Refleksi Naratif Tiga Penyair Muda Medan | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Refleksi Naratif Tiga Penyair Muda Medan

Refleksi Naratif Tiga Penyair Muda Medan
Foto Refleksi Naratif Tiga Penyair Muda Medan

Oleh: Yulhasni, Penulis adalah penikmat sastra dan sekarang anggota KPU Sumut

Horatius, seorang kritikus Romawi, mensyaratkan dua hal bagi puisi, yakni indah dan menghibur (dulce), namum pada saat yang sama puisi juga harus berguna dan mengajarkan sesuatu (utile). Apakah keindahan dan kegunaan dapat mengalahkan wilayah penciptaan seorang pengarang yang tanpa batas?

Perenungan adalah proses kreatif menuju puncak imajinasi. Teks kemudian menjadi wujud dari proses tersebut. Untuk sampai pada teks, maka seorang penyair harus bertungkus-lumus merekam setiap jejak pribadi, orang di sekitar, dan lingkungannya. Soni Farid Maulana dalam bukunya Apresiasi dan Proses Kreatif Menulis Puisi (2012) menyatakan dorongan hati menulis puisi, muncul dalam diri seorang penyair tidak datang begitu saja dari dunia tak dikenal, akan tetapi datang dari sebuah pengalaman yang dihayatinya secara total.

Seperti petikan sajak Joko Pinurbo berjudul Menulis Lagi yang termaktub dalam buku “Surat Kopi”: hari inu aku menulis lagi/banyak sepi berwajah baru di sini/banyak rindu belum kutandatangan. Banyak ide dan gagasan yang berkelindan di fikiranpenyair dan dituangkan dengan gaya bahasa tersendiri.

Semuanya untuk tujuan merekam realitas. Pada kurun waktu lima tahun terakhir, pertumbuhan penyair muda wanita Medan cenderung menggembirakan. Dari sekian banyak itu, saya mencatat 3 (tiga) penyair wanita muda dengan gagasan dan penciptaan bahasahampir sama yakni refleksi realitas. Pertama, penyair Sartika Sari yang telah memunculkan kumpulan puisi Elegi Titi Gantung. Elegi Titi Gantung adalah refleksi pe-nyair terhadap tempat: tahun-tahun yang kecil/ tahun-tahun yang satir/aku menunggang malam di bawah/lidah komplotan bengal/laki-laki yang saling bertukar badan/remaja yang bermain dada berpasang-pasangan. Pada puisi ini, penyair mencoba merekam realitas kehidupan di Titi Gantung, sebuah tempat yang akrab bagi telinga orang Medan sebagai lokasi penjualan buku bekas.

Penyair berikutnya, Julaiha S. (Julaiha Sembiring). Penyair muda Medan juga merekam masa silam dalam buku kumpulan puisinya Mula-mula Kita Pergi, Selanjutnya Tersesat. Wanita yang baru saja mengikuti Majelis Sastera Asia Tenggara (MASTERA) di Bogor, 7-13 Agustus 2017 lalu itu, termasuk penyair yang juga rajin merekam realitas di sekitarnya. Simak petikan sajaknyaberjudul Mula-mula Kita Pergi, Selanjutnya Tersesat: mencari-cari tubuhmu dalam kasur/kapuk terbang memengapiruang mimpi/mula-mula kita pergi/ selanjut tersesak seperti orang kehujanan.

Penyair muda wanita ketiga adalah Ayu Harahap (24 thn). Dalam buku kumpulan puisinya Masa Silam Rahimmu(MSR), Ayu Harahap mencoba mencatat pengalamannya dalam 85 puisi. Tapi ini bukan soal dia lahir dan lantas penat,melainkan tentang masa silam yang harus didatangi kembali oleh si penyair.Sampai tulisan ini dibuat, buku MSR belum diluncurkan, meski beberapa eksemplarnya telah beredar pada sejumlah penikmat sastra di Sumatera Utara. Pada puisinya berjudul Untuk Istri Penyair,Ayu Harahap melukiskan masa silam tentang tubuh dan sajak: sekalipun tak ada kepang dua dan lipstik/istrikutetaplah saja/.

Masa silam seperti serpihan yangharus disusun oleh si penyair. Serpihan itu bisa berbentuk lokasi (tempat), orang, bahkan benda sekalipun. Serpihan itu direkam dan dituangkan padateks puisi. Inilah kenapa kemudian seorang penyair adalah sejarawan yang pintar merekam jejak dengan narasi yang indah. Ketiga wanita muda ini merekam masa silamnya dengan tekspuisi yang khas dalam bingkai bahasa metafora yang apik. Merekam masa silam bisa memunculkan berbagai tafsir terhadap teks puisi.

Tidak jarang penyair justruterjebak pada kesalahan mewujudkan pengalamam itu ke dalam bentuk teks puisi. Persepsi orang terhadap puisi Malam Lebaran karya Sitor Situmorang, yang dianggap tidak sesuai dengan fakta,salah satu contoh kesalahan mewujudkan masa silam tersebut. Apalagi jika masa silam tersebut telah diketahui khalayak ramai. Pengetahuan tentang sebuah masa silam telah ditorehkan ketiga penyair muda wanita Medan tersebut dengan gaya bahasa yang khas. Mereka merekam semua masa silam untuk dituangkan pada teks puisi yang cenderung naratif. Gaya penciptaan yang sama dimungkinkan karena interaksi ketiganya dalam sastra juga cenderung sama. Ketiganyaberproses di ranah penciptaan puisi Medan yang dari waktu ke waktu selalu memunculkan penulis-penulis muda berbakat. (uri/ilviana/ebriyani/SF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id