Pungli JCH Dibantah | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Pungli JCH Dibantah

Pungli JCH Dibantah
Foto Pungli JCH Dibantah

BANDA ACEH – Pernyataan Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf tentang terjadinya pungutan liar (pungli) terhadap jamaah calon haji (JCH) asal Aceh di Mekkah, secara tegas dibantah oleh Jamaluddin Affan yang sebelumnya diinisialkan Jm. Jamal juga menantang Gubernur Irwandi meminta rekaman telepon terkait laporan ia melakukan pungli.

Kabar tentang terjadinya praktik pungli tersebut dirilis Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf di laman Facebook-nya, Kamis (24/8).

Beberapa jamaah calon haji (JCH) asal Aceh yang kini sudah berada di Arab Saudi mengaku dimintai sumbangan uang masing-masing senilai 100 rial Saudi (sekitar Rp 360.000). Irwandi menyebut tindakan ini sebagai pengutipan ilegal atau pungutan liar (pungli).

“Saya tegaskan, itu ilegal. Saya minta jamaah yang telah menjadi korban melaporkan kepada pihak berwajib di Saudi agar pelaku dihukum sesuai hukum yang berlaku di sana,” tulis Irwandi dalam status yang diberi judul “Kutipan Dana dari Jamaah Haji itu Ilegal”.

Informasi yang dirilis Gubernur Irwandi Yusuf dikutip Serambi dan disiarkan menjadi berita utama edisi Jumat (25/8). Berita itu langsung mendapat respons dari berbagai kalangan, tak terkecuali dari Jamaluddin Affan (Jamal) yang disebut-sebut melakukan pungli.

“Minta ke gubernur, mana rekaman telepon dari jamaah yang dengan lancang menulis di koran dan Fb,” kata Jamal kepada Serambi melalui pesan layanan WhatsApp, Jumat (25/8).

Sepanjang hari kemarin, Serambi terus berkomunikasi dengan Jamal menanyakan apa tujuan pengutipan dana tersebut.

Jamal tidak menjawab secara langsung, tetapi ia mengirimkan rekaman saat ia berpidato di depan JCH Aceh kloter 6 pada pukul 08.00 Waktu Arab Saudi (WAS), Kamis 24 Agustus 2017. Pidato itu juga disampaikan kepada jamaah kloter lain, mulai kloter 1 sampai 6.

Menurut Jamal, rekaman itu bukan miliknya tapi milik seorang wartawan yang tergabung dalam kloter 5 yang kebetulan merekam tanpa sepengetahuannya.

Saat Serambi meminta rekaman itu untuk dikutip, Jamal mempersilakan untuk disiarkan, baik untuk media cetak maupun elektronik. “Silakan, dan boleh juga disiarkan di TV, radio, dan juga yang lainnya,” tulis Jamal melalui WhatsApp.

Isi pidato
Dalam pidato itu, Jamal menceritakan tentang Habib Bugak (tokoh Aceh) pewakaf baitul asyi. Ia menyebutkan, beberapa dekade lalu, Habib Bugak dan jamaah lain dari Aceh telah bersusah payah datang ke Mekkah melalui kapal laut untuk beribadah haji. “Kemudian bisa mewakafkan hartanya yang kita nikmati sampai saat ini,” kata Jamal dalam pidato tersebut.

Jamal kemudian menanyakan kepada seluruh jamaah, barangkali ada jamaah yang mau mewakafkan kembali dana wakaf Habib Bugak yang diterima sebesar 1.200 rial per jamaah. “Kami tidak memaksa, barangkali setelah mengambil 1.200 rial, mau mewakafkan 100 rial atau seberapa ikhlas bapak dan ibu,” sebut Jamal dalam pidatonya. Ia menjelaskan dana tersebut akan digunakan untuk membuat badan wakaf jamaah haji Aceh.

“Bukan nambah Habib Bugak itu, Habib Bugak tetap ada satu, kemudian ada satu lagi yang kita buat di Aceh, tapi belum terbentuk Bu, Pak, ya?,” jelasnya, masih dalam pidato yang sama.

Selain untuk badan wakaf baru, Jamal juga menjelaskan dana yang diwakafkan oleh para jamaah akan digunakan untuk membayar mahasiswa atau orang-orang Aceh yang belajar di Arab Saudi, yang membantu atau mengawal para jamaah Aceh saat melakukan tawaf dan sa’i, hingga kembali ke hotel.

“Tapi ini tidak kami paksa, ini kerelaan. Kira-kira pertanyaannya, ada nggak niat keihlasan ibu bapak untuk mewakafkan sedikit, setelah mengambil dana baitul asyi ini,” tanya Jamal yang dijawab ikhlas oleh para jamaah secara serentak.

Jamal kembali menegaskan dana wakaf yang akan diwakafkan itu bukan paksaan. Petugas kloter pun tidak boleh memaksa para jamaah. “Siapa yang mau memberi silakan, yang tidak juga tidak apa-apa, ingat ya ini tidak ada paksaan. Seberapapun, ini hanya saran dari saya. Kalau memang rela, 100 rial, kalau nggak 50, satu rial pun tidak apa-apa, kita sedekah ya, jangan dipaksa,” tegasnya.

Masih dalam pidato itu, Jamal juga mengatakan apa yang dilakukannya tidak diperintah oleh siapapun. “Rencana kita ini untuk buat satu badan wakaf jamaah haji Aceh, nanti Bapak Ibu ikhlas silakan serahkan kepada karu dan karom yang nanti akan diserahkan ke ketua kloter. Nanti diserahkan ke saya dan kita bawa pulang ke Aceh dan kita publikasikan ke koran berapa uang yang didapat,” pungkasnya.

Rekaman pidato itu dikirim langsung oleh Jamal kepada Serambi, sore kemarin. Rekaman itu juga tersebar di grup dan jaringan pribadi pesan layanan WhatsApp. “Saya minta untuk membersihkan nama baik saya, dan tidak perlu minta maaf ke saya,” tutup Jamal dalam pesan WhatsApp-nya kepada Serambi.

Tak ada kutipan
Sumber-sumber Serambi dari kalangan JCH Kloter 3 yang dimintai tanggapan soal isu pungli tersebut mengakui ada mendengar tentang pungutan itu tapi tidak dilakukan pada JCH Kloter 3.

“Tapi mungkin juga. Mungkin itu kloter lain ya. Kloter kami tidak ada,” kata sumber tersebut yang berkomunikasi dengan Serambi melalui fasilitas video call dan voice call WhatsApp.

Mengutip info yang didengarnya dari sumber-sumber lain di Arab Saudi, gagasan pungutan 100 rial tersebut baru sebatas wacana yaitu untuk membentuk wakaf jamaah haji Aceh oleh Kanwil Kemenag Aceh.

“Tapi oleh petugas Baitul ‘Asyi Arab Saudi mengatakan itu belum jelas bentuknya dan mereka tidak mau memotong begitu saja. Karena tidak ada wasiat apa-apa dari Abu Bugak dan teman-teman di Arab Saudi. Ya, jadi sampai saat ini tidak ada ketua regu yang meminta 100 rial itu kepada jamaah. Saya kira itu hanya wacana saja kok. Lagi pula wacana dari depag yang sedianya dikumpulkan sama ketua rombongan, terus belum jelas peruntukannya itu, ya gagal wacananya,” kata JCH tersebut.

Sumber itu kembali menegaskan, setau dia belum ada karu yang mengutip 100 rial di Kloter 3 karena belum jelas peruntukannya, seperti yang dijelaskan oleh Jamal yang bertugas di Baitul ‘Asyi. “Yang jelas, Baitul ‘Asyi telah membagikan kepada masing-masing jamaah uang 1.200 rial. Itu saja. Maaf ya, saya mau jumatan dulu,” pungkas pria yang yang tergabung dalam Kloter 3 asal Aceh Besar.(dan/una/nan) (uri/atih/artanto/RH)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id