Menyelamatkan ‘Suku Naga’ Aceh | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Menyelamatkan ‘Suku Naga’ Aceh

Menyelamatkan ‘Suku Naga’ Aceh
Foto Menyelamatkan ‘Suku Naga’ Aceh

Oleh Teuku Kemal Fasya

KALAU pementasan drama “Kisah Perjuangan Suku Naga” oleh Teater Assyifa di Taman Budaya Aceh, Banda Aceh, pada 12 Agustus lalu mendapatkan respons positif, cukup bisa dipahami. Pertama, masyarakat Aceh sangat rindu akan pelbagai wujud seni pertunjukan dan hiburan. Pementasan teater itu mewakili sunyinya seni pertunjukan di Aceh. Hadirnya pementasan dari naskah WS Rendra itu seperti oase yang menyejukkan. Menghujani musim el nino kesenian Aceh yang buruk dan panjang.

Kedua, meskipun di undangan disebutkan Teater Assyifa, sesungguhnya otak pementasan ini Teater Mae. Nama Mustika Permana dan Mahdalena telah menjadi “tanda dagang” bagi pementasan teater modern di Aceh. Upaya mereka membesarkan para seniman panggung yang rata-rata masih belia dari Teater Asyyifa itu cukup diancungi jempol. Ini menjadi jalan setapak yang jarang dilakukan oleh teaterawan Aceh. Apalagi desain pementasan ini bersifat kolosal. Perlu tata dialog, komposisi, blocking, dan pemunculan karakter yang merata agar tidak terfokus hanya pada pemain utama.

Ketiga, tema yang diangkat dalam kisah Suku Naga ini cukup kontekstual. Memang naskah aslinya sangat Sunda. Nama Kerajaan Astinam, Abivasam, Abivara, dan lain-lain, bukan nama tipikal Aceh. Namun plotting cerita dan dialog-dialog di dalam pementasan dapat digunakan untuk melihat realitas politik pembangunan Aceh hari ini.

Pementasan ini awalnya dibuat untuk menyentil pembangunan ala rezim Orde Baru. Ide pembangunan Orde Baru untuk menggantikan retorika revolusi dan politik Soekarno menjadi wacana yang histeris dan dipuji dunia saat itu, termasuk oleh Bank Dunia dan lembaga moneter dunia, IMF.

Sayangnya, ide pembangunan yang diusapkan saat itu, menurut Rendra mengandung pestisida. Ada banyak tumbal atas nama pembangunan. Salah satunya peminggiran kaum adat dan desa. Masyarakat desa hanya menjadi keset kaki pembangunan, hingga harus mengorbankan kebudayaan dan peradaban lokal.

Belum komprehensif
Jika dikontekstualisasikan di Aceh, Suku Naga menjadi metafora untuk seluruh masyarakat yang termarjinalkan di tengah era perdamaian saat ini. Seperti kita tahu proyek pembangunan Aceh belum komprehensif menutup luka-luka ketertinggalan. Etnis dan komunitas minoritas yang ditabalkan bukan “etnis pejuang” masih harus berjuang sendiri memperbaiki nasib agar sama seperti “etnis Aceh”: sebutan untuk etnis mayoritas.

Secara geografis bisa disimpulkan masyarakat di pedalaman-tengah dan pantai Barat-Selatan adalah minoritas. Merekalah Suku Naga itu. Data BPS Aceh 2015 ikut menunjukkan argumentasi ini. Tiga besar daerah termiskin ada di wilayah dari etnis minoritas (Gayo Lues, 21,95%; Aceh Singkil, 21,72%; dan Bener Meriah, 21,55%).

Namun ternyata definisi itu tidak cukup. Pengertian minoritas bukan hanya etnis, bahasa, agama, dan budaya yang secara numerik lebih inferior dibandingkan “sisa terbesar” masyarakat. Orang yang memiliki etnis, agama, dan budaya yang sama pun bisa menjadi minoritas oleh pelbagai sebab (Thomas W. Simon, 2012 : 71). Sebab paling utama adalah akses terhadap ekonomi dan politik yang terbatas. Daerah seperti Aceh Utara ada masyarakat yang sedemikian termarjinalkan seperti Kecamatan Pirak Timu. Demikian pula di Aceh Timur (Peureulak), Lhokseumawe (Blangmangat), atau Aceh Besar (Seulimum). Daerah itu menjadi miskin secara ekonomi dan kultural, dan terus terjadi tanpa kebijakan afirmatif.

Pertanyaan pentingnya, bagaimana membunyikan suara minoritas yang lamat-lamat hilang? Kita percaya pemerintahan baru Irwandi Jusuf dan Nova Iriansyah akan berbicara paling lantang tentang agenda kesejahteraan, tapi apa strategi dan metode perwujudannya?

Apakah ia akan mengulang model proyek gigantik dan megalomania “payung Transformer” Masjid Bayt ar-Rahman atau Flyover ala Zaini Abdullah-Muzakir Manaf, atau memilih cara yang lebih menyentuh orang-orang paling marjinal? Seperti ungkapan kepala Suku Naga, “Kemajuan bukan kemewahan. Kemajuan adalah kesejahteraan yang lebih merata.”

Tumbal pembangunan
Di Aceh, saat ini kita mudah menjumpai komunitas Suku Naga itu. Mereka menjadi masyarakat yang semakin miskin dan menderita akibat tumbal pembangunan. Merekalah yang paling kasat mata menghirup debu-debu rekonstruksi dan menjadi orang yang lama bisa menghayati kegunaan sebuah proyek. Jika pun mereka menjadi penggembira atas keberadaan proyek, tak lebih kebahagiaan palsu, sisa-sisa senyum orang-orang yang paling beruntung dalam pembangunan, yaitu elite dan kelas menengah.

Sebagai daerah yang sebagian besar penduduknya masih tinggal di perdesaan dan pedalaman, seharusnya pola pembangunan Aceh bisa menyentuh kepentingan mereka dengan cara pandang mereka tentang apa itu tujuan pembangunan. Pembangunan gampong dan seuneubok jangan mengikuti pola teknokratik untuk sentra industri, perdagangan, dan perkotaan. Gampong adalah sumber dari segala daya alam, maka perlakukanlah pembangunan di gampong hingga bisa terus produktif dan seimbang secara ekologis, kultural, dan ekonomis.

Jika arti pembangunan ialah membiarkan sesuatu bisa tumbuh dari apa yang kita rencanakan dan rekayasa melalui bantuan teknologi dan pengetahuan, maka pembangunan harus membuat sesuatu tumbuh, produktif, preservatif, bukan malah sebaliknya destruktif dan defisit.

Terakhir, pembangunan harus bisa memenangkan roh dan jiwa masyarakat yang dibangun. Jika postulasi pembangunan adalah untuk 99% rakyat, maka suara rakyatlah yang harus didengarkan. Jika ada suara komunitas adat yang menolak pembangunan, penting untuk direnungkan, apa yang salah dengan langkah pembangunan kita. Jangan diterabas. Kata-kata masyarakat Suku Naga penting disadari. Masyarakat desa sebenarnya lebih mementingkan adat dan tradisinya bisa lestari dari pada mengubah desanya menjadi kota. “Kita hanya ingin menjaga kepribadian. Kita hanya ingin menjaga ruh dan alam. Kita hanya ingin menjaga diri agar keserakahan tidak merusak kita.”

Teuku Kemal Fasya, antropolog Aceh. Email: [email protected] (uri/wi/ovi/ovianti/DNN)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id