Hubbul Wathan Minal Iman | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Hubbul Wathan Minal Iman

Hubbul Wathan Minal Iman
Foto Hubbul Wathan Minal Iman

Oleh Nuruzzahri

SETELAH ratusan tahun bangsa Indonesia mengalami penjajahan, tepat pada 17 Agustus 1945, para pejuang memproklamirkan kemerdekaan. Tepat pada 17 Agustus 2017 mendatang usia kemerdekaan Republik Indonesia genap 72 tahun. Melanjutkan tradisi tahun-tahun sebelumnya, Agustus selalu menjadi momentum yang tepat untuk melakukan refleksi terhadap sejarah berdirinya negeri ini.

Bangsa Indonesia setiap tahun antusias merayakan hari kemerdekaan Tanah Air-nya sebagai bukti bahwa mereka menilik sejarah untuk dijadikan pedoman hidup. Hampir di setiap jalan, kita mendapati pemasangan bendera merah putih dengan ragam bentuknya. Semarak tersebut semakin terasa ketika perlombaan HUT RI digelar.

Namun disayangkan sebagian dari kita selama ini masih ada yang meluapkan ulang tahun kemerdekaan hanya sebatas rasa bangga karena bebas dari penjajahan, padahal hakikat dari sebuah kemerdekaan itu ialah terbentuknya sebuah bangsa yang sejahtera, berkeadilan, bebas dari kemiskinan dan pembunuhan, serta mencintai tanah air sebagai refleksi dari kemerdekaan itu sendiri.

Mewujudkan keadilan
Butir Pancasila yang kelima berbunyi “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Dari butir yang kelima ini dapat dipahami bahwa keadilan menduduki posisi yang sagat urgen yang merupakan bagian dari amanat kemerdekaan yang harus terpenuhi dalam kehidupan manusia pada umumnya, dan dalam setiap individu rakyat Indonesia khususnya.

Lalu apa saja yang mesti dilakukan menurut butir kelima Pancasila tersebut untuk terwujudnya keadilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara? Pertama, mengembangkan perbuatan-perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan. Ini merupakan sebuah pesan moral bagi seluruh rakyat Indonesia, bahwa dalam menjalani kehidupan sehari-hari dianjurkan untuk memberikan keteladan yang baik bagi seluruh anak bangsa, dengan tidak melakukan hal-hal yang dapat merugikan moral bangsa serta tidak bertentangan dengan norma agama. Hal ini diharapkan terpalikasi dalam setiap individu rakyat Indonesia sehingga setiap individu merasakan bahwa punya tali persaudaraan dengan individu lainnya.

Kedua, menjaga keseimbangan hak dan kewajiban. Hak dan kewajiban merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan manusia. Setiap manusia punya kewajiban yang harus dilakukan, juga punya hak yang harus diterima sebagai balasan atas kewajiban yang telah dikerjakan. Dalam konteks perekonomian, pesan ini menganjurkan setiap manusia yang dapurnya selalu hidup untuk geliat dalam bekerja, harus mampu membunuh sifat malas, serta bergerak mencari pendapatan. Dengan kewajiban yang merupakan kerja nyatalah taraf perekonomian seseorang akan maju serta dengan sendirinya akan terkikis pondasi kemiskinan dalam kehidupan kita.

Ketiga, menghormati hak-hak orang lain. Satu ciri khas ajaran Islam adalah mengakui hak-hak orang lain yang dirumuskan dalam dua konsep kepemilikan, kepemilikan individu dan kepemilikan bersama yang dibagikan kepada dua macam, yaitu kepemilikan negara dan kepemilikan umat Islam. Pesan di atas mendorong kita untuk menghargai dan mengakui kepemilikan orang lain dalam kehidupan sehari-hari, dengan tidak merampas atau mengekspoitasikan hak orang lain tanpa ada izin yang jelas.

Keempat, menjahui sikap pemerasan terhadap orang lain. Pesan ini mendorong kita untuk terus berperilaku baik dalam kehidupan sehari-hari tanpa menyakiti orang lain, baik dengan mencuri secara paksa kepunyaan seseorang, atau mengelabui seseorang agar terhindar dari menerima hak yang seharusnya dia peroleh. Pemeresan terhadap orang lain bukan hanya dalam masalah material, tapi juga dalam masalah jasa. Apabila orang lain ada keahlian yang lebih dari kita, negara menganjurkan untuk menghormati dan menjaga kebebasannya selama tidak menggangu orang lain.

Kelima, bersama-sama berusaha mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial. Pesan ini menganjurkan setiap warga untuk selalu berkreativitas sebagai langkah menuju singgasana kemajuan secara bersama-sama, tanpa mendiskreditkan individu atau kelompok tertentu karena berbagai perbedaan. Karena apabila ada kelompok-kelompok yang masih belum merata dalam memperoleh kemajuan, maka belum tercipta yang namanya keadilan.

Cinta Tanah Air
Beberapa pesan di atas yang merupakan amanat kemerdekaan dalam mewujudkan keadilan nampaknya belum menjamin teraplikasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara jika tidak didirikan di atas pondasi hubbul wathan. Dengan demikian, mencintai tanah air merupakan harga mati yang harus tumbuh dalam jiwa kita untuk mewujudkan keadilan sembari melakukan beberapa pesan di atas dalam butir kelima dari pancasila.

Dengan adanya rasa cinta kepada tanah air maka kita akan tergerak secara bersama-sama untuk melakukan hal-hal yang membawa angin segar kepada seluruh individu masyarakat, karena kita punya sebuah lokomotif tempat kita bersandarkan diri serta menaruh perhatian.

Mengenai pentingnya mencintai Tanah Air telah ditegaskan dalam sebuah ungkapan, hubbul wathan minal iman (mencintai Tanah Air satu sudut dari iman). Mencintai tanah air juga bagajian dari maqasith syariah yang lima yang berada di bawah menjaga harga diri. Setiap bangsa apabila Tanah Air-nya dijajah atau diinjak-injak oleh bangsa lain, maka suatu kewajiban bagi warga negera tersebut untuk melakukan pertolongan dan perlawanan.

Hal ini pula dapat dilihat dalam teks lagu Indonesiaraya yang dilantunkan pada setiap acara HUT RI serta acara-acara formal lainnya. Isi lagu dimaksud benar-benar menyentuh jiwa kita saat mendengar dan meresapinya. Di mana di antara isinya adalah mengajak kita anak bangsa untuk membangun jiwa dan membangun jiwa. Artinya kemenangan hakiki itu di kala kita mampu membangun fisik dan psike (spiritual) kita secara integral. Membangun jiwa dan raga secara bersamaan merupakan sebuah prinsip tersendiri dalam agama Islam.

Semoga dengan momentum HUT Ke-72 Kemerdekaan RI yang baru saja kita peringati dan kita rayakan, kita mampu merealisasikan amanat kemerdekaan berupa keadilan bagi diri kita sendiri, keluarga, bangsa dan agama, serta mereboisasikan ruh cinta kita kepada NKRI semakin kentara. Semoga!

* Tgk. H. Nuruzzahri (Waled Samalanga), Pimpinan Dayah Ummul Ayman Samalanga, Ketua Mustasyar Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA), dan Ketua Tuha Peut Wali Nanggroe Aceh. (uri/syrafi/orat/AG)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id