Petani Garam Aceh Terjerat Kemiskinan | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Petani Garam Aceh Terjerat Kemiskinan

Petani Garam Aceh Terjerat Kemiskinan
Foto Petani Garam Aceh Terjerat Kemiskinan

* Terungkap pada Seminar Nasional Kemaritiman di USM

BANDA ACEH – Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Serambi Mekkah (USM) Banda Aceh, Kamis (24/8) menggelar Seminar Nasional bertema ‘Ekplorasi Kekayaan Maritim Aceh di Era Globalisasi dalam Mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia.’ Isu tentang petani garam yang masih terjerat kemiskinan ikut terangkat dalam seminar yang menghadirkan tiga guru besar dari tiga lembaga pendidikan tinggi terkemuka di Indonesia.

Ketua LPPM USM, Saisa ST MT selaku penanggung jawab kegiatan melaporkan, seminar membedah isu kemaritiman tersebut menghadirkan tiga guru besar dan seorang doktor sebagai narasumber, yaitu Prof Dr Ing Misri Gozan, M Tech IPM dari Universitas Indonesia (UI) mengupas pengembangan produk biokimia berbasis kelautan skala industri, Prof Dr Ir Indra Jaya MSc dari Institut Pertanian Bogor (IPB) tentang penguasaan teknologi akustik, instrumentasi dan robotika kelautan bagi kejayaan maritim Aceh, Prof Dr Yety Rochwulaningsih MSi dari Universitas Diponegoro (Undip) mengupas tipologi dan upaya pengembangan garam rakyat di Aceh, serta Dr Muslem Daud MEd dari USM Banda Aceh membahas mengenai peluang dan tantangan pendidikan di wilayah pesisir Aceh.

“Saya berharap seminar ini dapat memberikan manfaat seluas-luasnya kepada kita semua, khususnya dari paparan potensi maritim Aceh,” kata Rektor USM, Dr Abdul Gani Asyik MA dalam sambutannya di hadapan narasumber, peserta dari kalangan mahasiswa, dan pembicara kunci dari kementerian kemaritiman yaitu Direktur Jasa Kelautan KKP, Ir Freude Tp Hutahaean MSi.

Direktur Jasa Kelautan KKP, Freude Tp Hutahaean mengupas antara lain tentang ketersediaan potensi garam di Indonesia yang menurutnya perlu terus didorong agar memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri. “Perlu terus didorong agar petani garam memiliki lahan tambak seluas 15 hektare untuk satu produksi sehingga secara kualitas dan kuantitas garam kita dapat memenuhi kebutuhan pasar dan seragam. Kita akan sediakan gudang dan infrastruktur, karena itu perlu kerja sama dengan kampus dan mahasiswa dalam meningkatkan kuantitas dan kualitas garam,” tandas Freude.

Guru Besar Undip, Prof Dr Yety Rochwulaningsih MSi mengungkapkan pelaku tambak garam di Aceh masih didominasi perempuan usia tua dan miskin. “Tidak ada petambak garam hidupnya sejahtera, jadi secara sosial ekonomi hidupnya benar-benar miskin karena itu pemerintah wajib menampungi kehidupan mereka agar menjadi lebih baik,” kata Yeti.

Menurut Yeti, potret petambak garam di Aceh masih subsistem, masih sekadar mempertahankan hidup, belum berpikir untuk projek sistem, karena itu ia mengharapkan bagaimana Aceh mendapatkan dukungan dari Pemerintah Pusat dalam hal ini Kementerian Kemaritiman dan Kelautan.

“Perlu didorong agar Pemerintah Aceh membuat regulasi yang simpel dengan Pemerintah Pusat untuk pembagian lahan tambak rakyat agar petani bisa hidup lebih sejahtera lagi. Saya sangat mendorong USM menindaklanjuti seminar ini dengan membentuk sebuah pusat kajian yang interdisipliner di bawah USM untuk mendorong riset dan kajian penelitian yang nantinya bisa bekerja sama dengan Undip, UI, dan IPB,” demikian Yety Rochwulaningsih yang juga sejarawan maritim ini. (nas) (uri/atih/artanto/RH)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id