Aceh Darurat Narkoba | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Aceh Darurat Narkoba

Aceh Darurat Narkoba
Foto Aceh Darurat Narkoba

Oleh Fakhrul Rijal

INDONESIA merupakan ‘surga’ peredaran narkoba. Betapa tidak, jika ditilik dari peringkat peredaran narkoba di dunia, negara kita menempati peringkat ketiga sebagai pasar narkoba terbesar di dunia. Lalu, jika ditelaah lebih dalam lagi ke ranah tingkat provinsi, Aceh menempati peringkat pertama sebagai provinsi pengedar dan pengguna narkotika jenis ganja. Penempatan peringkat ini bagi Aceh tampaknya cukup beralasan karena banyak ditemukan ladang ganja. Penggunaan ganja atau narkoba menyebabkan multiefek negatif bagi kehidupan.

Menurut data Badan Narkotika Nasional (BNN), dampak narkoba meliputi dampak fisik, psikologis, sosial dan ekonomi. Dampak fisik misalnya gangguan pada sistem saraf (neorologis): kejang-kejang, halusinasi, dan gangguan kesadaran. Dampak psikologis berupa tidak normalnya kemampuan berpikir, berperasaan cemas. ketergantungan obat. Dampak sosial ekonomi misalnya selalu merugikan masyarakat, baik ekonomi, sosial, kesehatan, maupun hukum. Dampak-dampak tersebut di atas, jelas menjadi ancaman besar bagi bangsa ini, khususnya Aceh.

Bagaimana nasib bangsa ini jika generasi penerusnya adalah generasi-generasi yang bermental narkoba, generasi yang cacat fisik, psikologis, sosial dan ekonomi? Tentulah generasi-generasi ini tidak dapat membangun bangsanya yang juga sedang ‘sakit’. Korban penyalahgunaan narkoba tidak pandang bulu dan usia, ia akan menyerang siapa saja.

Meskipun demikian, yang kerap menjadi target narkoba umumnya adalah generasi muda yang berusia 15-30 tahun. Dari rentang usia itu, remaja merupakan usia yang sangat rentan terkena pengaruh narkoba. Menurut data Mabes Polri yang dimuat dalam buku Kependudukan Perspektif Islam karangan M Cholil Nafis, 98.614 kasus (97% lebih) anak usia remaja adalah pengguna narkoba.

Kasus narkoba di Aceh
Data Direktorat Polda Aceh menyebutkan kasus narkoba di Aceh pada 2014 terdapat 942 perkara dengan jumlah tersangka 1.305 orang. Pada 2015 ada 1.170 perkara dengan jumlah tersangkanya 1.685 orang. Kemudian Januari-Agustus 2016 ada 967 kasus dengan tersangkanya 1.290 orang,” jelasnya.

Kasus narkoba tidak hanya menjerat masyarakat sipil, tapi juga oknum polisi. Di pengujung 2015, 60 personel jajaran Polda Aceh dipecat lantaran melanggar kedisiplinan atau melanggar hukum. Menurut Kepala Biro SDM Polda Aceh, Kombes Pol MZ Muttaqien, di antara 60 polisi yang dipecat tersebut, 62% tersandung kasus narkoba. (Serambi, 2/1/2016).

Kepala BNN, Budi Waseso menyatakan Indonesia dalam kondisi darurat narkoba. Sekitar 5 juta dari penyalahgunaan narkoba, 40-50 orang per hari meninggal karena barang haram tersebut (Antaranews.com, 4/3/2016). Adapun penyalahguna narkoba pada pada usia 10-59 tahun sebesar 4 juta jiwa. Angka ini meliputi 1,6 juta juta orang coba pakai, 1,4 juta orang teratur pakai dan sekitar 934 orang telah menjadi pecandu. Dari segi gender, ada 25,49% wanita yang menggunakan narkoba, selebihnya sekitar 74,5% lebih didominasi oleh pria.

Pemberitaan masalah narkoba pun marak di berbagai media massa dalam rentetan 2017 ini. Belum lama berselang, misalnya, seorang kepala desa (keuchik) di Aceh Timur, tewas ditembak oleh polisi karena dituding sebagai bandar sabu-sabu. Berita lainnya, BNN berondong dua mobil asal Aceh, satu orang tewas dan puluhan kilogram sabu ditemukan. Berita lainnya yang membuat kita miris adalah istri dari Wakil Ketua DPRK satu kabupaten di Aceh, ditangkap nyabu dengan seorang oknum aparat keamanan. Dan, sederet kasus serupa lainnya yang membuka mata kita bahwa Aceh benar benar sedang berada dalam situasi darurat narkoba.

Selain fakta di atas, ada beberapa hal yang memosisikan Aceh berada dalam situasi darurat narkoba. Misalnya saja bisa dilihat dari sistem pengawasan jalur masuknya peredaran narkoba yang tidak optimal. Hal ini bisa dibuktikan dari kurang ketatnya sistem pengawasan, baik itu di jalur darat, air, maupun udara. Adanya oknum petugas yang bisa diajak bekerja sama oleh sindikat narkoba dengan imbalan uang yang tidak sedikit. Pada 2016 lalu, misalnya, terungkap bahwa sekitar 75% jaringan peredaran narkotika dikendalikan di dalam penjara.

Sementara itu, kurangnya kepedulian masyarakat juga memegang peranan penting atas situasi darurat ini. Padahal fakta-fakta yang terjadi sungguh sangat memprihatinkan. Bayangkan saja berdasarkan data yang mengungkap tingginya penyalahgunaan narkoba membuat kita berpikir; mau jadi apa negeri ini jika generasi mudanya saja telah terjerumus ke dalam perangkap narkoba. Negeri kita bisa saja kehilangan generasi penerus (lost generation), jika permasalahan narkoba ini tidak segera ditangani dengan serius.

Karena itulah sebaiknya kita sebagai masyarakat harus sepenuhnya sadar bahwa ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja, tetapi sudah menjadi tanggung jawab kita bersama. Diperlukan aksi nyata dari kita semua sebagai warga bangsa turut berpartisipasi dalam usaha menyukseskan program Pencegahan dan Pemberantasan, Penyalahgunaan, Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) yang dicanangkan oleh BNN.

Upaya pencegahan
Upaya pencegahan terhadap penyebaran narkoba, sudah seyogianya menjadi tanggung jawab kita bersama. Dalam hal ini semua pihak termasuk orang tua, guru, dan masyarakat harus turut berperan aktif dalam mewaspadai ancaman narkoba terhadap anak-anak kita.

Setidaknya ada lima hal yang harus diperhatikan ketika melakukan program antinarkoba: Pertama, mengikutsertakan keluarga. Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa sikap orang tua memegang peranan penting dalam membentuk keyakinan akan bahaya penggunaan narkoba pada anak-anak. Strategi mengubah sikap keluarga terhadap penggunaan narkoba, termasuk memperbaiki pola asuh orang tua dalam rangka menciptakan komunikasi dan lingkungan yang lebih baik di rumah. Kelompok dukungan dari orang tua merupakan model intervensi yang sering digunakan;

Kedua, dengan menekankan secara jelas dan berulang-ulang bahaya narkoba. Untuk anak harus diberikan penjelasan yang terus-menerus diulang bahwa narkoba tidak hanya membahayakan kesehatan fisik dan emosi namun juga kesempatan mereka untuk bisa terus belajar, mengoptimalkan potensi akademik dan kehidupan yang layak; Ketiga, meningkatkan kepercayaan antara orang dewasa dan anak-anak. Pendekatan ini mempromosikan kesempatan yang lebih besar bagi interaksi personal antara orang dewasa dan remaja, dengan demikian mendorong orang dewasa menjadi model yang lebih berpengaruh;

Keempat, memiliki kegiatan-kegiatan yang positif, berolahraga atau pun mengikuti kegiatan kegiatan organisasi yang memberikan pengaruh positif baik kepada kita, dan; Kelima, Bekerjasama dengan lingkungan rumah, Kita sebaiknya bekerjasama dengan lingkungan rumah kita seperti dengan ketua kepala desa, kepala lorong, dsb. Terutama dengan tetangga yang mempunyai anak seusia atau yang lebih tua dari anak kita. Menjalin hubungan baik dengan para tetangga selalu mendatangkan kenyamanan dan keamanan bagi kita.

Oleh sebab itu, mulai saat ini pendidik, pengajar, dan orang tua, harus siap serta waspada, akan bahaya narkoba yang sewaktu-waktu dapat menjerat anak-anak sendiri. Dengan berbagai upaya tersebut di atas, mari kita jaga dan awasi anak didik dari bahaya narkoba tersebut, sehingga harapan untuk menelurkan generasi yang cerdas dan tangguh di masa yang akan datang dapat terealisasi dengan baik.

Dalam kondisi Indonesia dan Aceh darurat narkoba, tentunya pemerintah harus menjadikan masalah narkoba ini sebagai ‘PR’ yang paling utama. Keluarga, sekolah dan masyarakat harus saling membantu dalam upaya mencegah meluasnya pengguna narkoba. Kemudian, dalam memberantas narkoba tidak bisa secara terus-menerus dengan melakukan rehabilitasi, tetapi antisipasi dan terus-menerus melakukan upaya pencegahan dengan melibatkan orang tua, sekolah dan masyarakat secara aktif, serta diikuti dengan upaya penegakan hukum yang sungguh-sungguh.

Di samping apa yang telah dipaparkan di atas, tentunya masih banyak jalan untuk menyelamatkan generasi bangsa ini termasuk kita di Aceh, dari bahaya narkoba. Sekali lagi, kuncinya yang pertama dan utama ada di dalam keluarga. Lalu, bersinergi dengan masyarakat dan mendorong pemerintah untuk terus mengantisipasi semua jejak narkoba. Semoga!

* Fakhrul Rijal, MA., Dosen FTK UIN Ar-Raniry dan STIS Al-Aziziyah Sabang, Mahasiswa Program Doktor UIN Ar-Raniry, Sekjen RADINA Aceh, dan Peneliti di LSAMA Aceh. Email: [email protected] (uri/leny/andraini/GC)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id