Tarif Listrik Mencekik | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Tarif Listrik Mencekik

Tarif Listrik Mencekik
Foto Tarif Listrik Mencekik

BANDA ACEH – Pencabutan subsidi listrik berdampak pada membengkaknya pengeluaran masyarakat, bahkan ada yang tak mampu menyembunyikan rasa kaget ketika harus membayar rekening listrik dengan penambahan antara 30 hingga 100 persen dari biasanya.

Informasi yang dihimpun Serambi, kenaikan tarif listrik mulai dirasakan masyarakat sejak Februari hingga Juli 2017. Rata-rata yang mengalami kenaikan merupakan pelanggan berkapasitas empat ampere ke atas.

Halim, warga Gampong Ateuk Pahlawan yang berprofesi sebagai tukang bangunan mengatakan, selama ini ia rutin membayar listrik setiap bulannya antara Rp 150.000 hingga Rp 200.000. Namun sejak Mei 2017, uang yang harus dikeluarkan untuk rekening listrik menjadi Rp 350.000, dan melonjak menjadi Rp 450.000 pada bulan Juni. “Pada bulan Juli turun sedikit menjadi Rp 380.000,” kata Halim.

Halim mengeluhkan kondisi tersebut, karena walaupun sudah berhemat tetap saja sebagian besar penghasilan dihabiskan untuk tagihan listrik. “Rekening listrik sudah lebih besar daripada untuk beli beras,” ujarnya.

Pelanggan lainnya, warga Gampong Jeulingke, Banda Aceh, Bukhari M Ali mengatakan, selama ini tagihan listrik di rumahnya berkisar pada angka Rp 1 jutaan, namun sejak empat bulan terakhir tagihannya terus melonjak. Ia merincikan, Mei 2017 ia membayar Rp 1,07 juta, Juni naik menjadi Rp 1,18 juta, dan Juli menjadi Rp 1,23 juta, terakhir pada pembayaran bulan Agustus tagihannya melonjak menjadi Rp 2 juta.

Hal yang serupa juga dirasakan warga Gampong Rukoh, Tgk Zulkhairi yang sudah beralih menggunakan sistem listrik prabayar. Menurutnya, token Rp 100.000 hanya bertahan sekitar lima hari hingga satu minggu di rumahnya. Sehingga per bulannya ia pernah menghabiskan Rp 700.000 untuk kebutuhan listrik.

“Sebelumnya pemakaian saya hanya sekitar Rp 200.000 per bulan, tapi sekarang naik bisa sampai 200 persen, padahal barang elektronik tidak ada yang bertambah, tetap satu AC, televisi, kulkas, dan sekitar lima bola lampu,’ ujarnya.

Ia juga sangat menyayangkan jika kenaikan itu karena dicabut subsidi oleh pemerintah. Seharusnya pemerintah dapat mempertimbangan subsidi listrik, karena terkait dengan kebutuhan semua lapisan masyarakat. Apalagi pelayanan yang diberikan oleh PLN belum maksimal, sehingga tidak sebanding dengan tagihan yang harus dibayar.

Seorang pelanggan lainnya di Gampong Ceurih, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh, Nasir Nurdin menyebutkan, sejak Januari hingga Juli 2017 dia membayar rekening listrik rata-rata antara Rp 1,2 juta hingga Rp 1,3 juta/bulan. “Jika mengacu pada data struk (bukti pembayaran rekening litrik) tampaknya saya sudah mengalami kenaikan sejak Januari 2017. Karena seingat saya sebelum itu membayar rata-rata di bawah Rp 1 juta,” kata Nasir.

Manajer Hukum dan Humas PT PLN Wilayah Aceh, T Bahrul Khalid kepada Serambi mengatakan, PLN tidak pernah melakukan kenaikan tarif listrik. Namun beberapa waktu lalu memang PLN mencabut subsidi kepada pelanggan yang mampu, sehingga mereka yang selama ini pelanggan empat ampere menjadi enam ampere.

“Kalau ada kenaikan biaya tagihan itu bukan karena tarif listrik naik, tapi karena mereka sudah tidak disubsidi lagi, jadi karena tidak ada lagi subsidi bisa saja tagihan sekarang menjadi dua kali lipat,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pencabutan subsidi itu hanya berlaku bagi pelanggan yang mampu, sedangkan pelanggan empat ampere yang kurang mampu masih disubsidi. Ia menyebutkan, dalam menetapkan itu pihaknya melakukan survei yang melibatkan keuchik masing-masing gampong, sehingga data warga mampu dan tidak mampu dari Keuchik menjadi acuan PLN dalam mengambil kebijakan pencabutan subsidi. Kemudian diverifikasi lanjutan ke kantor camat. “Kalau pelanggan sudah ada AC dan kulkas, itu kita anggap warga yang mampu,” ujarnya.

Menurutnya, pemotongan subsidi sudah dilakukan secara bertahap sejak Januari hingga Juni 2017. Sehingga otomatis biaya tagihan juga mengalami kenaikan secara perlahan.

Selama masih disubsidi, tarif listrik dibagi dalam beberapa blok (pembagian) yang tergantung dari besaran pemakaian, yaitu blok 1 Rp 275/kwh, blok 2 Rp 445/kwh, blok 3 Rp 495/kwh, serta tarif listrik prabayar Rp 606/kwh.

Namun setelah subsidi dicabut, tarif menjadi sama antara prabayar dengan pascabayar yaitu Rp 1.352/kwh. Tapi khusus bagi pelanggan listrik prabayar akan terbebas dari biaya beban dasar, sedangkan pelanggan pascabayar masih harus menanggung biaya beban dasar sekitar Rp 48.000/bulan, dari sebelumnya Rp 20.000/bulan.

Untuk mengantisipasi membengkaknya tagihan, pihak PLN mengimbau agar pelanggan melakukan penghematan. Serta beralih menjadi pelanggan listrik prabayar, karena bebas biaya beban dasar.

Bahrul juga menjelaskan, jika ada pelanggan yang merasakan tagihannya melonjak hingga 50 persen ke atas memang sudah semestinya seperti itu, akibat tidak ada lagi subsidi. Namun pelanggan juga dapat mendatangi PLN rayon terdekat untuk menanyakan informasi pemakaian secara detil.(mun) (uri/syrafi/orat/AG)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id