Peringatan Damai tak Lagi Ramai | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Peringatan Damai tak Lagi Ramai

Peringatan Damai tak Lagi Ramai
Foto Peringatan Damai tak Lagi Ramai

BANDA ACEH – Setiap tahun, tepatnya pada 15 Agustus, Pemerintah Aceh tak pernah alpa menggelar peringatan damai antara Republik Indonesia (RI) dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Agenda tahunan itu dimaksudkan agar tidak ada yang melupakan sejarah berakhirnya konflik berkepanjangan di Aceh yang ditandai dengan Memorandum of Understanding (MoU) di Helsinki, 2005.

Tahun ini, untuk ke-12 kalinya, Pemerintah Aceh memperingati hari bersejarah tersebut. Rangkaian acara tahun ini dipusatkan di Lapangan Blangpadang, Banda Aceh, Selasa (15/8).

Pemantauan Serambi, peringatan MoU kali ini terlihat biasa saja, lebih sederhana bila dibandingkan dengan peringatan dua tahun sebelumnya yang dibalut dengan serangkaian acara, bahkan dihadiri oleh tamu dari luar Aceh dan Indonesia.

Kemarin, peringatan damai ditandai dengan tabuhan rapa-i bersama oleh unsur Forkopimda Aceh yang diakhiri foto bersama. Selebihnya hanya sambutan Wali Nanggroe, Wakil Gubernur, santunan untuk 1.277 anak yatim, pemutaran film refleksi 12 tahun perdamaian, penampilan kesenian Aceh, dan diakhiri dengan makan bersama.

Pun demikian, refleksi 12 tahun perdamaian terasa spesial karena dihadiri oleh orang-orang yang terlibat dalam perundingan MoU Helsinki. Di antaranya, Bakhtiar Abdullah (juru ruding) dan sejumlah anggota perundingan seperti Munawar Liza Zainal, Shadia Marhaban, Teuku Hadi, dan Deputy Chief Minister Penang sekaligus penasihat perunding GAM, Prof P Ramasamy, dan beberapa lainnya.

Peringatan damai kemarin tampak tak lagi ramai, lantaran tidak dihadiri oleh tokoh-tokoh eks GAM. Di lokasi acara, Serambi tidak melihat para bekas pentolan GAM, seperti Muzakir Manaf (Mualem), Zakaria Saman (Apa Karya), Kamaruddin Abubakar (Abu Razak), dan lainnya. Padahal, tahun-tahun sebelumnya, para tokoh ini kerap hadir, seperti Abu Razak yang pada peringatan 11 tahun di Taman Raru Safiatuddin hadir dan duduk bersama Zaini Abdullah, gubernur Aceh kala itu.

Selain tidak hadirnya para tokoh eks GAM, tamu undangan yang hadir kemarin juga terlihat tidak begitu antusias mengikuti rangkaian acara. Setidaknya, itu terlihat saat sejumlah peserta yang hadir bangkit dari tempat duduknya hingga kursi di bagian belakang terlihat kosong, padahal acara seremonial belum selesai.

Anggota perunding GAM, Munawar Liza yang diwawancarai Serambi usai acara mengatakan, peringatan kemarin terkesan seperti acara dinas atau intansi tertentu karena dihadiri oleh para Pegawa Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Aceh. Ia juga menilai, acara itu hanya sekadar seremonial yang tidak membekas apapun untuk peringatan perdamaian Aceh.

“Seharusnya orang-orang yang pernah berjasa dalam perjuangan dan perdamaian hadir di sini, begitu juga saudara kita para korban konflik. Tujuan dari acara ini untuk menanamkan ruh perdamaian kepada generasi Aceh, sehingga acara yang setiap tahun kita gelar bukan hanya peh (tabuh) rapa-i,” pungkas Munawar Liza.

Wakil Gubernur Aceh, Nova Iriansyah dalam sambutannya mengajak seluruh masyarakat Aceh untuk senantiasa bersyukur kepada Allah Swt atas apa yang telah dianugerahkan untuk Aceh saat ini.

“Semua pencapaian ini harus selalu kita syukuri, tidak boleh membuat kita puas. Sebab tantangan untuk merawat dan mengisi perdamaian masih cukup berat. Masih banyak PR yang harus kita tuntaskan,” kata Nova.

Wagub Aceh juga meminta maaf kepada seluruh tamu dan undangan atas ketidakhadiran Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf pada acara tersebut. “Beliau meminta maaf berhalangan hadir karena dalam perjalanan dari Bandara Nagan Raya ke Bandara SIM yang tekendala cuaca, sehingga tidak bisa melanjutkan perjalanan. Pak Gubernur menitipkan salam kepada kita semua,” kata Nova.

Wali Nanggroe, Malik Mahmud Al-Haythar dalam sambutannya mengatakan, perdamaian Aceh merupakan suatu peristiwa yang sangat bersejarah bagi Aceh dan Indonesia. Tak hanya itu, proses perdamaian Aceh juga menjadi contoh bagi dunia untuk menyelesaikan konflik berkepanjangan.

Pada kesempatan itu, Malik Mahmud bersama Nova Iriansyah juga menyerahkan santunan secara simbolis kepada 1.277 anak yatim. (dan) (uri/ilati/sra/MU)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id