Nasionalisme Thailand yang Tiada Duanya | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Nasionalisme Thailand yang Tiada Duanya

Nasionalisme Thailand yang Tiada Duanya
Foto Nasionalisme Thailand yang Tiada Duanya

OLEH NADIA ISNAINI, Mahasiswi Internasional Program Master Bidang Cosmetic Science di Prince of Songkla University, melaporkan dari Thailand

PELAJARAN berharga kali ini saya dapatkan di Thailand. Saya baru tiba Hatyai, salah satu kota di Thailand Selatan, untuk melanjutkan studi S2 saya di bidang farmasi. Rasa kagum saya berawal ketika saya sarapan di kantin kampus (rongchang) bersama beberapa teman. Tepat pukul 08.00, tiba-tiba seluruh penghuni kantin berdiri. Hal ini memimbulkan pertanyaan besar dalam benak saya. Usut punya usut ternyata pada pukul 08.00 Lagu Kebangsaan Thailand sedang diputar di televisi, dan mereka berdiri untuk menghormatinya.

Tidak hanya sekali, setelah duduk sesaat, mereka kembali berdiri karena mendengar lagu kebangsaan kembali diputar melalui radio. Wah, cukup luar biasa penghormatan mereka terhadap negara, bukan? Lagu Kebangsaan Thailand akan diputar di berbagai media elektronik setiap hari pukul 08.00 dan 16.00 waktu setempat.

Awalnya, Thailand dikaitkan dengan sebuah kerajaan yang berumur pendek, yaitu Kerajaan Sukhothaiyang yang didirikan tahun 1238. Kerajaan ini kemudian diteruskan Kerajaan Ayutthaya yang didirikan pada pertengahan abad ke-14 yang berukuran lebih besar dari kerajaan sebelumnya.

Kebudayaan Thailand dipengaruhi kuat oleh Tingkok dan India. Pada abad ke-16 Thailand mengalami beberapa tekanan kuat dari berbagai negara besar di Eropa, seperti ancaman kekerasan. Namun Thailand tetap bertahan menjadi satu-satunya dengara di Asia Tenggara yang tak pernah dijajah oleh negara-negara di Eropa.

13 Oktober 2016, Raja Thailand Bhumibol Adulyadej meninggal dunia pada usia 88 tahun setelah sakit beberapa tahun terakhir. Raja yang banyak dihormati di Thailand ini merupakan raja yang paling lama berkuasa di dunia. Bhumibol berkuasaa pada 9 Juni 1946. Ia lahir di Cambridge pada 5 Desember 1927 ketika ayahnya, Pangeran Mahidol Adulyadeh, sedang berkuliah di Universitas Harvard.

Perayaan 70 tahun takhtanya pada Kamis 7 Juni 2016 berlangsung denga dibayang-bayangi kesedihan karena kesehatannya yang terus memburuk dan tidak dapat tampil di depan umum. Raja Bhumibol Adulyadej selalu menempatkan dirinya berada di atas politik walau sering menjadi penengah dalam ketegangan politik untuk menemukan solusi tanpa kekerasan. Kesejahteraan rakyat di bawah kekuasaannya sangat terjamin. Hal ini membuat berita kematiannya sungguh seperti petir di siang bolong. Seluruh masyarakat Thailand berduka cita sedalam-dalamya dan hanya menggunakan pakaian bercorak gelap selama setahun terakhir ini.

Jadi jangan pernah berharap melihat masayarakat Thailand menggunakan pakaian berwarna cerah untuk saat ini, karena mereka masih bersuka. Kecintaan rakyat Thailand kepada negara dan rajanya sangat perlu dicontoh oleh masyarakat Indonesia. Sebaiknya itu dimulai dari Aceh. (uri/syrafi/orat/AG)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id