F-PA Sorot Biaya Peringatan MoU | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

F-PA Sorot Biaya Peringatan MoU

F-PA Sorot Biaya Peringatan MoU
Foto F-PA Sorot Biaya Peringatan MoU

* Kegiatan Seremonial Habiskan Rp 1,4 Miliar

BANDA ACEH – Ketua Fraksi Partai Aceh (F-PA) di DPRA, Iskandar Usman Al-Farlaky, menyorot pelaksanaan peringatan 12 tahun perjanjian damai MoU Helsinki pada 15 Agustus kemarin. Pasalnya, anggaran yang dihabiskan mencapai Rp 1,4 miliar, sementara acara yang dilakukan hanya bersifat seremonial.

“Jika hanya mengulang rutinitas seremonial, sebaiknya cukup dengan doa bersama saja. Tidak perlu menghabiskan anggaran yang besar, sampai Rp 1,4 miliar,” kata Iskandar kepada Serambi, Jumat (18/8) siang.

Subtansi peringatan MoU Helsinki dia katakan, sebenarnya adalah refleksi dan evaluasi, terutama terhadap butir-butir MoU yang selama ini dinilai tidak berjalan. Karena itu, sangat perlu mengundang hadir para tokoh dan inisiator perdamaian, seperti Marthi Artishari dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

“Kita perlu menanyakan kepada para tokoh tersebuttentang sikap mereka atas tidak berjalannya beberapa butir MoU Helsniki yang telah dijabarkan dalam UUPA,” ujar Iskandar.

Selain para tokoh perdamaian, pihak Uni Eropa atau LSM yang konsen dalam isu perundingan Aceh juga bisa diundang kembali untuk didengar pendapatnya tentang perdamaian Aceh. Hal ini dia pandang perlu agar tidak ada upaya pengingkaran yang sistemik. “Jadi bukan hanya menggelar acara seremonial belaka seperti kemarin,” pungkas Iskandar.

Informasi yang dia terima, peringatan 12 tahun MoU Helsinki yang dihelat di Lapangan Blangpadang kemarin dilaksanakan oleh Sekretariat Badan Rekonstruksi Aceh (BRA) bekerja sama dengan even organizer (EO). Namun yang ia sayangkan, peran pengurus (BRA) dalam kegitan tersebut justru dikesampingkan dan berada di bawah kendali EO.

Pihaknya berencana meminta Sekretariat BRA untuk menyerahkan laporan rinci peringatan. Di samping itu, Iskandar juga akan meminta kepada anggota Fraksi PA yang ada di komisi mitra yang menangani kegiatan tersebut untuk mencermati kembali secara teliti usulan alokasi dana pada peringatan tahun depan (2018).

“Usulan ini harus dicermati kembali. Jika hanya untuk seremoni, lebih baik dikoreksi untuk kegiatan lain yang lebih bermanfaat,” kata Anggota Komisi I DPRA ini.

Kurang bermakna
Sebelumnya, Juru Bicara Dewan Pimpinan Pusat Suara Rakyat Aceh (DPP-SURA), Murdani Abdullah, sebagaimana dilansir Serambinew.com, Kamis (17/8), juga menyoroti peringatan 12 tahun MoU Helsinki. Diamengatakan, peringatan perjanjian damai itu kurang bermakna, sebab di sisi lain UUPA justru terus dikebiri. “MoU Helsinki diperingati setiap tahun, tapi UUPA malah terus dikebiri. Ini kan naif sekali,” kata Murdani.

Seharusnya, dalam memperingati MoU Helsinki, Pemerintah Aceh memanggil para pihak yang terlibat dalam kesepakatan damai untuk duduk bersama membahas nasib MoU Helsinki dan UUPA. Setelah itu melakukan advokasi bersama. “Meunyoe seremonial, meu aneuk miet jeut dipeuget. Hana payah peu abeh peng rakyat,” pungkasnya.

Harus dikawal
Koordinator Pusat Mahasiswa Pemuda Peduli Perdamaian Aceh ([email protected]), Azwar A Gani, secara terpisah menyebut, UUPA yang menjadi turunan MoU Helsinki sampai saat ini sudah tiga kali diubah. Karena itu, MoU tidak cukup diingat melalui acara seremonial semata, tetapi juga harus dikawal bersama.

“Kami tidak anti dengan perubahan, tetapi kedaulatan sebagai daerah khusus akan terus kami awasi. Apabila ini terus kita tolerir, maka tidak tertutup kemungkinan kekhususan Aceh yang ada dalam MoU dan UUPA akan hilang. Kedaulatan daerah khusus harus kita jaga untuk keberlangsungan perdamaian di Aceh,” tegas Azwar.(dan) (uri/inaldy/eryance/RG)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id