Sakit Hati Lalu Bakar Kampus, Dibenarkankah? | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Sakit Hati Lalu Bakar Kampus, Dibenarkankah?

Sakit Hati Lalu Bakar Kampus, Dibenarkankah?
Foto Sakit Hati Lalu Bakar Kampus, Dibenarkankah?

Dua hari berturut-turut kasus pembakaran Gedung Biro Rektor Universitas Malikussaleh (Unimal) di Gampong Reuluet, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, menempati posisi sebagai berita penting dan menarik, sehingga dimuat di halaman 1 Harian Serambi Indonesia. Pada hari pertama, Sabtu, 19 Agustus 2017, kasus itu bahkan menjadi berita utama (headline) di halaman muka dengan judul: Biro Rektor Unimal Dibakar. Pada hari kedua, Minggu kemarin, sebagai running news, berita tentang Unimal masih menempati halaman 1 dengan judul: Tim Puslabfor Selidiki Kasus Kebakaran di Unimal.

Harus diakui, kasus ini memang memiliki magnitude yang tinggi, bikin heboh, dan mencengangkan, karena gedung biro rektor senilai Rp 10 miliar itu sengaja dibakar! Total kerugian hampir Rp 50 miliar, karena ada perangkat teleconfrence canggih, server superbesar, sejumlah komputer, serta mobiler di ruang kerja rektor maupun di ruang rapat senat ikut hangus atau tak lagi berfungsi. Dan yang membakarnya adalah orang yang selama ini sangat dikenal wajah dan kiprahnya di lingkungan Biro Rektor Unimal karena berprofesi sebagai teknisi listrik. Cuma bedanya, dia bukan pegawai tetap, apalagi pegawai negeri sipil, melainkan seorang tenaga kontrak.

Nah, statusnya sebagai tenaga kontrak inilah yang sepertinya ikut menyumbang masalah dalam kasus besar ini. Safwandi–demikian nama pria berumur 34 tahun itu–berterus terang kepada penyidik di Polres Lhokseumawe bahwa ia sengaja membakar gedung biro rektor itu karena sakit hati kontraknya tak lagi diperpanjang. Simpel sekali alasannya dan seolah alasan itu sangat masuk akal.

Dengan mengemukakan alasan seperti itu, Safwandi sebetulnya sedang bersandiwara. Dia ingin orang lain, bahkan sejagat raya ini, tahu bahwa tindakannya itu pantas dibenarkan karena dasarnya ia kecewa.

Tapi sesungguhnya, seperti diterangkan Rektor Unimal Prof Apridar kepada Serambi, kontrak kerja Safwandi tak lagi diperpanjang itu tidak terjadi secara serta-merta, melainkan sudah lebih dulu melalui proses analisis kinerja oleh satu tim, bukan oleh rektor pribadi. Tim itu adalah badan pertimbangan jabatan dan pangkat (Baperjakat) yang sudah sejak lama ada di Unimal. Karena tim ini menemukan rekam jejak kinerja Safwandi yang sering bolos dan kurang disiplin, apalagi sudah diperingatkan sebelumnya, maka kontraknya tak lagi diperpanjang. Sesuatu yang lumrah sebetulnya bagi tenaga kontrak tahunan.

Evaluasi terhadapnya dilakukan 23 Agustus 2016, kemudian kontraknya tak lagi diperpanjang sejak Januari 2017, karena SK-nya memang per tahun. Jadi, ia di-PHK bukan dua hari sebelum gedung biro rektor itu ia bakar. Di sini terlihat Safwandi bersandiwara, jika tak boleh dikatakan berdusta kepada penyidik.

Dan ini fakta lain yang juga penting bahwa bukan cuma Safwandi yang kontraknya tak lagi diperpanjang sejak 1 Januari 2017, tapi mencapai belasan orang. Nah, kalau argumen Safwandi bisa diterima sebagai dasar pembenaran atas tindakan nekatnya itu, mengapa belasan orang lainnya yang di-PHK tidak ikut cara Safwandi dalam meluapkan rasa kecewanya terhadap Unimal? Dalam artian, mereka juga ramai-ramai ikut membakar gedung tertentu di Unimal?

Para penegak hukum, terutama hakim nantinya, harap jangan terkecoh oleh alasan Safwandi ini. Argumen yang ia kemukakan tidak boleh menjadi alasan pemaaf baginya, karena ia memang berencana sejak lama untuk membakar gedung, dan itu sudah dia sampaikan kepada seorang wakil rektor. Ini sebetulnya dapat dikualifisir sebagai perbuatan teror terhadap pendidikan tinggi.

Satu hal lagi yang menyesakkan dada: ia juga tidak menunjukkan sedikit pun rasa penyesalan terhadap perbuatannya itu, seperti diungkapkan Kasat Reskrim Polres Lhokseumawe, AKP Budi Nasuha. Nah, biarlah sidang pembaca yang menjadi “pengadil” kasus Safwandi ini dengan harapan tidak muncul Safwandi-Safwandi lain di negeri ini. (uri/ngbert/atoel/EL)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id