Teruslah Mencari Persamaan, Agar Perdamaian Tetap Terjaga | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Teruslah Mencari Persamaan, Agar Perdamaian Tetap Terjaga

Teruslah Mencari Persamaan, Agar Perdamaian Tetap Terjaga
Foto Teruslah Mencari Persamaan, Agar Perdamaian Tetap Terjaga

Oleh Irwansyah (Muksalmina)* 

KITA semua bukan berbeda, namun kita hanya beragam saja. Beragam suku, beragam profesi, beragam wilayah, beragam partai, beragam tingkat ekonomi, beragam tingkat pendidikan, beragam pengalaman, beragam tingkat iman dan berbagai keberagaman lainnya.

Maka teruslah mencari persamaan dari berbagai sisi dan sudut pandang, karena hanya dengan cara itulah sikap toleransi bisa terbangun, perdamaian ini akan terjaga, dan pembangunan bisa terus dipacu. Ini bukan retorika namun sesuatu yang bisa kita kerjakan dan wujudkan.

(Baca: Merawat Perdamaian Mengisi Pembangunan)

Pada kesempatan ini penulis mencoba memaparkan beberapa hal mendasar dan sangat mungkin untuk kita mulai;

1. Meyakinkan diri sendiri
Bisakah kita bersama dan terus bersama? Bersama yang penulis maksud bukan seragam karena kita memang beragam, namun penulis ingin mengajak semua pembaca khususnya rakyat Aceh berfikir lebih positif.

Bahwa kita memiliki seribu alasan untuk terus saling menyalahkan. Namun kita juga memiliki seribu satu alasan untuk saling membenarkan, saling mendukung, saling mengisi, saling memberi, dan berjuta alasan lainnya untuk saling melengkapi. Artinya, alasan akan terus ada selama kita meyakininya.

Dalam konteks pembangunan Aceh, sebelum kita memulai lebih jauh seperti apa Aceh ingin kita bangun, terlebih dahulu kita mesti meyakinkan diri sendiri bahwa keberagaman kita merupakan satu kekuatan.

Setelah keyakinan itu ada maka rasakan bagaimana berjuta alasan akan terus ada untuk kita saling melengkapi dan bahu membahu. Cara ini jangan dibolak balik.

(Baca: Eks Kombatan Kibarkan Bintang Bulan di Depan Rumah, Katanya untuk Memperingati Perdamaian GAM-RI)

Maksudnya jangan alasan dulu baru ditarik kesimpulan yakin atau tidak, karena otak kita bersifat baharu yang akan terus menambah alasan demi alasan sesuai dengan kecendrungan keyakinan.

Penulis selalu berkeyakinan, bahwa semua orang pasti ingin membangun Aceh ke arah lebih baik. Tidak ada kepala daerah dan atau wakil rakyat yang maju mencalonkan diri untuk menghancurkan Aceh. Lalu kenapa juga selama ini banyak yang “ribut” atas nama rakyat? Bukankah DPRA, Gubernur dan Wakil Gubenur, semuanya dipilih oleh rakyat?

2. Mencoba hal baru
Materi yang sama, cara yang sama, tidak akan selalu menghasilkan sesuatu yang sama, karena kita selalu berada di ruang dan waktu yang berbeda.

Artinya pasti selalu ada hal baru. Jadi jangan takut melakukan hal baru karena sesungguhnya kita tidak bisa menghindari hal baru.

Begitu juga dalam peta politik Aceh. Bukankah Partai Aceh (PA) dan Partai Nanggroe Aceh (PNA) bisa saja membuat koalisi baru sebagai koalisi pemerintahan? Atau bisa saja semua koalisi di parlemen membubarkan diri dan semua menjadi partai pendukung pemerintahan.

(Baca: Terkait Statemen Wagub, Politisi PA: Budayakan Ngopi dengan Rival Politik)

Jadi mulai sekarang berhentilah berbicara, bersikap atau melakukan sesuatu yang bisa menginggung perasaan sesama apalagi berlebihan.

Karena bisa jadi kita semua ke depan berada dalam koalisi yang sama, Koalisi Rakyat Aceh demi kepentingan pembangunan Aceh.

3. Mengambil Peran
Irwandi – Nova dipilih dan memenangkan suara rakyat dalam pilkada kemarin dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satunya visi misi dan program unggulan yang sekarang akan diturunkan menjadi RPJM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah) Aceh lima tahun ke depan.

(Baca: Wagub Aceh Minta Maaf atas Pernyataannya di Rakerda PDIP)

Adakah salah satu dari kita semua yang berusaha menghambat proses itu semua? Tentu jawabannya tidak.

Kalaupun ada upaya yang seolah olah penghadangan penulis beranggapan itu sebagai upaya mengambil peran agar semuanya benar-benar berjalan untuk kepentingan rakyat.

Maka bersyukurlah bila banyak yang mengkritisi, karena bisa menghilangkan kita dari penyakit yang paling berbahaya, yaitu penyakit “merasa”.

Merasa sudah benar, merasa paling banyak bekerja, merasa paling mewakili rakyat, dan merasa lain sebagainya.

Jadi mari kita semua mengambil peran dan tanggung jawab sesuai dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) kita masing-masing dan hindari penyakit “merasa”.

Tulisan ini sengaja penulis tuang di hari-hari pertama penulis akan mengabdikan diri pada rakyat Aceh di DPRA. Semoga kehadiran penulis di DPRA bisa mewarnai dan menjadi perekat bagi semuanya.

Seberapa pun hebat diri kita masing masing, BERSAMA jauh lebih baik.

* Irwansyah atau muksalmina adalah Anggota DPR Aceh dari Partai Nasional Aceh.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca URI.co.id. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis. (uri/inaldy/eryance/RG)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id