Banjir Landa Enam Kabupaten | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Banjir Landa Enam Kabupaten

Foto Banjir Landa Enam Kabupaten

* Irigasi Jebol, 330 Rumah Berlumpur

MEULABOH – Hujan lebat yang mengguyur Senin (22/3) sore hingga malam menyebabkan tujuh kabupaten di Aceh, masing-masing Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Selatan, Aceh Singkil, dan Pidie dilanda banjir. Sebagiannya malah diterjang longsor. Sejauh ini tak ada korban jiwa, tapi banyak ruas jalan yang lumpuh total, sebuah irigasi jebol, dan sedikitnya 330 rumah dimasuki lumpur. Banyak pula sekolah yang terpaksa diliburkan.

Dampak banjir yang paling dramatik terjadi di Aceh Selatan. Akibat sungai meluap, seorang warga Sibadeh, Kecamatan Bakongan Timur, terseret arus dan saat ditemukan sudah meninggal. Info selengkapnya baca halaman 12 Serambi hari ini.

Di Aceh Jaya, banjir terjadi Selasa (22/3) pagi setelah hujan lebat mengguyur sejak Senin malam. Puluhan rumah di Desa Pulo Tinggi digenangi banjir setinggi 40 cm.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Kabupaten (BPBK) Aceh Jaya, Amren Sayuna menyebutkan, banjir kali ini hanya merendam satu desa, yakni Pulo Pulo Tinggi di Kecamatan Pasie Raya. Sedangkan desa lainnya belum terimbas banjir. “Sejauh ini belum ada warga yang mengungsi, karena banjirnya belum terlalu tinggi,” kata Amren.

Tgk Saifuddin, tokoh masyarakat Pasie Raya, menambahkan, akibat banjir itu tiang tengah jembatan gantung yang belum dicor di Sarah Raya ikut tumbang. Ia berharap, pembangunan jembatan Sarah Raya itu segera dituntaskan.

Dari Aceh Barat dilaporkan, arus transportasi darat Meulaboh-Tutut (Aceh Barat)-Geumpang (Pidie) hingga kemarin masih lumpuh total karena longsor di Desa Tungkop, Kecamatan Sungaimas, masih menutupi badan jalan. Sementara itu, hujan lebat yang melanda sejak Senin petang menyebabkan tujuh kecamatan dikepung banjir. Hingga Selasa kemarin, longsor di Tungkop atau Km 68 dari Meulaboh belum dibersihkan, sehingga sejumlah mobil penumpang dari arah Geumpang ke Meulaboh terjebak. Sementara longsor di Lancong yang juga di ruas jalan provinsi sudah dibersihkan dengan alat berat.

Titik longsor lainnya yang belum berhasil dibersihkan adalah ruas jalan kabupaten lintas Sarah Peurelak-Kajeng, tepatnya di Kajeung dan Geudung, sehingga warga di wilayah itu belum dapat melintasinya. Hujan lebat yang memicu longsor di Kecamatan Sungaimas juga berakibat arus listrik sejak Senin malam hingga Selasa siang padam total sehingga pelanggan mengeluh. “Masih terus kita pantau dan upayakan penanganan,” kata Kepala BPBD Aceh Barat, Saiful AB.

Hujan lebat juga menyebabkan tujuh dari 12 kecamatan di Aceh Barat dikepung banjir, yakni Woyla Timur, Woyla Barat, Kaway XVI, Samatiga, Bubon, Johan Pahlawan, Panton Reu, dan Sungaimas. 47 Desa terendam, ribuan rumah yang dihuni 9.000 jiwa ikut terendam.

Banjir menyebabkan arus transportasi darat Samatiga-Woyla terganggu, ruas Blang Mee-Alue Kuyun lumpuh dan aktivitas puluhan sekolah di Woyla Timur maupun Woyla Barat ikut terganggu. “Banjir kali ini cukup parah,” ujar Keuchik Gampong Baro KB, M Nasir.

Sementara itu, SMP Negeri 3 Seunagan dan MIS Kulu, Kecamatan Seunagan, Nagan Raya, Selasa (22/3) siang terpaksa diliburkan karena terendam air setinggi 30 cm. Siswa yang telanjur datang ke sekolah justru tak bisa masuk ke kelas lantaran kelas mereka terendam air.

Selain itu, puluhan rumah di kawasan diterjang banjir sehingga sebagian aktivitas masyarakat di Kecamatan Seunagan, terganggu. Sekretaris BPBD Nagan Raya, M Yusuf Gadeng mengaku banjir tersebut akibat meluapnya aliran sungai kecil di kawasan itu.

Dampak meluapnya Krueng Tiro di Pidie menyebabkan 240 rumah di tiga gampong dalam Kecamatan Kembang Tanjong, Pidie, Selasa (22/3) terendam lumpur yang dibawa banjir. Kayu bulat dari pegunungan Tiro yang tersangkut di jembatan menjadi penyebab meluapnya air sungai. Banjir itu menyebabkan aktivitas belajar-mengajar di MIN Kembang Tanjong, SDN Kandang dan SMP 5 harus diliburkan. Lumpur banjir paling parah merendam MIN Kembang Tanjong dan pusat pasar kecamatan.

Di Tangse, satu bendungan irigasi Blang Bungong jebol akibat banjir. Plt Camat Kembang Tanjong, Khaled mengatakan, banjir luapan itu menyebabkan 240 rumah di tiga gampong dalam Kecamatan Kembang Tanjong dimasuki lumpur.

Banjir itu juga menyebabkan 200 meter tebing Sungai Tiro di Gampong Jurong Balee amblas. Akibatnya, ruas jalan Kembang Tanjong-Beureunuen jadi sempit dan rawan lakalantas.

Kepala BPBD Pidie, Apriadi SSos mengatakan, meluapnya air Sungai Tiro yang merendam sebagian gampong dan sarana umum di Kembang Tanjong, menyusul tersangkutnya kayu yang terbawa arus sungai di bawah jembatan kecamatan tersebut. Kayu tersebut terlepas sendiri dari jembatan saat air sungai berkurang.

Kepala Kantor Kementerian Agama Pidie, M Jafar M Nur, menyebutkan, MIN Kembang Tanjong terpaksa diliburkan beberapa hari ke depan, mengingat lumpur yang diakibatkan banjir sangat tebal.

“Kepala madrasah menyebutkan, banjir kali ini paling parah menerjang MIN Kembang Tanjong. Air setinggi 80 cm merendam madrasah yang terletak di jantung pasar Kembang Tanjong,” katanya.

Kepala Dinas Pendidikan Pidie, Murthalamuddin, mengatakan, dua sekolah harus diliburkan sebagai ekses banjir. Yaitu, SDN Kandang dan SMP 5 Mutiara. “Saya rasa aktivitas belajar hanya terganggu satu hari, Rabu (23/3) sudah aktif seperti biasa,” katanya.

Imum Mukim Layan, Kecamatan Tangse, Fakhruddin menyebutkan, irigasi Blang Bungong, Kecamatan Tangse, jebol akibat banjir melanda kawasan itu. Kini petani tak bisa menyuplai air ke areal sawah. “Irigasi itu jebol di sebelah kiri. Petani akan kekurangan air pada musim tanam kali ini. Kalau tak cepat diperbaiki, kami bakal gagal panen lagi tahun ini seperti tahun lalu,” kata Fakhruddin. (riz/edi/de/tz/c45/naz) (uri/homas/ebriani/TF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id