Apa Karya Mundur dari PA | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Apa Karya Mundur dari PA

Foto Apa Karya Mundur dari PA

BANDA ACEH – Mantan menteri pertahanan GAM, Zakaria Saman, resmi mengundurkan diri dari Partai Aceh (PA). Pengunduran diri pria yang akrab disapa Apa Karya ini disampaikan secara tertulis dalam selembar surat yang ditujukan kepada Ketua DPA PA, dengan tembusan kepada Ketua Majelis Tuha Peut PA dan Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh.

“Mengundurkan diri sementara dari Partai Aceh karena mencalonkan diri sebagai bakal calon gubernur Aceh pada Pilkada 2017 melalui jalur perseorangan,” demikian antara lain bunyi surat bertanggal 4 Januari 2016 yang ditandatangani Zakaria Saman.

“Surat ini memang sudah lama saya persiapkan. Sekitar seminggu yang lalu sudah diserahkan tim saya ke sekretariat PA dan KIP,” ujar Apa Karya menjawab Serambi, Selasa (22/3).

Dalam surat itu, pria kelahiran Blang Malo, Tangse, 1 Januari 1946 ini juga menjelaskan pengunduran dirinya sesuai dengan Qanun Aceh Nomor 5 Tahun 2012 tentang Pemilihan Gubernur/Wakil Gubernur, Bupati/Wakil Bupati, dan Wali Kota/Wakil Wali Kota. “Sebagaimana Pasal 24 huruf h dengan bunyi mengundurkan diri dari keanggotaan partai politik lokal paling lambat tiga bulan sebelum pendaftaran calon,” bunyi surat dimaksud.

Apa Karya mengatakan, syarat harus adanya surat pengunduran diri dari partai politik bagi calon yang maju dari jalur independen, memang kerap menjadi masalah dalam pilkada di Aceh. Berdasarkan pengalaman pada pilkada sebelumnya, banyak calon independen digugurkan oleh KIP karena terlambat atau tidak memenuhi persyaratan ini.

“Memang dalam aturannya surat ini bisa diserahkan tiga bulan sebelum pendaftaran calon, tapi saya tidak mau ambil risiko. Saya harus antisipasi berbagai kemungkinan sejak awal. Termasuk kemungkinan adanya upaya penjegalan calon independen melalui revisi qanun,” ujarnya.

“Misalnya, tiba-tiba ada perubahan isi qanun, surat pengunduran diri dari parpol diserahkan enam bulan sebelum pendaftaran calon. Nah, kalau ini dilakukan, saya tidak akan terjegal karena sudah menyerahkannya minggu lalu,” imbuh Apa Karya sambil tertawa lebar.

Ditanya tentang kalimat “mengudurkan diri sementara dari Partai Aceh…” Apa Karya mengatakan, tidak ada aturan yang mengharuskan calon independen mundur permanen dari partai politik. Selain itu, lanjut Apa, ia tidak mungkin meninggalkan partai yang didirikannya dengan susah payah.

“Saya mendirikan partai ini bersama Tgk Malik Mahmud melalui serangkaian proses yang cukup rumit. Saya sampai berdebat cukup hebat dengan Jusuf Kalla, Hamid Awaluddin, dan Farid Husein, terutama terkait nama dan bendera partai. Jadi tak mungkin saya mundur secara permanen, tapi kalau mereka mau pecat saya, itu lain cerita,” ujarnya.

Ia pun menceritakan panjang lebar tentang rumitnya proses pada awal-awal pendirian Partai Aceh hingga bisa ikut serta dalam Pemilu 2009. Kala itu, pemerintah beberapa kali menolak nama dan bendera partai yang diajukan, seperti Partai GAM (tanpa kepanjangan), Partai Gerakan Aceh Mandiri, hingga kemudian disepakati menjadi Partai Aceh.

“Begitu juga dengan bendera. Awalnya semua ditolak, bahkan garis hitam putih pun disuruh buang, tapi saya tetap berkeras hingga jadi seperti sekarang, kan tidak mungkin saya harus mengalah terus,” tukas Apa Karya.

Catatan Serambi, dengan mundurnya Zakaria Saman dari PA, maka secara otomatis Tuha Peut partai ini berkurang menjadi dua orang, yakni Malik Mahmud dan Zaini Abdullah. Ketika pertama kali PA didirikan, Tuha Peut PA terdiri atas, almarhum Tgk Hasan Muhammad Di Tiro (Hasan Tiro), Malik Mahmud Al-Haythar, Zaini Abdullah, dan Zakaria Saman. Jumlah Tuha Peut PA ini masih berpeluang berkurang, karena Zaini Abdullah juga sudah menyatakan maju melalui jalur independen.(nal) (uri/wi/ovi/ovianti/DNN)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id