Polisi akan Periksa Pasutri | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Polisi akan Periksa Pasutri

Polisi akan Periksa Pasutri
Foto Polisi akan Periksa Pasutri

* Terkait Penganiayaan Bocah Salsa

SIGLI – Kapolres Pidie, AKBP Andy Nugraha Setiawan Siregar SIK, mengatakan Satreskrim Polres Pidie akan memeriksa Saiful Ihwan (39), warga Desa Alahan Panjang, Kecamatan Lembah, Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat (Sumbar), dan istrinya, Cut Ainul Mardiyah (31). Pasangan suami istri (pasutri) itu ternyata masih berada di Kecamatan Tangse, Pidie, dan akan segera dijemput untuk menjalani pemeriksaan di Mapolres Pidie. Fakta terbaru ini sekaligus membantah kabar sebelumnya yang mengisukan pasutri itu sudah pindah ke Sumbar.

Saiful Ihwan adalah ayah tiri dari Salsa Sabila, sedangkan Cut Ainul Mardiyah–sebelumnya tertulis Ainal Mardiah–merupakan ibu kandung bocah dua tahun lima bulan itu. Baik Saiful maupun Cut Ainul dikait-kaitkan dengan kasus penganiayaan yang menimpa Salsa Sabila. Hampir di sekujur tubuh mungil korban ditemukan bekas penganiayaan. Tangan kiri Salsa bahkan patah, sehingga harus dioperasi.

Salsa juga mengalami trauma berat pascainsiden yang menimpanya. Peristiwa itu terjadi di Desa Krueng Seukek, Kecamatan Tangse, Pidie. Salsa kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Umum (RSU) Tgk Chik Di Tiro Sigli pada 2 Agustus 2017 oleh seorang pria yang mengaku pamannya.

“Pasutri Saiful Ihwan dan Cut Ainul Mardiyah masih di Tangse. Kita akan jemput keduanya ke Polres Pidie untuk diperiksa sebagai saksi atas dugaan penganiayaan bocah dua tahun lima bulan itu,” kata AKBP Andy Nugraha Setiawan Siregar, didampingi Kasat Reskrim Polres Pidie, AKP Samsul, kepada Serambi di ruang kerjanya, Kamis (17/8).

Menurut Kapolres Andy, untuk mengungkap kasus ini polisi akan memeriksa tiga saksi lebih dulu. Yakni, ibu kandung, ayah tiri, dan Nuraini (40), kakak kandung dari Cut Ainul Mardiyah. Kemarin siang, mereka sedang dalam perjalanan menuju Polres Pidie. “Kita minta bantuan perangkat gampong untuk memfasilitasi, agar ketiganya bersedia diperiksa di polres, karena kasus itu telah diambil alih Polres Pidie. Polisi melakukan penyelidikan sendiri karena orang tua bocah itu tidak mau melaporkan,” ujarnya.

Berdasarkan data awal hasil pemeriksaan Saiful Ihwan dan Cut Ainul Mardiyah yang diperoleh dari Polsek Tangse, pada Juli 2017 ibu kandung Salsa Sabila dan ayah tirinya masih tinggal di Desa Krueng Seukek, Tangse, yakni di rumah kakak kandungnya bernama Nuraini.

Menurut Andy, pasutri itu hanya sepuluh hari tinggal di rumah kakaknya. Kemudian mereka menyewa rumah kontrakan milik Mansur juga di Desa Krueng Seukek.

Sekira 20 hari tinggal di rumah kontrakan itu, Cut Ainul Mardiyah menitipkan Salsa pada Nuraini. Sejak dititipkan di rumah kakaknya, Salsa pun jatuh sakit dengan ciri-ciri lebam di muka, badan, dan kaki. Sementara tangan kiri Salsa patah. Disebut-sebut itu akibat kecelakaan saat Tarmizi (abang ipar Cut Ainul Mardiyah) membawa Salsa bersama Nuraini berobat di Pustu Blang Malo, Kecamatan Tangse, Pidie.

Andy menambahkan, awalnya pasutri itu mengaku kepada aparat Polsek Tangse bahwa penyakit yang dialami Salsa jenis cacar api. Ibu kandung Salsa juga mengaku kepada polisi bahwa Salsa memiliki riwayat penyakit tertentu. Penyakit itu muncul sejak Salsa dititipkan di rumah Nuraini.

“Saat itu penanganan medis terhadap tangan kiri Salsa yang patah akibat kecelakaan tidak maksimal, sehinggga tangan itu membengkak lagi dan harus dirawat di RSU Sigli,” katanya.

Terpisah, Anggota Komisi D DPRK Pidie, Teuku Saifullah TS, kepada Serambi kemarin mengatakan, penyidik kepolisian harus serius mengungkapkan kasus dugaan penganiayaan terhadap Salsa bocah berumur dua tahun. Sebab, kasus itu meninggalkan trauma mendalam yang seharusnya tidak perlu terjadi.

“Miris kita mengetahui bocah kecil menjadi korban aniaya. Apalagi gambar bocah itu sempat beredar di media sosial yang kondisinya cukup memprihatinkan dengan tangan patah dan luka-luka,” kata politisi dari Partai Golkar Pidie itu.

T Saifullah berharap kasus yang sama sedianya tidak pernah terjadi lagi di Pidie. “Jika terbukti secara hukum bersalah, jatuhkan sanksi kepada pelaku sesuai perbuatannya. Itu konsekuensi bagi pelaku yang sengaja menganiaya bocah yang belum tahu apa-apa. Juga menjadi pelajaran bagi yang lainnya,” ujar Saifullah.

Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf juga meminta polisi agar segera mencari keberadaan ayah tiri dan ibu kandung Salsa untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka terhadap bocah malang itu.

Irwandi juga mengaku sudah mengutus istrinya, Darwati A Gani, pada Rabu (16/8) siang untuk membesuk Salsa yang diopname di RSU Tgk Chik Ditiro Sigli.

Sementara itu, Darwati A Gani, juga meminta kasus mendera bocah Salsa Sabila segera diproses secara hukum, karena ia mengalami penganiayaan berat. “Sanksi hukum itu penting untuk menimbulkan efek jera dan menjadi pembelajaran bagi masyarakat lainnya,” kata Darwati seusai membesuk Salsa Sabila di ruang bedah RSU Tgk Chik Ditiro Sigli, Rabu (16/8). Dia meninggalkan sejumlah agenda di Banda Aceh demi melihat kondisi bocah malang itu.

Di rumah sakit itu, saat Darwati tiba Salsa sedang tidur dalam ayunan. Darwati dipersilakan duduk di meja pertemuan dan diterima oleh Direktur RSU Sigli, drg Mohd Riza Faisal MARS.

Direktur RSU Sigli menjelaskan bahwa kesehatan Salsa sudah hampir membaik. Cuma masih perlu penyembuhan aspek psikisnya. “Kalau lukanya sudah mulai sembuh,” kata drg Faisal didampingi dr Ikhsan SpOT MKes.

Pertemuan itu berlangsung sekira 30 menit (17.00-17.30 WIB). Darwati dan drg Faisal membahas langkah apa yang akan ditempuh untuk penanganan Salsa ke depan.

Sementara itu, Ketua KNPI Pidie, Teuku Syawal menuturkan, ada kesulitan menjembatani masalah ini jika dilaporkan ke polisi karena paman yang membawa Salsa ke rumah sakit juga ketakutan akan dicerai istrinya. Istri paman ini adalah kakak dari ibu kandung Salsa.

Namun begitu, Darwati mengaku siap mengambil alih Salsa jika masalah ini belum ditangani.

Persoalan ini, menurutnya, jangan sampai berlarut-larut. Harus segera diproses. “Harus diselesaikan cepat bagaimana masa depan bocah ini. Proses penyembuhannya bukan saja soal luka fisik, tapi juga aspek psikisnya. Siapa yang merawat dan di mana, itu juga harus segera dipikirkan, sebelum korban ke luar dari rumah sakit,” katannya.

Namun, di tengah kebuntuan itu, istri Bupati Pidie Roni Ahmad, Syarifah Ahmad menawarkan solusi bahwa pihaknyalah yang akan menanganinya. Wacana itu disampailan Syarifah langsung menjawab kebuntuan, sehingga pertemuan itu diakhiri. Darwati pun langsung menemui bocah itu.

Darwati tak kuasa menahan air matanya saat memeluk bocah Salsa di ruang bedah wanita RSU Tgk Chik Ditiro Sigli, Rabu (16/8) pukul 17.30 WIB.

Amatan Serambi, semula Salsa digendong Kepala Ruang Bedah Wanita RSU Sigli, Langsanawati. Lalu saat Darwati ingin menggendong, Salsa menolak karena belum kenal. Lalu, entah bagaimana trik Darwati, bocah malang itu akhirnya mau digendong. Saat itulah Darwati memeluk dan memangku Salsa sambil berlinang air mata.

Sebuah boneka panda warna kuning dan biskuit diberikan Darwati kepada Salsa. Darwati datang ke RSU Sigli didampingi seorang psikolog dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Aceh, Endang Psi. Juga ikut dalam rombongan itu Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Aceh dan unsur terkait lainnya. (naz/aya/dik) (uri/strid/lleonora/AE)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id