Khalilullah | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Khalilullah

Khalilullah
Foto Khalilullah

Oleh Abdul Gani Isa

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik (uswatun hasanah) bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia. (QS. al-Mumtahanah: 4)

KHALILULLAH yang berarti “kekasih Allah” merupakan gelar dan penghormatan tertinggi yang diberi Allah Swt kepada Nabi Ibrahim as. Pemberian gelar tersebut kepada Ibrahim, mengundang pertanyaan Malaikat kepada Allah Swt, “Ya Tuhan-Ku, mengapa engkau menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Mu (Khalilullah)? Padahal, Ibrahim selalu disibukan oleh urusan duiniawi berupa kekayaan (ternaknya yang banyak), dan keluarganya.” Lalu Allah Swt berfirman, “Janganlah engkau menilai hamba-Ku, Ibrahim ini dengan ukuran lahiriah semata, tetapi perhatikanlah isi hatinya dan amal baktinya.”

Untuk membuktikan firman-Nya, Allah mengizinkan para Malaikat untuk menguji keimanan, serta ketakwaannya Ibrahim. Ternyata kekayaan dan keluarganya, tidak menjadikan Ibrahim as lalai dalam menjalankan ketaatannya kepada Allah Swt.

Keikhlasan Ibrahim
Setiap tahun Ibrahim as mengurbankan ratusan hewan ternaknya. Teman dekat dan sahabat Ibrahim bertanya kepadanya: “Milik siapa ternak ini, kamu menyembelih begitu banyak, setiap tahun, bahkan bisa jadi mubazir. Ibrahim menjawab: Ternak ini milik Allah, tetapi saat ini milikku. Namun bila Allah Swt, sewaktu-waktu menghendakinya, aku akan serahkan semuanya. Jangankan ternak ini, bila Allah Swt nantinya meminta anak kesayangku Ismail, insya Allah akan kuserahkan juga.”

Menurut Ibnu Katsir, pernyataan Nabi Ibrahim as yang akan mengurbankan anaknya, jika dikehendaki Allah. Itulah yang kemudian dijadikan bahan ujian, yaitu Allah Swt menguji iman dan takwanya melalui mimpinya yang haq (benar), sebagaimana firman-Nya, “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu! Ia menjawab: Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. ash-Shaffat: 102).

Perintah Allah Swt, tesebut merupakan ujian yang berat bagi Ibrahim dan Hajar, apalagi Ismail satu-satunya anak yang dikaruniai Allah kepadanya, dalam usianya yang sudah lanjut, disuruh pula menyembelih di tangannya sendiri. Ketika Ibrahim mengajukan pertanyaan kepada anaknya Ismail, fandzur maza tara (bagaimana pendapatmu), Ismail menjawab; Ya abatif’al ma tu’mar satajiduni insya Allah minas shabirin (Wahai ayahku, kerjakan apa yang diperintahkan Allah, niscaya engkau akan mendapati aku di antara orang-orang yang sabar).

Secara manusiawi dan akal sehat, tidaklah mungkin orang tua menyembelih anaknya, namun hal itu telah dilakukan Ibrahim dengan penuh ikhlas. Karena keikhlasan itu pula Allah segera memerintakan malaikat untuk menarik/menggantikan Ismail dengan seekor kibas.

Pada saat itu, Malaikat jadi kagum, tak ada bandingannya dalam sejarah kehidupan umat manusia, seraya terlontarlah ucapan para Malikat: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Lalu Nabi Ibrahim menjawab: La ilaha Illallah Allahu Akbar. Selanjutnya disambut oleh Ismail: Allahu Akbar Walillahilhamd. Dari situ lahirlah Makkah al-Mukarramah dan Kakbah (Baitullah), menjadi kiblat umat Islam, Air Zamzam yang tak permah kering, sebagai tonggak sejarah “jasa” seorang wanita yang paling sabar dan tabah, yaitu Hajar dan putranya Ismail as.

Itulah potret keluarga idaman, tidak hanya Ibrahim dan Hajar begitu taat dan disiplin menaati perintah Allah, justeru anaknya Ismail juga begitu cinta kepada Rabb-Nya. Skenario yang telah dicontohkan kepada kita, setidaknya menjadi teladan untuk diikuti sekaligus mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kepada kita umat Muhammad tidaklah diperintahkan menyembelih anak, sebagaimana halnya Ibrahim, tetapi yang disuruh agar mau dan mampu menyisihkan sebagian kecil dari nikmat yang diberi Allah untuk menyembelih hewan qurban baik kambing maupun sapi. Dalam kaitan ini Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa yang memiliki kemampuan, dan tidak mau berqueban, maka janganlah ia mendekati tempat mushalla kami.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Ibrahim Khalilullah, dikenal kritis. Ia tidak mudah menerima begitu saja sesuatu yang belum diyakini, sebelum membuktikan sendiri. Dalam kaitan ini, ia sering melakukan riset dan penelitian secara langsung tentang wujud Tuhan. Ia mengamati perjalanan planet seperti bintang, bulan, bahkan matahari, semua planet itu akhirnya lenyap dan menghilang. Lalu, ia berkesimpulan bahwa semuanya memiliki keterbatasan, dan ini bukan Tuhan.

Ibrahim as juga pernah meminta kepada Allah Swt agar memperlihatkan bagaimana Ia menghidupkan orang yang sudah mati. “Lalu, Allah menegur Ibrahim as; Apakah kamu belum meyakini dan percaya kepada Tuhan-Mu. Ibrahim menjawab: Saya percaya, tetapi hal itu saya mohon agar lebih menentramkan hatiku (liyatmainna qalbi).” (QS. al-Baqarah: 260). Allah memerintahkannya menyembelih dan mencincang empat ekor burung, dan menempatkannya pada empat buah gunung. Selanjutnya, Ibrahim diperintahkan untuk memanggil burung-burung tersebut, ternyata keempat-empatnya hidup kembali.

Beragam ujian
Sepanjang hidupnya, Nabi Ibrahim as kerap mendapat beragam ujian dari Allah Swt: Pertama, Ibrahim pernah dieksekusi oleh Namruz, dalam sejarah dikenal sebagai raja yang zalim. Ibrahim dimasukkan dalam api yang sedang membara, karena ia telah menghancurkan patung-patung sembahan mereka. Ibrahim tidak sedikit pun takut dalam menyampaikan risalah Tuhan-Nya, mengajarkan Allah esa (monoteisme), menegakkan al-haq (kebenaran), membasmi segala bentuk kejahilan dan kezaliman, sekalipun ia diancam dengan hukuman mati. Dengan izin dan iradah Allah, api yang secara makruf membakar, berubah menjadi udara yang dingin, sebagaimana diisyaratkan Alquran, “Qulna ya naru kuni bardan wasalama `ala Ibrahim (Kami katakan, hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim).” (QS. al-Anbiya: 69).

Kedua, Ibrahim diperintahkan Allah menempatkan isteri dan anaknya Ismail yang masih bayi di suatu tempat yang jauh dari Palestina, biwadin ghari zi zar’in ‘inda baitikal muharram, yaitu di suatu lembah yang tidak ada sedikit pun rumput (pepohonan), namun di sisi rumahmu baitul haram. Setelah Ibrahim menempatkan isteri dan anaknya, ia langsung pulang. Lalu Hajar bertanya, seraya memanggilnya: Ya Ibrahim ayna tazhab, watatrukuna bi hazal wadi allazi laitsa fihi anisun wala syaiun (Wahai Ibrahim, ke mana engkau pergi, dan meninggalkan kami di lembah ini yang tidak ada seorang pun manusia dan sesuatu pun yang lain).

Panggilan Hajar tak digubris oleh Ibrahim, tetapi ketika Hajar mengatakan, Allahu amaraka bihaza (apakah karena Allah memerintahkanmu menempatkan kami di sini). Ketika nama Allah disebutkan, Ibrahim langsung balik membenarkannya. Artinya, Ibrahim tidak bisa mendengar nama Allah disebutkan, karena begitu cintanya kepada Allah. Selanjutnya Hajar mengatakan, Izan la yudhayyi’una (kalau begitu Allah tidak akan menyia-nyiakan kami di sini). Dengan karunia Allah, di situ munculnya air zam-zam, dan di tempat itu pula jamaah haji menunaikan sa’i, sebagai satu Rukun Haji.

Dengan memetik hikmah perjalanan hidup dan suri teladan Ibrahim Khalilullah, mari semua kita umat Islam terus-menerus berjuang dan berkorban tanpa henti, baik pengorbanan waktu, tenaga, harta, dan ilmu. Bahkan, kalau perlu dengan jiwa sekalipun, dalam upaya menegakkan dan kukuhnya syariat Islam di bumi Serambi Makkah, sembari terus menerus pula memperkuat ukhuwah dan silaturrahmi sesama warga untuk menggapai dan mempertahankan kedamaian, menjauhkan diri dari segala bentuk fitnah, caci maki yang akhirnya menjurus kepada kebencian, permusuhan, dan perpecahan.

Mengakhiri tulisan ini, mari pula menyimak firman Allah Swt, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.” (QS. al-Kautsar: 1-3). Wallahu a’lamu bish-shawab.

* Dr. H. Abdul Gani Isa, SH, M.Ag., Staf Pengajar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry, dan anggota MPU Aceh. Email: aganiisa@yahoo.co.id (uri/itri/elmeizar/FD)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id