Layanan Buruk, Tarifnya Naik | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Layanan Buruk, Tarifnya Naik

Layanan Buruk, Tarifnya Naik
Foto Layanan Buruk, Tarifnya Naik

Harian ini kemarin menyuguhkan berita utama di halaman depan berjudul “Tarif Listrik Mencekik”. Berita itu merupakan suara publik atau pelanggan PLN yang merespon tentang mahalnya tarif listrik yang harus mereka bayar mulai bulan Agustus 2017. Kenaikannya antara 30 hingga 100 persen dari biasanya.

Bukan hanya mengeluh kemahalan, sebagian masyarakat mengaku kaget naiknya tarif listrik itu. Sedangkan yang lainnya malah menyoal kenaikan tarif di tengah buruk layanan PLN yang sering memadamkan lampu.

Halim, warga Gampong Ateuk Pahlawan yang berprofesi sebagai tukang bangunan mengatakan, selama ini ia rutin membayar listrik setiap bulannya antara Rp 150.000 hingga Rp 200.000. Namun, kini ia harus membayar opada kisaran Rp 400 ribu tiap bulan.

Ia mengeluhkan kondisi tersebut, karena walaupun sudah berhemat tetap saja sebagian besar penghasilan dihabiskan untuk tagihan listrik. “Rekening listrik sudah lebih besar daripada untuk beli beras,” ujarnya.

Pelanggan lainnya, warga Gampong Jeulingke, Banda Aceh, Bukhari M Ali mengatakan, selama ini tagihan listrik di rumahnya berkisar pada angka Rp 1 jutaan, namun sejak empat bulan terakhir tagihannya terus melonjak. Ia merincikan, Mei 2017 ia membayar Rp 1,07 juta, Juni naik menjadi Rp 1,18 juta, dan Juli menjadi Rp 1,23 juta, terakhir pada pembayaran bulan Agustus tagihannya melonjak menjadi Rp 2 juta.

Pejabat PT PLN Wilayah Aceh berdiplomasi dengan mengatakan, PLN tidak pernah melakukan kenaikan tarif listrik. Namun beberapa waktu lalu memang PLN mencabut subsidi kepada pelanggan yang mampu, sehingga mereka yang selama ini pelanggan empat ampere menjadi enam ampere.

“Kalau ada kenaikan biaya tagihan itu bukan karena tarif listrik naik, tapi karena mereka sudah tidak disubsidi lagi, jadi karena tidak ada lagi subsidi bisa saja tagihan sekarang menjadi dua kali lipat,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pencabutan subsidi itu hanya berlaku bagi pelanggan yang mampu, sedangkan pelanggan empat ampere yang kurang mampu masih disubsidi. Ia menyebutkan, dalam menetapkan itu pihaknya melakukan survei yang melibatkan keuchik masing-masing gampong, sehingga data warga mampu dan tidak mampu dari Keuchik menjadi acuan PLN dalam mengambil kebijakan pencabutan subsidi. Kemudian diverifikasi lanjutan ke kantor camat. “Kalau pelanggan sudah ada AC dan kulkas, itu kita anggap warga yang mampu,” ujarnya.

Ada beberapa hal yang ingin katakan terhadap masalah ini. Pertama, banyak masyarakat yang kaget atas kenaikan yang begitu tinggi. Ini artinya PLN kurang sosialisasi. Kedua, katanya data tentang pelanggan yang mampu dan tak mampu diperoleh dari pejabat gampong dan diverifikasi pihak kecamatan. Tapi, tidak pernah diumumkan secara terbuka kepada masyarakat. Ini artinya penetapan itu tidak terbuka dan faktor “like and dislake” bisa terjadi di sini.

Ketiga, PLN dianggap amatiran karena menaikkan tarif listrik justru di tengah keluhan masyarakat terhadap layanan PLN yang buruk. Hampir setiap bulan masyarakat disuguhkan dengan pemadaman bergilir dan pemadaman-pemadaman mendadak yang sangat sering. Itulah sebabnya banyak pelanggan yang tak ikhlas membayar tarif baru yang ditetapkan PLN. (uri/aradhia/ayanti/FD)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id