Aceh Sudah Jadi Pasar Narkoba | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Aceh Sudah Jadi Pasar Narkoba

Aceh Sudah Jadi Pasar Narkoba
Foto Aceh Sudah Jadi Pasar Narkoba

* Farid Wajdi: Yang Melarang yang Mengedar

BANDA ACEH – Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Ikatan Keluarga Antinarkoba (IKAN), Syahrul Maulidi mengatakan Aceh bukan lagi sebatas daerah transit bagi jaringan pengedar narkoba tetapi sudah menjadi pasar yang menggiurkan.

Pernyataan itu disampaikan Syahrul ketika menjadi narasumber program Cakrawala Radio Serambi FM 90,2 Mhz membedah Salam Serambi Indonesia berjudul, Aceh Jadi Daerah Transit Sabu, Bagaimana Mencegah? Program yang dipandu host Vea Artega tersebut juga menghadirkan narasumber internal, yaitu Waredpel Harian Serambi Indonesia, Nasir Nurdin.

Syahrul yang menyampaikan pendapatnya melalui saluran telepon menyebutkan, posisi Aceh telah menjadi pasar utama peredaran sabu-sabu.

“Kenapa kami katakan pasar, karena permintaan narkoba, terutama jenis sabu-sabu mengalami peningkatan signifikan. Kalau dulu bisa kita sebut Aceh sebagai transit tetapi sekarang sudah tidak lagi. Aceh kini menjadi pasar utama, salah satu penyebabnya, karena di Aceh sudah ada demand atau permintaan,” sebut Syahrul.

Syahrul juga mengungkapkan jaringan narkoba sangat kuat dan terorganisir. Seorang kurir sabu yang tertangkap pernah menceritakan kepadanya bagaimana terkoordinirnya peredaran narkoba.

Kurir itu sendiri mengaku tidak pernah tahu pemilik barang terlarang yang dibawanya. Mereka hanya berkomunikasi via telepon. “Tapi, si kurir itu diberi jaminan. Misalnya kalau tertangkap dan dihukum sekian tahun, maka bandar narkoba itu siap membiayai keluarga kurir itu selama kurir menjalani hukuman. Tapi, kalau lolos, kurir itu dijanjikan mendapatkan fee besar. Hal itulah yang membuat para kurir narkoba tergiur,” ungkap Syahrul.

Ketua Umum DPP IKAN ini mengatakan aparat keamanan kewalahan menjaga jalur-jalur masuk narkoba yang disebut seperti melalui ‘pelabuhan tikus’. “Kalau sekarang transaksi di tengah laut. Belum lagi terlibat oknum-oknum tertentu,” lanjut Syahrul

Lalu berkaitan para gembong narkoba lolos itu juga diakui masih banyak dan Syahrul kembali menegaskan bahwa jaringan narkoba itu terorganisir dan teknologi mereka juga cukup kuat. “Malah sekarang mereka mengembangkannya dengan menyusupkan narkoba ke dalam makanan, sudah tidak lagi dalam bentuk sabu-sabu. Bahkan para pelaku juga mensiatinya dari celah hukum agar mereka tidak terjerat,” demikian Syahrul.

Yang melarang yang mengedar
Rektor Universitas Islam (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Prof Dr Farid Wajdi Ibrahim MA menilai, peredaran narkoba di Aceh saat ini sudah berada pada level yang begitu mengkhawatirkan. Menurutnya, Aceh memang menjadi incaran para gembong narkoba, berton-ton barang haram itu terus dipasok ke Aceh dan menyasar semua kalangan.

“Aceh itu banyak kali ternya, mulai termiskin hingga terdahsyatnya narkoba. Ribuan ton narkoba dipasok ke Aceh, dia menyasar semua kalangan. Mereka yang melarang, tapi mereka juga yang mengedarkan narkoba,” kata Farid Wajdi saat menyampaikan orasi ilmiah dalam rapat senat terbuka wisuda doktor, magister, sarjana, dan ahli madya di Auditorium Ali Hasymi, UIN Ar-Raniry, Selasa (22/8).

Mereka yang dimaksud Farid adalah pihak berwajib, seperti polisi yang seharusnya bertugas melarang dan mencegah peredaran narkoba. Maksud Farid dalam pernyataan itu bukan menuding institusi, tapi oknum-oknum yang secara pribadi terlibat dalam kasus narkoba di Aceh. “Semua disasar, asal yang bernyawa disasar oleh narkoba, kita lihat saja anggota DPRA kena, tentara, dosen, PNS, siapa saja,” kata Farid Wajdi.

Bahkan, katanya, bukan hanya menyalahgunakan seperti memakai dan mengedarkan, ada juga sebagian aparat berwajib yang justru membiarkan. “Ini oknum yang secara pribadi sudah terlibat dengan narkoba, makanya saya bilang narkoba ini tidak lagi mengenal siapapun, semua bisa terlibat apakah memakai atau mengedar,” kata Farid Wajdi saat diwawancarai ulang usai acara wisuda, kemarin.

Farid juga menjelaskan saat ini Indonesia secara umum memang menjadi target para pengedar dan mafia-mafia narkoba dunia. Alasannya, kata Farid, karena penduduk Indonesia mayoritas muslim. “Khususnya lagi di Indonesia, mereka menargetkan Aceh, makanya Aceh bisa dilihat masih dalam rangking teratas penyalahgunaan narkoba saat ini,” ungkap Farid.

Dulu, lanjutnya, Aceh disebut sebagai tempat transit narkoba yang akan disebar ke wilayah Sumatera Utara, tapi faktanya saat ini Aceh bukan lagi sebagai tempat transit melainkan sebagai pasar perdagangan narkoba. “Sekarang dari Malaysia dikirim ke sini, dari Cina, dari laut dibawa ke sini, semuanya dikirim ke Aceh, karena targetnya memang Aceh dan banyak beredar di sini,” sebutnya.(mir/dan) (uri/sih/ebrinaldy/AF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id