Damai Dalam Bingkai Nasionalisme | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Damai Dalam Bingkai Nasionalisme

Damai Dalam Bingkai Nasionalisme
Foto Damai Dalam Bingkai Nasionalisme

Selama tiga hari terakhir, masyarakat seantero Aceh berkutat dalam berbagai kekhidmatan dan kemeriahan acara rakyat, mulai dari upacara di lapangan, doa di masjid dan meunasah, hingga euforia rakyat dalam bentuk panjat pinang atau tarik tambang sekalipun.

Khusus untuk rakyat Aceh, ada dua kegiatan peringatan yang dilakukan, yaitu Hari Ulang Tahun (HUT) ke-12 Memorandum of Understanding (MoU) Helsingki 15 Agustus, serta HUT ke-72 Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2017.

Banyak rangkaian makna yang dipetik dari peringatan dua hari penting itu. Yang paling utama adalah damai yang lestari di Aceh, serta tentu saja meningkatnya jiwa patriotisme dan nasionalisme anak negeri kepada tanah air tercinta.

Peringatan MoU Helsinki dan HUT Kemerdekaan RI bukanlah seremoni semata, apa lagi larut secara berlebihan dalam euforia ‘pesta rakyat’, namun lebih jauh dari itu adalah sebagai bangsa yang besar, kita harus menghormati dan menghargai jasa para pejuang yang dengan ceceran darah dan jiwa telah memerdekakan negeri ini.

Bagaimanapun semangat nasionalisme sangatlah penting, karena nasionalisme dapat membentuk kesadaran dan kesetiaan terhadap bangsa dan negara tanpa memandang suku, ras dan agama.

Khusus bagi seluruh warga Aceh, MoU Helsinki adalah kata akhir tentang kesetiaan tanpa reserve kepada Republik Indonesia, tepatnya dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sejarah telah mencatat, Aceh sejak dulu adalah bagian yang tak terpisahkan dari Nusantara.

Seperti dikatakan Wagub Aceh Nova Iriansyah, pencapaian MoU Helsinki harus selalu kita syukuri. Namun tantangan untuk merawat dan mengisi perdamaian masih cukup berat. Masih banyak PR yang harus kita tuntaskan.

Sementara Wali Nanggroe, Malik Mahmud Al-Haythar mengatakan, perdamaian Aceh merupakan suatu peristiwa yang sangat bersejarah bagi Aceh dan Indonesia. Tak hanya itu, proses perdamaian Aceh juga menjadi contoh bagi dunia untuk menyelesaikan konflik berkepanjangan.

Terlalu mahal konpensasi yang harus dibayar dari konflik selama tiga dekade. Bukan hanya harta, jiwa dan raga, tapi harkat dan martabat ikut melayang dan terinjak-injak. Kita semua sepakat sejarah kelam itu tak lagi terulang di Bumi Iskandar Muda.

Persatuan dan kesatuan dalam balutan kedamaian itu tentu bukan hanya di tataran rakyat, namun juga terwujud hingga tataran pemimpin. Dan itu setidaknya dibuktikan lewat sebuah foto pada laman Fb Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, yang berpose penuh keabraban bersama jajaran Forkopimda Plus Aceh di tangga Meuligoe, kemarin.

Bagaimana pun kedamaian hakiki di level pemimpin menjadi penyejuk dan pemersatu yang tangguh bagi para rakyatnya. Peringatan HUT ke-72 Proklamasi Kemerdekaan RI dan Hari Damai Aceh ke-12, setidaknya kembali mengingatkan kita kepada damai yang hakiki dalam bingkai nasionalisme yang utuh. Lebih dari itu, damai adalah harga mati bagi persatuan dan kesatuan di negeri ini. Tak ada tawar menawar, hanya ada satu solusi konkret, NKRI! (uri/nton/ariana/AM)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id