Eumpang Breuh Garap Film ‘Jantong Hate’ | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Eumpang Breuh Garap Film ‘Jantong Hate’

Eumpang Breuh Garap Film ‘Jantong Hate’
Foto Eumpang Breuh Garap Film ‘Jantong Hate’

BANDA ACEH – Grup Eumpang Breuh sedang menggarap film ‘Jantong Hate.’ Film ini mengisahkan tentang tiga pemuda yang bersaing untuk merebut hati seorang guru yang sedang bertugas di desa mereka. Guru yang memiliki paras cantik itu ditugaskan untuk mengajarkan warga di gampong Haji Uma tersebut agar bebas dari buta aksara.

Film yang disutaradarai Ayah Doe ini dimeriahkan pemain lama seperti Haji Uma (Sudirman), Kak Bungsu, Adun Jelas (Mukhtar Abdullah), Kabayan (Oni Suwarman), dan Syeila (Syarifah). Tak ketinggalan pemain-pemain baru, antara lain Desy (Nida Uljannah), Si M (Muha), Akop (Safari), Daud (Muhammad Daud), Ayi Suntana (Hasbi), dan Pak Keuchik (Saleh).

“Untuk edisi pertama, kita cetak 15 ribu keping dan pada H-2 Idul Adha compact disc (CD)-nya sudah beredar di pasaran. Masyarakat bisa memperoleh kasetnya di toko-toko VCD terdekat,” ujar Asisten Sutradara, Muhammad Daud, kepada Serambi, Sabtu (26/8). Dikatakan, cover CD film itu dicetak di percetakan PT Aceh Media Grafika (Serambi Indonesia), sementara CD-nya di Jakarta.

Film yang mengambil lokasi syuting di Lhokseumawe dan Banda Aceh ini, kata Daud, menceritakan tentang ibu guru berparas cantik yang bernama Desy disukai oleh banyak pemuda di desa itu. “Ada tiga pemuda yang ingin merebut hati Desy yaitu Si M, Akob, dan saya sendiri yang berperan sebagai toke arang yang kaya di desa itu,” jelas Muhammad Daud.

Ditambahkan, alur cerita film itu makin menarik dengan adanya dugaan bahwa keuchik yang diperankan Shaleh juga ingin merebut hati Desy. “Pak keuchik sering menjenguk Desy dan menanyakan kabar apakah ada gangguan dari masyarakat atau tidak. Jadi Si M dan Akob beranggapan pak keuchik juga suka pada bu guru, sehingga dilaporkan ke istrinya,” tambah Daud.

Tidak ketinggalan, dalam film ini Haji Uma juga bermain dengan perannya seperti pada film-film Eumpang Breuh sebelumnya yaitu orang kaya yang pelit dan bengis. Namun, ia cukup menghargai ibu Desy yang mau membebasakan warga desa itu dari buta aksara. “Adegan-adegan dalam film ini jelas akan memberi hiburan kepada masyarakat,” demikian Muhammad Daud.(una) (uri/ilati/sra/MU)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id