Empat Embung Mulai Kering | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Empat Embung Mulai Kering

Empat Embung Mulai Kering
Foto Empat Embung Mulai Kering

* Tanaman Padi Petani Terancam

BANDA ACEH – Ancaman kekeringan masih menghantui para petani di Aceh Besar. Pasalnya, empat embung yang selama ini menjadi sumber air untuk persawahan warga kondisinya sudah mulai kering akibat musim kemarau berkepanjangan yang melanda wilayah Aceh Besar dan Banda Aceh.

Akibat kemarau panjang itu, permukaan air di keempat embung tersebut sudah berada di bawah permukaan pintu air. Kondisi itu tentunya mengancam persawahan warga. Apalagi selama ini ratusan bahkan ribuan hektare tanaman padi petani mengalami gagal panen atau puso.

Kondisi itu diungkapkan Kepala Dinas Pengairan Aceh, Ir Hasanuddin MM, saat meninjau embung-embung yang ada di wilayah Aceh Besar, Senin (21/8). Seperti di Embung Lambenot, Kecamatan Simpang Tiga. “Dalam kolam airnya memang masih ada, tapi sudah berada di bawah pintu air embung, sehingga untuk mengatasi ancaman kekeringan, petaninya terpaksa harus menempatkan pompa untuk mengairi sawah,” katanya, kepada Serambi, kemarin.

Selain Embung Lambeunot, Hasanuddin juga meninjau Embung Neuhun, Blang Karam, dan Twi Geulumpang. Dalam kondisi normal air, jelasnya, ketinggian air dari lantai dasar sekitar 2-3 meter. Namun sekarang ketinggiannya hanya sekitar 30 cm, sehingga air dalam embung sudah tidak bisa mengalir ke persawahan petani.

Ditambahkan, dari empat embung yang ditinjau, hanya Embung Lambeunot yang masih banyak ditumbuhi pepohonan. Sementara, kawasan di tiga embung lainnya sudah gersang. Akibatnya, begitu masuk kemarau panjang, air dalam kolam langsung menyusut.

“Kondisi tanah yang gersang menyebabkan cadangan air di lokasi itu tidak tersedia. Selain itu penyebab menyusutnya air di embung juga bisa dikarenakan adanya kerusakan atau kebocoran di bendungan embung itu sendiri,” jelas Hasanuddin.

Karenanya, Kadis Pengairan Aceh itu meminta kepala bidang yang menangani masalah embung itu untuk segera mencarikan solusinya, sehingga di tahun depan bisa diperbaiki. “Jika persoalan itu tak diselesaikan, maka program pengentasan kemiskinan di pedesaan sulit dilakukan.”

Hasanuddin merincikan, untuk satu hektare saja kalau gagal panen petani bisa mengalami kerugian hingga Rp 22,5 juta. “Jika setiap hektare menghasilkan gabah lima ton dengan harga jual Rp 4.500 per kilo, bisa dipastikan petani akan mengalami kerugian Rp 22,5 juta. Berapa besarnya kalau kegagalan itu menimpa ratusan bahkan ribuan hektare,” pungkas Kadis Pengairan Aceh itu.(her) (uri/wi/ovi/ovianti/DNN)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id