Masjid Almunawarah, Tadinya Mushalla | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Masjid Almunawarah, Tadinya Mushalla

Masjid Almunawarah, Tadinya Mushalla
Foto Masjid Almunawarah, Tadinya Mushalla

Belasan tahun menjadi mushala, Masjid Almunawarah, Subulussalam, kembali difungsikan sebagai masjid pada tahun 2003, yaitu saat pemekaran desa di Subulussalam.

Bagi masyarakat Subulussalam, Almunawarah menjadi masjid yang sangat strategis, karena terletak di jantung kota, tepatnya Jalan Syekh Hamzah Fansury, Desa Subulussalam Selatan, sekitar seratus meter dari pertigaan Tugu Simpang Rundeng.

Baik pelintas dari Kecamatan Runding, maupun masyarakat Aceh dari arah Meulaboh menuju Medan, Sumatera Utara, akan ketemu dengan Masjid Almunawarah.

Dulu, tahun 1983 masjid ini bernama Jamik, yang mana daerah ini masih berinduk ke Kabupaten Aceh Selatan. Namun diganti menjadi Almunawarah oleh Ustaz Abu Sulaiman semasa daerah ini masih dalam wilayah Kabupaten Aceh Singkil.

Berdirinya Masjid Almunawarah ini diprakarsai sejumlah tokoh antara lain H. Raja Ulasi yang kala itu menjabat sebagai Camat Simpang Kiri era tahun 1983-an, H. Baihaqi Kombih Kepala KUA Runding bersama rekannya Khuzaini Jakfar dan H. Abdul Muluk.

Masjid yang berada di sebelah kiri jalan menuju Rundeng ini sebelumnya difungsikan sebagai mushalla sekitar tahun 1990-an. Karena dibangunnya masjid Asilmi di Jalan Teuku Umar sebagai masjid besar di Subulussalam. Tapi kini Almunawarah tampil sebagai masjid lagi.

Almunawarah memiliki halaman parkir yang relatif luas serta suasana nyaman dan adem. Masjid yang berdiri di atas lahan setengah hektar lebih ini mampu menampung seribu lebih jamaah.

Semula, ukuran masjid almunawarah seluas 12×12 meter dengan satu kubah. Diperluas menjadi 25×25 meter dengan lima kubah (direncanakan). Namun, sejauh ini kubah masjid tersebut baru dapat dipasang dua unit saja. Sisanya terkendali dana.

Masjid kebanggaan masyarakat Subulussalam Selatan sekarang berlantai dua. Sesuai rencana bangunan Masjid Almunawarah diperkirakan membutuhkan dana minimal Rp2 miliar lagi.

Kebutuhan itu untuk perlengkapan lantai dua. Misalnya granit, plafon, pagar stainles, cat, dan sajadah. “Kalau diperkirakan kami masih butuh sekitar dua miliar lagi dana untuk menyelesaiakan pembangunan masjid ini,” kata H. Muhammad Yusuf Beranjak Ketua BKM Masjid Almunawarah kepada Serambi Selasa (22/8).

Seperti penuturan Ketua BKM Masjid Almunawarah, H. Muhammad Yusuf Beranjak, yang akrab disapa H.Beranjak, masjid ini memang sudah berfungsi sebagai tempat shalat dan banyak fasiltas keagamaan. Bahkan, berbagai even Kota Subulussalam termasuk Provinsi Aceh digelar di masjid Almunawarah.

Almunawarah direnovasi pada tahun 2009 dan peletakan batu pertama dilakukan oleh Wakil Gubernur Aceh Muhammad Nazar, S.Ag, pada 15 Juni 2009. Dengan kepanitiaan:

HM. Layari Kombih (almarhum), (Ketua Panitia), Ustaz Jamhuri (Sekretaris), H.Taher Barat (Bendahara), HM. Yusuf Beranjak Berutu (Ketua BKM), dengan Sekretaris: Arni Indra.

Pihak masjid mengaku masih membutuhkan donasi guna membangun berbagai fasilitas lainnya untuk menunjang operasional masjid. MCK yang tersedia termasuk area parkir dan taman belum memadai. Setidaknya, dibutuhkan satu fasilitas parkir, MCK dan tempat wuduk di sudut arah mimbar masjid, termasuk tiga kubah lagi.

Nantinya diharapkan, Almunawarah dapat difungsikan untuk berbagai aktifitas keislaman selain shalat berjamaah. Misalnya kegiatan remaja masjid, dewan dakwah, dan syiar Islam lainnya. Almunawarah nantinya akan menjadi pusat pengkajian Islam di Subulussalam.(khalidin) (uri/evo/stuti/RA)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id