Kaum Muda Hong Kong Briefing di Masjid | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Kaum Muda Hong Kong Briefing di Masjid

Foto Kaum Muda Hong Kong Briefing di Masjid

OLEH DR SYAMSUL RIZAL MAg, Dosen Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh, melaporkan dari Hong Kong

TANPA terasa lelah setelah menempuh penerbangan delapan jam dari Banda Aceh-Hong Kong via Jakarta dan melanjutkan perjalanan darat berpemandangan menakjubkan di sepanjang jalan dari airport menuju Kampus Institute Hong Kong of Education, bus yang saya tumpangi berhenti di pemberhentian akhir. Persis di seputaran Hotel BP International, tempat saya menginap untuk selanjutnya menghadiri pertemuan CAPEU dan international conference di kampus tersebut.

Bersama saya turut serta Dr Muhibuthabri (Dosen UIN Ar-Raniry) serta Dr Nazamuddin dan Dr Djufri (Dosen Universitas Syiah Kuala) yang duluan tiba.

Kebanyakan orang hanya mengetahui bahwa Hong Kong adalah kota pusat perdagangan dunia dan destinasi wisata yang memesona. Tapi sebetulnya sarana pendidikan mereka juga terbilang bagus dan patut diacungi jempol sejalan dengan perkembangan modernitas.

Namun, dalam reportase kali ini saya tak hendak menceritakan semua itu, kecuali hanya ingin menggambarkan bahwa ada di antara komunitas setempat yang tergolong muda, briefing di masjid.

Di seputaran Koowlun Hong Kong, seperti penuturan Oemar, muslim urban yang saya tanyai, pada tahun ‘90-an hanya ada dua masjid di Koowlun. Tapi kini bertambah menjadi 17 masjid yang menyebar di berbagai sudut ruang kota. Masjid di sini umumnya dilengkapi dengan sarana dan fasilitas ibadah yang cukup, bahkan ruang pertemuan, dan ruang administrasi masjid.

Menjelang waktu shalat tiba hampir tiada terdengar panggilan (suara) azan, karena memang mereka tidak menggunakan alat pengeras suara seperti lazimnya pada banyak masjid di Indonesia.

Uniknya, masjid di Nusantara meskipun pada jam shalat terdengar suara azan, namun jamaahnya masih belum ramai yang hadir ke masjid. Beda dengan masjid di sini, meski tanpa mendengar suara azan, tapi kehadiran jamaahnya sangat signifikan dan didominasi oleh kalangan muda.

Mengapa mereka tumpah ruah ke masjid pada waktu shalat? Ternyata rata-rata mereka disiplin dalam beribadah. Disiplin itu sebenarnya ciri dan karakter masyarakat modern, di mana berkehidupan itu ditentukan dengan penggunaan waktu yang efektif dan efisien, sehingga tak ada ruang waktu yang dilalui tanpa aktivitas.

Apa yang saya tangkap dari pesan fenomena kultural itu selama di Hong Kong ini adalah tradisi mereka merupakan transformasi prinsip substansi akidah yang kokoh. Mereka yakin berkewajiban shalat dan menunaikan pada waktunya memberikan manfaat karena sudah terbangun kesadaran bahwa shalat di awal waktu itu dianjurkan. Juga ada nilai manfaat lainnya, yakni mereka jadi disiplin ibadah juga disiplin dalam aktivitas lainnya.

Masyarakat modern itu sangat menghargai waktu. Selesai dari sebuah aktivitas, mereka lanjutkan ke aktivitas lainnya, penuh dinamis dan visioner dalam meraih cita.

Mereka yang terbilang muda, berada di masjid tidak hanya untuk menunaikan shalat, tapi juga untuk briefing, melakukan kajian pokok ibadah serta aktivitas sosial, terutama yang bersikap kreatif merespons tata nilai ekonomi di dalam berkehidupan.

Mereka umumnya kelompok muda yang sepekerjaan dan saling melengkapi transformasi informasi saat mereka bersama.

Mereka juga memanfaatkan ruang masjid, share pengalaman untuk saling menguatkan aktivitas, mereka juga saling mengisi dan mengingatkan untuk maju bersama mengisi aktivitas kehidupan, terutama berdagang yang menjadi pekerjaan pokok mayoritas warga Hong Kong. Seusai semua itu mereka meninggalkan masjid, masing-masing menuju pekerjaan mereka untuk kemudian hadir kembali dengan memanfaatkan jejaring sosial sebagai sarana komunikasi instan dan cepat antarmereka.

Mereka adalah “GenZ” yang dekat dengan teknologi digital dan itu dimanfaatkan sebesar-besarnya, bernilai ibadah (hablumninallah) dan interaksi sosiokultural antarmereka (hablum minannas).

Kita berharap, komunitas muslim di mana pun sesuai dengan konstruksi sosioreligi berislam, bisa seperti itu, melebihi dan tentu saja kita bangga menjadi bagian, bahkan menemukan yang muda dari kalangan GenZ benar-benar mentransformasikan nilai kemajuan digital untuk kepentingan berkehidupan mereka sesuai dengan spirit syar’i. Bukan sebaliknya, hanya untuk trendy yang ujung-ujungnya menyeret mereka kepada perilaku hedonistik (menyenangi materi tanpa hikmah) yang jauh dari transformasi nilai-nilai berislam. Inilah sekelumit sisi interelasi sosioreligi di Kota Hong Kong yang sempat saya amati. Sekian.

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email [email protected] (uri/ilviana/ebriyani/SF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id