Hakikat Kemerdekaan | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Hakikat Kemerdekaan

Hakikat Kemerdekaan
Foto Hakikat Kemerdekaan

Oleh Abdul Gani Isa

Dan (ingatlah juga), tatkala memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim: 7)

TERMINOLOGI kemerdekaan bermula saat Revolusi Perancis, ketika rakyat mulai tidak nyaman dan frustasi dengan pemerintahan monarki yang penuh dengan tekanan. Rakyat dengan segera mendengungkan kemerdekaan, karena mereka menjadi sapi perahan para pejabat kerajaan Prancis yang hidup berkemewahan. Saat itu muncullah sebuah ungkapan, vox populi vox dei (suara rakyat adalah suara Tuhan). Artinya peran dan suara rakyat atau masyarakat menjadi penentu arah dan jalannya suatu pemerintahan.

Revolusi di Prancis bagai angin kencang yang menginspirasi negara jajahan untuk segera mendapatkan kemerdekaan, termasuk Indonesia yang dijajah oleh Belanda. Politik divide et impera pada zaman penjajahan Belanda menempatkan rakyat Indonesia saling berhadap-hadapan dan menumpahkan darah di antara saudara bangsanya sendiri. Secara psikologis, rakyat Indonesia tidak bisa saling percaya pada saudara sebangsa, mudah curiga, harus waspada, berjaga-jaga agar tidak teraniaya.

Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan kemerdekaan sebagai suatu keadaan berdiri sendiri, tidak tergantung, punya hak kendali atas diri sendiri tanpa campur tangan pihak lain. Ketika kita mudah dipecah-belah, dikuasai oleh pikiran negatif, menghakimi persoalan seolah kita adalah yang paling intelek, bermoral, merupakan konfirmasi bahwa kita belum sepenuhnya merdeka secara pribadi.

72 Tahun sudah sejak kemerdekaan secara lantang dideklarasikan oleh Soekarno-Hatta, namun sayang sekali hingga kini belum mampu membongkar internalisasi “bangsa kelas dua” yang tertanam erat dan seolah diwariskan dari generasi ke generasi. Bangsa kita sangat mudah terpicu oleh hal-hal sensitif yang berujung pada sikap dan perilaku bermasalah yang merugikan diri sendiri, tidak percaya diri, sulit berdaya dan menerima perbedaan serta berbagai masalah lain yang benang merahnya sulit terurai.

Sepatutnya bersyukur
Sudah sepatutnya bangsa Indonesia bersyukur kepada Allah Swt. Kemerdekaan yang diperoleh pada 17 Agustus 1945, bukanlah hadiah Belanda dan Jepang dengan sekutunya, tetapi kemerdekaan tidak boleh menafikan hasil perjuangan para pahlawan, baik tenaga, harta, bahkan jiwa sekalipun dipertaruhkan, dengan tak menganal takut mati dan gugur (syahid) di medan juang.

Namun di sisi lain juga harus diyakini tanpa ma’unah dan ridha Allah, mustahil pula bangsa ini bebas dan terlepas dari segala bentuk penjajahan kolonial. Karena itu patut merenung ulang kilas balik dari makna sebuah kemerdekaan, untuk meraih cita-cita kebangsaan dan keindonesiaan yang sejati.

Syukur tak sebatas ucapan terima kasih, tetapi hakikat makna syukur adalah asy-syukru huwal i’tirafu bin nikmah wal qiyamu bil khidmah (syukur adalah meyakini dengan sesungguhnya bahwa semua nikmat yang ada adalah dari Allah Swt). Untuk itu sepatutnyalah kita melaksanakan semua perintah-Nya dengan tulus dan ikhlas.

Dalam arti lebih luas syukur memiliki tiga makna, yaitu: Pertama, dhuhuru atsri nikmati minallah ‘ala lisani ‘abdihi tsanaan wa’tirafa (nampak nyata kesan dari nikmat Allah yang terucap melalui lidah hamba, karena memuji dan pengakuannya yang tulus). Misalkan saja sehatnya jasmani dan rohani, semua organ yang ada masih sehat dan berfungsi sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing. Termasuk kemerdekaan sebagai anugerah Allah Swt, wajib kita menjaga, merawat dan mengisinya dengan berbagai pembangunan yang bermanfaat untuk bangsa, dan agama.

Kedua, wa’ala qalbihi syhudan wa mahabbatan (hati dan semua jiwa raganya lebih mencintai Allah dan Rasul-nya daripada lainnya). Boleh saja mencintai harta, kedudukan, isteri dan anak-anaknya, tetapi tidak melebihi cintanya kepada Allah Swt dan Rasul-Nya, baik sebagai khaliq yang menciptakannya maupun Rasulullah saw, yang telah memberikan uswatun hasanah melalui sunnahnya.

Ketiga, wa ‘ala jawarihin qiyadan wa ta’atan (semua jiwa raganya digunakan dan diinfakkan kepada Allah semata). Hidupnya tidak pernah lalai dan dilalaikan oleh fatamorgananya dunia ini, tapi waktu-waktunya disiplin dalam melaksanakan semua kewajiban baik fardhu ‘ain maupun fardhu kifayah. Ia tak pernah melupakan hablun minallah dan hablun minannas. Karena ia menyadari hidup ini ada batas akhirnya.

Makna kemerdekaan
Pertama, makna kemerdekaan dapat diambil dari kisah Nabi Ibrahim as ketika ia membebaskan dirinya dari orientasi asasi yang keliru dalam kehidupan manusia. Dalam Surat Al-An’am Ayat 76-79 dikisahkan perjalanan spiritual Nabi Ibrahim dalam mencari Tuhan.

Pencarian spiritual tersebut merupakan upaya Ibrahim dalam membebaskan hidupnya dari orientasi hidup yang diyakininya keliru. Seperti diketahui, masyarakat Ibrahim saat itu menyembah berhala. Bagi Ibrahim, penyembahan terhadap berhala merupakan kesalahan besar. Sebab manusia telah melakukan penghambaan yang justru menjatuhkan harkat dan martabat dirinya sebagai manusia. Bentuk penghambaan yang menjatuhkan harkat-martabat manusia seperti itu juga terjadi pada era modern.

Penghambaan terhadap materialisme dan hedonisme telah mengantarkan manusia modern untuk melakukan korupsi tanpa perasaan bersalah, mengorbankan nyawa-nyawa tak berdosa, menghalalkan berbagai cara untuk meraih kursi dan posisi, tanpa sedikitpun rasa malu, dan seterusnya. Penghambaan-penghambaan yang demikian bukan hanya melukai harkat-martabat manusia, namun juga menghancurkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, yang hakikatnyatidak sejalan dengan tujuan dari proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Kedua, makna kemerdekaan juga dapat dipetik dari kisah Nabi Musa ketika membebaskan bangsanya dari penindasan Fir’aun. Kekejaman rezim Fir’aun terhadap bangsa Israel dikisahkan dalam berbagai ayat Alquran. Rezim Fir’aun merupakan representasi komunitas yang menyombongkan diri dan sok berkuasa di muka bumi (mustakbirun fi al-ardh). Keangkuhan rezim penguasa ini membuat mereka tak segan membunuh dan memperbudak kaum laki-laki bangsa Israel dan menistakan kaum perempuannya. Keangkuhan inilah yang mendorong Musa tergerak memimpin bangsanya untuk membebaskan diri dari penindasan, dan akhirnya meraih kemerdekaan sebagai bangsa yang mulia dan bermartabat (QS Al-A’raf:127; Al-Baqarah:49, dan Ibrahim:6).

Mengakhiri keangkuhan, seperti halnya kisah sukses Nabi Musa, Proklamasi 17 Agustus 1945 hakikatnya juga merupakan momen yang mengakhiri episode keangkuhan dan penindasan rezim kolonial. Sebuah keangkuhan yang membuat bangsa kita miskin dan terhina selama ratusan tahun. Namun jangan lupa, berakhirnya keangkuhan dan penindasan rezim kolonial tidak serta-merta membebaskan rakyat Indonesia dari keangkuhan dan penindasan rezim lain dalam bentuk yang berbeda.

Ketiga, kisah sukses Nabi Muhammad saw, mengemban misi profetiknya di muka bumi (QS. Al-Ma’idah: 3) menjadi sumber ilham yang tak pernah habis bagi bangsa Indonesia untuk memaknai kemerdekaan secara lebih holistik dan integral. Ketika diutus 15 abad silam, Nabi Muhammad menghadapi sebuah masyarakat yang mengalami tiga penjajahan sekaligus: disorientasi hidup, penindasan ekonomi, dan kezaliman sosial.

Disorientasi hidup diekspresikan dalam penyembahan patung oleh masyarakat Arab Quraisy. Rasulullah saw berjuang keras mengajarkan kepada umat manusia untuk menyembah Allah Yang Maha Esa dan meninggalkan “tuhan-tuhan” yang menurunkan harkat dan derajat manusia (QS. Luqman: 13; Yusuf: 108; Adz-Dzariyaat: 56; Al-Jumu’ah: 2).

Penindasan ekonomi itu dilukiskan Alquran sebagai sesuatu yang membuat kekayaan hanya berputar pada kelompok-kelompok tertentu saja (QS Al-Hasyr:7). Rasulullah mengkritik orang-orang yang mengumpulkan dan menghitung-hitung harta tanpa memedulikan kesejahteraan sosial dan keadilan ekonomi (QS Al-Humazah:1-4; Al-Ma’un:2-3). Rasulullah mengampanyekan pembebasan budak, kesetaraan laki-laki dan perempuan, dan kesederajatan bangsa-bangsa.

Dalam khutbah terakhirnya di Arafah, saat haji wada’, beliau menegaskan bahwa tak ada perbedaan antara kulit hitam dan putih, antara Arab dan non-Arab. Semuanya sama di mata Allah SWT. Tidak ada celah yang membedakan manusia satu dengan manusia lainnya, kecuali tingkat ketakwaan mereka kepada Tuhan-Nya (QS Al-Hujurat: 13).

Alangkah indahnya jika bangsa Indonesia mampu memaknai kemerdekaannya seperti yang diilhamkan Alquran. Rakyat merasakan keadilan, kemerdekaan ekonominya dan meraih kesejahteraan bersama. Dirgahayu Republik Indonesia, semoga Allah Swt menjadikan negeri ini, negeri yang baldatun thayyibatun warabbun ghafur. Negeri yang baik, dalam ridha dan keampunan-Nya. Amin Ya Rabbal Alamin. Wallahu a’lamu bish-shawab.

* Dr. H. Abdul Gani Isa, SH, M.Ag., Staf Pengajar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry/Anggota MPU Aceh. Email: [email protected] (uri/anni/addad/BH)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id