan tebal dengan suasana langit yang redup pula. Kalau sudah seperti ini, hanya satu usaha yang dilakukan Darwati. Apa? Pasrah dalam doa, dengan harapan mudah-mudahan cepat berlalu.

Namun dalam situasi dan kondisi bagaimanapun, Darwati akan selalu memetik pelajaran, pengetahuan, sebagai bekal diri. Acap kali saat landing dia selalu bertanya pada sang pilot. “Kalau keadaan seperti tadi apa berbahaya?” Lalu pilot cintanya pun menjawab, “aman. Yang penting jangan panik. Kita yang kendalikan pesawatnya (seperti diulang Darwati kepada Serambi).”

Rasa syukur dan takjub
Keseringan terbang bersama Pak Gubernur Aceh yang sangat dipercayainya itu, Darwati akhirnya merasa terbiasa terbang rendah dan menyatu dengan Eagle One, yang bertagline, Hanakaru Hokagata. Ia bahkan bagai mulai ketagihan saja. Mulai mencintai Eagle One juga. Tentu karena diam-diam menikmati penerbangan dengan rasa syukur dan takjub. Betapa kebesaran Allah dalam setiap ciptaan-Nya.

“Nah, kalau terbangnya saat cuaca baik dan cerah, saya jadi menikmati sekali melihat pemandangan hijau di bawah, melihat laut, kadang saya juga selfie dengan latar belakang Gunung Seulawah. Kadang juga terbang di atas awan yang tinggi. Lalu, saat mau Magrib, saya melihat sunset yang indah sekali di balik awan. Subhanallah. Tak terkatakan.”

Apa arti naik pesawat bersama suami bagi Darwati? Yang pertama, menurutnya, bukan bermewah-mewahan. Dengan pesawat banyak membantu suami istri ini dalam menyelesaikan tugas pemerintah. Sangat menghemat waktu, dan tenaga. “Murah lagi biaya operasionalnya. Sering ada musibah-musibah di lapangan, kami bisa langsung bisa mengunjugi lokasi.”

Dalam gambar tanyangan senja, Selasa (23/8), dari tempat duduknya Darwati sempat melambai penonton dalam senyum tipisnya. Tersirat raut yang hendak mengatakan, “Hai, ini kami sedang terbang. Doakan ya.” Benar. Ternyata setelah landing dan membuka kembali siaran langsungnya, Darwati merasa haru juga. Keinginannya tercapai. Banyak yang mendoakan keselamatannya. Itu sebabnya ia sengaja mem-posting perjalanan udara itu untuk rakyatnya.

“Saya sengaja buatkan live di FB dan Instagram. Biar masyarakat juga bisa ikut menikmati dan mengetahui gimana rasanya terbang rendah dengan pesawat kecil. Entah kenapa, saya hanya ingin berbagi saja. Tidak ada niat ria juga. Hanya berbagi momen kebersamaan kami berdua. Ingin memperlihatkan suasana yang sebenarnya saat lagi terbang. Alhamdulillah kami dapat bonus terbang, banyak yang mendoakan kami,” komen Darwati.

Menurut amatan Serambi, memang ada satu dua yang sinis dari sejumlah postingan Darwati. “Yah, itu biasalah,” tandas Darwati mengakhiri obrolan kami, pada menjelang larut malam itu. (nani hs) (uri/homas/ebriani/TF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id