Masjid Agung Sultan Jeumpa, Sejarah Dua Kelapa | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Masjid Agung Sultan Jeumpa, Sejarah Dua Kelapa

Masjid Agung Sultan Jeumpa, Sejarah Dua Kelapa
Foto Masjid Agung Sultan Jeumpa, Sejarah Dua Kelapa

Nun tahun 1965, di Bireuen, terbitlah sebuah kesepakatan warga, bahwa bagi setiap pemilik pohon kelapa, apabila memanen hasil kelapa, agar menyumbangkan dua butir dari setiap pohon yang dipanen, untuk biaya pembangunan masjid.

Itulah intisari cerita orang tua terdahulu yang disampaikan kembali oleh Imam Besar Masjid Agung Sultan Jeumpa Bireuen, Tgk H Jamaluddin Idris, yang ditemui Serambi dua hari lalu.

“Masyarakat sangat antusias menyumbang dua butir kepala untuk pembangunan masjid,” timpal Tgk M Jafar (bilal Masjid Agung Sultan Jeumpa, Bireuen), mengenang cerita indah masa lalu tersebut. Saat itu, lanjutnya, jamaah Masjid Bireuen ini meliputi wilayah Teupin Mane dan Buket Teukuh.

Menurut cerita tutur orang tua terdahulu, sekitar tahun 1965 terjadi gempa besar dan sebuah masjid di Desa Pulo Ara rusak total. Dalam ketiadaan satu-satunya rumah ibadah tersebut (menurut Tgk Muhammad, dulu masjid di Bireuen baru ada di Pulo Ara, imum syiknya Tgk Bullah, ayah dari mantan Bupati Bireuen Mustafa A Glanggang), masyarakat pun duek pakat (berembuk) dan sepakat membangun masjid baru di Dusun Kommes Bireuen. Solusi kelapa sumbangan pun akhirnya menjadi rupiah untuk membeli segala sesuatu keperluan pembangunan masjid baru, yang sekarang bernama Masjid Agung Sultan Jeumpa Bireuen (MASJB).

Cambuk pertama
Ingatkah Anda? Di masjid “dua kelapa” ini pula telah menjadi tempat pelaksanakan hukuman cambuk pertama di Aceh. Sejarah mencatat, sebanyak 26 dari 27 pelaku pelanggaran maisir (judi) di Kabupaten Bireuen, dicambuk usai shalat Jumat 24 Juni 2005 lalu. Hukuman ini merupakan pelaksanaan Undang-undang Syariat Islam di Aceh. Waktu itu, ribuan orang memadati halaman masjid, menyaksikan uqubat cambuk dan menjadi catatan sejarah bagi Aceh serta MASJB itu sendiri. Itulah gambaran penegakan syariat Islam di Kabupaten Bireuen, kala itu.

Megah
Hari ke hari hingga berbilang tahun akhirnya MASJB menjadi sebuah masjid nan megah. “Pendiri masjid waktu itu mungkin tidak pernah membayangkan masjid yang dulunya dibangun dari sumbangan kelapa, kini menjadi masjid agung atau masjid kabupaten,” kata Tgk M Jafar.

Saat ini, MASJB memiliki tiga kubah besar. Luas bagian dalam 50×30 meter, luas luarnya mencapai 60×50 meter, berdiri di areal seluas dua hektar lebih.

Berbagai pekerjaan rehabilitasi, penambahan terus dilakukan oleh panitia pembangunan masjid yang diketuai Ir Zulkifly SP (Sekdakab Bireuen) saat ini.

Pada bagian belakang terdapat ruang kegiatan remaja masjid, ruang pustaka, kantor, dan satu ruang istirahat para imam saat shalat Jumat atau shalat lima waktu.

Di belakang masjid itu terdapat satu bangunan dua tingkat yang dipergunakan sebagai tempat mahad Alquran, dibangun tahun 2000 lalu. Terdapat pula TK/TPA di bawah Yayasan Mahad Alquran, pembinanya Masri Asyek. Terdapat satu TK Raudhatul Ilmi, di bawah Yayasan Raudhatul Ilmi, pimpinan H Subarni. “Guru TK dari Dinas P dan K semua, dulunya tenaga honor,” ujar Tgk M Jafar.

Di masjid, setiap malam Jumat dan Minggu diadakan pengajian umum usai shalat Magrib sampai shalat Isya. Remaja masjid mengikuti pengajian pada malam hari, kecuali malam Sabtu dan Minggu. Tentu saja juga ada berbagai kegiatan islami lainnya.

Untuk kemegahan MASJB, Pemerintah Kabupaten Bireuen pada tahun 2016, menganggarkan dana Rp2 miliar untuk pembangunan pagar Masjid Agung Sultan Jeumpa. Lantai masjid diganti marmer yang didatangkan khusus dari negara Turki. Begitu juga plafon dan dinding serta kubah yang dihiasi dengan kaligrafi indah yang dilukis oleh ahli kaligrafi khusus didatangkan dari Cirebon, Jawa Barat.

“Pemkab Bireuen hingga saat ini telah menganggarkan dana mencapai Rp 9 miliar lebih untuk renovasi Masjid Agung Sultan Jeumpa ini. Kita harapkan kemegahannya bersanding dengan ramainya masyarakat yang memakmurkan masjid,” kata Tgk Jafar.

Tujuan wisata
Masjid Agung Sultan Jeumpa, yang terletak di pusat kota Kabupaten Bireuen, juga menjadi tujuan wisatawan. Daya tariknya mungkin dari arsitektur Timur Tengah.

Salah satu destinasi wisata religi di Bireuen ini, tak saja dikunjungi warga setempat, tapi juga dari luar kabupaten, bahkan luar negeri, khususnya Malaysia.

Itulah kisah Mesjid Agung Bireuen yang kini berubah nama menjadi Mesjid Agung Sultan Jeumpa Bireuen. Tak asal ganti nama. Penabalan itu terjadi melalui serangkaian seminar dan konsultasi ke ulama kharismatik Aceh. Dr Saifullah MPd, Rektor IAI Al-Muslim Peusangan, adalah ketua panitia pelaksana penamaan MASJB, pada rapat pengurus masjid, akhir Maret lalu.(ferizal hasan) (uri/omario/alah/RF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id