Polisi Tetapkan 5 Tersangka Kasus Kredit Fiktif Bireuen | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Polisi Tetapkan 5 Tersangka Kasus Kredit Fiktif Bireuen

Polisi Tetapkan 5 Tersangka Kasus Kredit Fiktif Bireuen
Foto Polisi Tetapkan 5 Tersangka Kasus Kredit Fiktif Bireuen

BANDA ACEH – Masih ingat kasus kredit fiktif pada Bank Mandiri Bireuen yang diungkap polisi pada Maret 2016 silam? Saat ini kasus yang ditangani oleh tim Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Dit Reskrimsus) Polda Aceh itu sudah P21 di tingkat penyidik.

Polda Aceh telah menetapkan lima tersangka dalam kasus yang menyebabkan kerugian negara sebesar Rp 18,5 miliar tersebut. Berkas kelima tersangka sudah lengkap dan diterima oleh Kejaksanaan Tinggi (Kejati) Aceh pada 4 Agustus 2017. Informasi tersebut disampaikan oleh Dir Reskrimsus Polda Aceh, Kombes Pol Armensyah Thay kepada Serambi di Mapolda Aceh, Senin (21/8).

“Berkasnya sudah lengkap untuk lima tersangka, sudah P21 awal bulan kemarin. Selanjutnya kita akan segera melimpahkan kelima tersangka ini berikut barang buktinya ke kejaksaan,” kata Armensyah.

Adapun lima orang yang telah ditetapkan sebagai tersangka itu adalah, Muhammad Diki, Cut Malem, Mauri Safitri, Ruhniyanti, dan Saiful Bahri. Empat dari lima tersangka itu, menurut data yang diterima Serambi, merupakan mantan karyawan pada Bank Mandiri Cabang Bireuen, tiga menjabat sebagai mikro kredit sales (MKS) sedangkan satu lagi sebagai mikro kredit analisis (MKA).

“Sedangkan Saiful Bahri, itu pekerjaannya sebagai fotografer. Dalam kasus ini ia sebagai orang yang membuat atau memalsukan seluruh data identitas, SK, dan dokumen yang digunakan oleh para debitur (palsu) untuk pengajuan kredit,” kata Armensyah.

Sebagaimana diketahui, pada Maret 2016, polisi mengungkap kasus kredit fiktif tersebut dan berhasil menciduk sejumlah pelaku. Setelah terbukti memanipulasi data untuk mencairkan kredit fiktif dengan total Rp 18.535.000.000 bagi 113 debitur, yakni pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan Pemkab Bireuen sejak 2013-2014.

Kemarin, dalam konferensi pers, Armensyah mengatakan, para pelaku yang notabene sebagai mantan karyawan Bank Mandiri Bireuen bekerja sama dengan tersangka lainnya untuk memuluskan modus operandi mereka, yakni memalsukan semua dokumen para debitur agar bisa mencairkan kredit dimaksud. “Mereka membuat data fiktif untuk 113 debitur, yang mengatasnamakan PNS di Bireuen,” kata Armensyah.

Ia menjelaskan, pelaku mengatasnamakan 113 PNS di lima instansi, yakni 22 orang PNS di kantor Kecamatan Kuala, Bireuen, sepuluh PNS di kantor Kecamatan Jangka, 56 PNS di kantor Dinas Syariat Islam Bireuen, 18 PNS pada BPBD Bireuen, dan tujuh PNS pada kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Bireuen.

“Dari seluruh yang mengatasnamakan PNS itu, bukanlah PNS yang sah atau memiliki SK sebagaimana mestinya,” jelas Armensyah.

Armen mengatakan, awalnya kasus tersebut ditangani oleh subdit yang menangani kasus perbankan, yang saat itu menetapkan sebanyak 13 tersangka. Kemudian pada Agustus 2016, kasus itu dilimpahkan ke Subdit Tipikor, dari 13 tersangka itu, Subdit Tipikor kemudian menyidik lima tersangka lebih dulu dengan dasar Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi. “Karena tidak mungkin sekalian, jadi lima orang dulu yang kita gelar dan alhamdulillah sudah P21,” katanya.

Saat ini, masih ada delapan tersangka lagi yang sebelumnya sudah ditetapkan oleh subdit yang membidangi persoalan perbankan di Dit Reskrimsus. Dari delapan tersangka itu, Armensyah mengatakan, ada dua kepala dinas atau dua pejabat di Bireuen yang disebut-sebut terlibat dalam kasus tersebut. “Itu belum kita jadikan tersangka dalam kasus korupsi, statusnya masih tersangka pada kasus perbankan, tapi sudah dilimpahkan. Jadi, ke depan kita akan gelar dulu,” kata Armensyah.

Adapun barang bukti yang berhasil disita dalam kasus itu, satu unit mobil Honda Jazz. satu unit mobil Toyota Rush, satu unit Toyota Avanza, Toyota Fortuner, Toyota Agya, dan satu unit Honda Freed. “Dari jumlah barang bukti yang disita tersebut, dapat dihitung dalam bentuk rupiah senilai lebih kurang Rp 1,3 miliar. Kelima tersangka ini juga melanggar Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang Jo Pasal 55 dan 56 KUHPidana,” pungkasnya.(dan) (uri/sih/ebrinaldy/AF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id