Dimaafkan, tapi tak Bisa Dilupakan | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Dimaafkan, tapi tak Bisa Dilupakan

  • Reporter:
  • Selasa, Agustus 22, 2017
Dimaafkan, tapi tak Bisa Dilupakan
Foto Dimaafkan, tapi tak Bisa Dilupakan

OLEH AL-ZUHRI, Kepala Bidang Jurnalistik pada Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Tiongkok, melaporkan dari Nanjing, Provinsi Jiangsu

FORGIVEABLE, but Unforgettable. Begitulah kalimat awal menyambut siapa saja yang masuk ke The Memorial Hall of The Victims in Nanjing Massacre by Japanese Invaders yang disingkat menjadi Nanjing Massacre Memorial Hall.

Kalimat tersebut memiliki arti “Dimaafkan, tapi tidak bisa dilupakan”. Makna yang sungguh dalam yang ingin ditampilkan oleh Pemerintah Tiongkok bahwa ini adalah sedih yang sungguh luar biasa. Dalam bahasa Mandarin orang menyebut museum ini sebagai Qin Huá Rìjun Nánjing Dà Túsha Yùnàn Tóngbao Jìniànguan yang berarti Balai untuk Memperingati Korban Pembantaian Nanjing oleh Tentara Jepang.

Awal masuknya saja kita sudah disugesti dengan kalimat bernada tegas, membekas langsung mengena. Suasana dalam ruangannya pun dibuat histeris dan remang dengan pencahayaan serta instrumen yang membuat risih telinga, kalut pikiran, dan membangkitkan iba. Gedung ini benar-benar dipoles sedemikian rupa untuk mampu mengilustrasikan bagaimana suratan hidup orang-orang yang dihilangkan nyawanya dalam keterpaksaan. Tangisan pecah di tengah ancaman perintah, darah mengucur bagaikan kuah, nyawa-nyawa dicabut paksa hingga pasrah dalam amarah, dan rasa sayang hilang oleh timah panas yang tak bertuah. Begitulah setidaknya secercah ilustrasi tentang apa yang terjadi kala itu.

Tempat ini kini hanya jadi saksi bisu betapa kelamnya waktu itu, menghilangkan harapan hidup manusia yang diperkirakan mencapai 300.000-an. Begitu murahnya harga sebuah nyawa bagi mereka yang tidak memiliki belas kasih sayang.

Di dalam gedung ini bahkan masih ada tulang belulang yang masih utuh dari orang-orang yang dibabat tanpa ampun. Pun begitu dengan data orang-orang yang telah menjadi korban dipajang beserta foto dan nama-namanya. Pasalnya, di lokasi ini jugalah orang-orang tersebut dibantai dan dikubur secara massal. Satu sisi, suasana di dalamnya tak berbeda jauh dengan Museum Tsunami yang ada di Banda Aceh.

Peristiwa ini terjadi tahun 1937 di Nanjing atau dulunya disebut dengan Nanking. Kota ini pernah menjadi ibu kota Tiongkok sebelum terjadi beberapa kali perpindahan dan berakhir di Beijing sebagaimana hari ini. Banyak sejarah yang tertumpuk di kota ini membuka ladang penelitian besar bagi orang-orang yang bergelut di bidangnya.

Masuk ke dalam Nanjing Massacre Memorial Hall cuma-cuma saja alias free. Sangatlah mudah mengenali museum ini, terlebih subway/MRT (Mass Rapid Transit) berjarak dekat darinya. Tinggal melintasi jalan setelah ke luar melalui Entrance & Exit 3 di Yunjin Road Station dan berjalan sekitar tiga menit dari sana kita akan temukan bangunan ini.

Selanjutnya, di bagian luar gedung dibangun pula patung-patung besar dengan menonjolkan ekspresi mengenaskan dari setiap patungnya. Anak yang menatap pilu kematian orang tuanya, ayah yang kehilangan istri dan anaknya, para wanita yang direnggut kehormatannya, orang tua merangkak dengan darah di sekujur tubuhnya, dan berbagai ekspresi pilu lainnya. Ini merupakan mimik-mimik yang diharapkan mampu mengilustrasikan situasi riil pada masanya.

Setidaknya, peristiwa itu menyisakan bekas luka mendalam bagi Tiongkok. Itu sebab, program televisi hariannya tak pernah terlewatkan dengan siaran tentang perperangan Tiongkok dengan Jepang. Malah tak cukup sampai di situ, kejadian ini selain difilmkan juga sudah ditulis di buku-buku, bahkan dimainkan di panggung teater. Ini salah satu upaya untuk mengingatkan kepada generasinya bahwa Jepang pernah menjarah Tiongkok dan merampas harapan hidup banyak orang tanpa kejelasan. Jadi, setiap anak yang lahir akan diceritakan ulang bagaimana laranya ketika zaman itu datang. Setidaknya begitulah gambaran tentang usaha Pemerintah Tiongkok merawat sejarah bangsanya. Mereka tak ingin rakyatnya lupa akan perjuangan orang-orang pada masanya. Kendatipun beritanya Jepang pernah menyangkal kejadian ini, sedang Tiongkok memiliki bukti kuat atas nestapa tersebut. Bagaimana dengan kita di Tanah Air? Apa kabar dengan sejarah-sejarah yang bahkan isunya sudah banyak yang redup bahkan sirna?

Ajakan saya, tak peduli Anda anak sejarah atau tidak, belajarlah untuk sadar sejarah karena hidup berawal dari sejarah. Dari sejarah kita juga bisa belajar banyak hal tentang makna hidup dan menjadi kompas untuk mencapai perubahan, sehingga tidak jatuh ke dalam lubang yang sama. Adanya kita dan negeri ini juga tidak lepas dari sejarah-sejarah yang pernah hidup. Oleh sebab itu, jangan pernah lupakan sejarah yang telah diukir menggunakan dawat keringat bahkan darah oleh pahlawan kita. Tentunya ada banyak cara untuk merawat sejarah selain difilmkan atau digores dalam lembaran-lembaran kertas.

Apa yang terjadi di Tiongkok dulu tak ubahnya seperti apa yang sedang menimpa saudara-saudara kita di bumi Syam. Hanya bisa tertegun teringat juga dengan masa konflik di tanah kelahiran sendiri. Kenapa banyak dunia muslim diam dengan apa yang terjadi pada saudara-saudaranya hari ini? Saya hanya bisa mendoakan, semoga dunia aman dan semua muslim di dunia dilindungi Allah dari berbagai keburukan dunia maupun akhirat.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: [email protected] (uri/hon//JK)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id