Kasus Pembunuhan Nenek Direkonstruksi | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Kasus Pembunuhan Nenek Direkonstruksi

Kasus Pembunuhan Nenek Direkonstruksi
Foto Kasus Pembunuhan Nenek Direkonstruksi

BIREUEN – Kasus pencurian disertai pembunuhan yang menimpa Hj Rohana binti Hanafiah (80), warga Desa Meunasah Dayah, Peusangan, Bireuen, direkonstruksi pada Selasa (22/8) kemarin. Nenek Rohana diduga dibunuh oleh Mufrizal bin Mufrad, yang juga suami dari cucunya sendiri.

Rohana binti Hanafiah yang dibunuh pada 14 Mei lalu adalah ibunda dari anggota Polres Bireuen AKP Sufli. Kasus tersebut, menurut AKP Sufli kepada Serambi kemarin, tak dipublikasi sebelumnya karena permintaan seluruh keluarganya, apalagi saat itu pelaku belum diketahui dengan pasti. Seiring dengan berjalannya waktu, pihak kepolisian terus mengumpulkan bukti kuat dan akhirnya terungkap bahwa pelaku merupakan keluarga dekat.

Disebutkan, sebelum meninggal dunia, orang tuanya dalam keadaan sehat dan masih sanggup mendayung sepeda ke Keude Matang dan pulang pergi naik bus ke Lhokseumawe. Pada pagi itu, informasi dari masyarakat, ibunya meninggal dunia dalam keadaan wajar di rumahnya. Masyarakat pun melaksanakan fardhu kifayah sebagaimana mestinya. Tak ada rasa curiga sedikit pun saat itu bahwa ibunya dibunuh.

Namun, naluri seorang aparat penegak hukum mulai bertanya-tanya, dimana dan kemana emas orang tuanya berupa dua gelang dan satu cincin sebanyak 50 mayam lebih yang biasa dipakai. Soalnya, setelah dicari-cari, tidak ditemukan di rumah. “Setelah beberapa hari muncul dugaan dan kemungkinan penyebab kematian karena dibunuh, yang diawali dengan pencurian gelang emas dan cincin,” ujarnya.

Hasil penyelidikan awal yang dilakukan sendiri semakin menambah penasaran dan mengarah kepada seorang keluarga yaitu suami dari kemenakannya (cucu dari korban) yang bertempat tinggal satu kompleks dengan rumah orang tuanya. Kecurigaan memuncak terhadap Mufrizal bin Mufrad (30), namun tersangka tetap saja berkelit setelah ditanya berulangkali. Dia mengaku tidak mengambil emas, apalagi melakukan pembunuhan.

“Keluarga dan istrinya juga menanyakan, tapi dia tetap bertahan tidak terlibat. Kami ingin kasus tersebut diselesaikan secara kekeluargaaan, namun pengakuan tersangka waktu itu tetap tidak terlibat,” ujarnya. Akhirnya, AKP Sufli membuat laporan resmi ke Polres Bireuen pada 20 Juli 2017 dan tim Polres Bireuen menangkap tersangka Mufrizal pada 24 Juli di rumah neneknya di Gandapura. Setelah ditangkap dan diperiksa, akhirnya Mufrizal mengaku bahwa dia yang mencuri emas dan membunuh neneknya.

Butuh Uang Bayar Kredit
Tersangka pelaku pencurian yang disertai pembunuhan Mufrizal Mufrad kepada Serambi mengaku dia kepepet butuh uang, karena ditagih kredit pinjaman bank. Dia kemudian melakukan aksi nekat dengan membunuh nenek dari istrinya yang bernama Eka Mauliza. “Saya butuh uang karena tagihan bank yang sudah jatuh tempo dalam jumlah banyak,” ujarnya singkat.

Saar ditanya apakah sudah direncanakan, tersangka hanya diam. Dalam rekonstruksi kemarin yangdipimpin Kanit Pidum Polres Bireuen, Aiptu T Saiful M, rekonstruksi dilakukan di rumah korban dan melibatkan puluhan personel Polres Bireuen. Bripda Aini berperan sebagai korban.

Proses rekonstruksi berjalan lancar dan disaksikan ratusan warga setempat termasuk keluarga korban. Selain itu, rekonstruksi juga disaksikan penasihat hukum tersangka, Muhammad SH dan sejumlah jaksa dari Kejari Bireuen.

Kapolres Bireuen AKBP Riza Yulianto SE SH melalui Kasat Reskrim Iptu Riski Andrian yang didampingi Kanit Pidum Aiptu T Saiful M mengatakan, kasus tersebut tidak dipublikasikan sebelumnya karena permintaan keluarga. Setelah semua terbukti, maka baru kini dipublikasikan dan dilakukan rekonstruksi untuk melengkapi berkas perkara tersebut yang akan diajukan ke Kejari Bireuen.

‘Dulu, Kami Sangat Sayang Dia”
Tersangka pelaku pencurian yang disertai pembunuhan terhadap Hj Rohana binti Hanafiah adalah keluarga dekat yaitu suami dari cucunya sendiri. Mereka tinggal berdekatan. “Keluarga kami sangat sayang sama dia, bahkan dulu ketika usahanya bangkrut kami yang bantu modal. Namun, akhirnya begini jadinya,” ujar AKP Sufli, anak kandung korban yang saat ini sebagai Kasubbag Ren Polres Bireuen.

Disebutkan, penyelidikan yang dilakukan sendiri karena emas hilang mengarah kepada tersangka. Emas hasil curian milik orang tuanya sebagian dijual ke Medan dan sebagian lagi di Gandapura. Sebenarnya kasus tersebut ingin diselesaikan secara kekeluargaan, namun tersangka tetap berkelit tidak terlibat, sehingga akhirnya dilapor resmi kepada polisi. Menurut Sufli, tersangka sudah merencanakan pembunuhan itu tiga hari sebelumnya.

Sufli mengharapkan tersangka dapat hukuman setimpal atas perbuatannya. “Ibu saya sebelum dibunuh masih sehat, masih sanggup mendayung sepeda walaupun sudah berumur 80 tahun. Ia masih sering naik bus ke Lhokseumawe. Walaupun sudah berusia lanjut, tapi fisiknya masih kuat,” ujar Sufli.

kronologis pembunuhan (uri/ngbert/atoel/EL)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id