Aceh Jadi Daerah Transit Sabu, Bagaimana Mencegah? | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Aceh Jadi Daerah Transit Sabu, Bagaimana Mencegah?

Aceh Jadi Daerah Transit Sabu, Bagaimana Mencegah?
Foto Aceh Jadi Daerah Transit Sabu, Bagaimana Mencegah?

Narkotika asal luar negeri yang beredar di Indonesia, makin ketahuan ternyata sebagiannya dimasukkan melalui Aceh lewat laut. Yang mengerikan, sindikat narkoba internasional ini tak pernah kapok meski banyak anggota jaringannya yang sudah tewas ditembak aparat.

Akhir pekan lalu, Tim Badan Narkotika Nasional (BNN) Pusat menangkap lima warga Aceh Timur, Pidie, dan Aceh Utara yang membawa 40 kg sabu dengan dua mobil. Mereka disergap di Jalan Nasional Banda Aceh-Medan, kawasan Kota Pantonlabu, Aceh Utara.

“Barang-barang terlarang itu berasal dari sindikat di Malaysia yang beberapa di antaranya sudah kita tembak mati saat akan memasok sabu-sabu mulai dari jalur darat di Kalimantan. Dengan terungkapnya jaringan ini kita harapkan pasokan sabu-sabu ke Indonesia semakin berkurang,” kata Deputi Pemberantasan BNN Pusat, Irjen Arman Depari.

Penangkapan 40 kg sabu bersama lima tersangka pemasok merupakan rancangan operasi bersama, tidak hanya BNN. Rangkaian operasi dilakukan sejak Agustus dan sudah menangkap sejumlah bandar narkoba di Indonesia mulai dari 10 kg sabu, 17 kg, 100 kg, dan 400 kg.

Salah satu jalur pasokan narkoba ke Aceh, menurut Arman Depari adalah melalui Selat Malaka. Pelaku menggunakan perahu menuju tengah laut Selat Malaka dan di sana sudah ditunggu dengan kapal lain asal Malaysia yang membawa sabu-sabu. Setelah menerima sabu dari kapal, mereka langsung balik ke Aceh dan masuk melalui melalui pelabuhan tikus antara lain di Idi, Aceh Timur.

Menurut Arman karena sering berhasil membawa sabu-sabu ke daratan Aceh dan kemudian mengedarkannya ke hampir seluruh Indonesia, para anggota sindikat ini banyak yang sudah kaya raya. Ada yang sedang membangun tiga rumah sekaligus. Ada yang mendadak bisa beli mobil mewah lebih dari satu. “Semua aset-aset mereka yang sudah kita ketahui, dalam waktu dekat akan disita,” kata pejabat BNN Pusat itu.

Tentang narkoba di Aceh ini, Gubernur Irwandi Yusuf juga sudah menyatakan keprihatinannya. Yang jual, yang beli, dan yang nikmati sudah merasuk ke semua lapisan masyarakat Aceh. Sebagai contoh, baru-baru ini seorang anggota DPRA tertangkap sedang menikmati sabu bersama teman-temannya.

Oleh sebab itulah, beberapa hari setelah dilantik sebagai Gubernur Aceh, Irwandi mengingatkan aparat terkait di daerah ini supaya benar-benar serius memberantas narkoba dengan tindakan tegas.

Dan, benar seperti dikatakan pejabat BNN tadi, bahwa memberantas narkoba tidak bisa diserahkan kepada BNN atau Polri saja, tapi harus melibatkan banyak pihak. Ya, termasuk menjaga keamanan laut yang sudah terang-terangan diketahui sebagai salah satu pintu masuk terbesar sabu dan jenis narkotika lainnya ke Aceh. Demikian pula aparat di bandara harus tambah jeli memelototi barang-barang bawaan penumpang.

Lalu, di jalur darat juga masih sangat sering kecolongan oleh para pedagang ganja, harus lebih diperketat lagi. Buktinya, ganja-ganja yang hampir setiap hari tertangkap di Sumut, Pekanbaru, Palembang, Lampung, Jakarta, dan kota-kota besar lain umumnya berasal dari Aceh. (uri/ilati/sra/MU)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id