Perluasan Jaringan PLTU Nagan Terkendala Lahan | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Perluasan Jaringan PLTU Nagan Terkendala Lahan

Foto Perluasan Jaringan PLTU Nagan Terkendala Lahan

BANDA ACEH – General Manajer PLN Wilayah Aceh, Bob Syahril mengatakan hingga kini pihaknya masih terkendala pembebasan lahan untuk perluasan jaringan PLTU Nagan Raya, seperti di Aceh Barat, Nagan Raya, dan Aceh Barat Daya (Abdya). Antara pihak PLN dan pemilik lahan belum tercapai kesepakatan ganti rugi.

Bob Syahril menyampaikan hal ini saat berkunjung ke Kantor Harian Serambi Indonesia di Gampong Meunasah Manyang PA, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, Selasa (22/3), yang juga sekaligus menjadi narasumber dalam Talkshow Salam Serambi di Radio Serambi FM 90.2 Mhz.

Kedatangannya bersama sejumlah petinggi PLN Aceh itu disambut Pemimpin Umum Serambi Indonesia, H Sjamsul Kahar, Pemimpin Perusahaan, Mohd Din, Redaktur Pelaksana, Yarmen Dinamika, Wakil Redaktur Pelaksana, Nasir Nurdin, Manajer Radio, Nani Hs, Manajer Iklan, Hari Teguh Patria, Manajer Percetakan Komersil, Firdaus, dan Manajer Promosi, M Jafar.

“Kondisi ini sudah berlangsung sejak lima tahun terakhir. Akibatnya, sejumlah kabupaten itu masih mengandalkan suplai listrik dari PLTD, walaupun di kawasan itu sudah beroperasi PLTU Nagan Raya,” kata Bob Syahril.

Sedangkan secara keseluruhan, kata Bob Syahril salah satu persoalan listrik di Aceh selama ini adalah keberadaan ranting pohon di sekitar jaringan, sehingga menjadi salah satu penyebab pemadaman yang selama ini terjadi. Sebab ranting pohon yang bersentuhan dengan kabel tegangan menengah akan menyebabkan daya listrik menghilang.

Bob Syahril menyebutkan panjang jaringan di Aceh sekitar 11.000 ribu kilometer dengan melintas berbagai bentang alam, sehingga sangat sering terjadi gangguan oleh faktor alam, seperti tersangkutnya ranting pohon dan hewan liar.

“Selama ini petugas sudah berupaya melakukan pembersihan dahan pohon yang diperkirakan menganggu jaringan, namun dalam kegiatan di lapangan tidak semua masyarakat sepakat pohon mereka ditebang, sehingga hal itu sering menjadi kendala,” ujar Bob, kemarin.

Karena itu, Bob Syahril mengatakan mengatakan, jika ada masyarakat yang rela membantu pembersihan ranting sekitar jaringan listrik di pemukimannya, maka akan sangat membantu kelancaran suplai arus listrik ke pelanggan. Menurut Bob Syahril, solusi untuk masalah itu, yakni mengganti ke sistem kabel bawah tanah. Namun masalahnya, dana yang dibutuhkan untuk kabel bawah tanah sangat besar, di samping juga terkendala pembebasan lahan dengan pemiliknya.

Masih menurut Bob Syahril, saat ini daya listrik di Aceh 344 MW, dari kebutuhan saat beban puncak hanya 325 MW. Rinciannya bersumber dari PLTMG Arun 184 MW dan PLTU Nagan 160 MW. Bahkan, jika PLTA Peusangan sudah selesai pada 2018, maka akan bertambah lagi 84 MW.

Walaupun daya listrik di Aceh sudah surplus, namun bila salah satu mesin rusak maka dapat menyebabkan pemadaman. Bob mencontohkan, jika satu mesin di PLTU Nagan rusak, seperti beberapa waktu lalu, maka akan berkurang 80 MW. Akibatnya Aceh hanya memiliki daya 264 MW dari beban puncak yang masih tetap sama, yakni 325 MW. (mun) (uri/nton/ariana/AM)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id