Bocah Dua Tahun Itu Didera Penganiayaan Luar Biasa | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Bocah Dua Tahun Itu Didera Penganiayaan Luar Biasa

Bocah Dua Tahun Itu Didera Penganiayaan Luar Biasa
Foto Bocah Dua Tahun Itu Didera Penganiayaan Luar Biasa

BOCAH perempuan berusia dua tahun itu bernama Salsa Sabila. Sejak lebih dua pekan lalu bocah berkulit putih ini dirawat di lantai dua Ruang Bedah Wanita RSU Tgk Chik Di Tiro Sigli, Pidie. Hampir di sekujur tubuh mungilnya terlihat bekas-bekas penganiayaan. Lengan kirinya patah.

Berdasarkan fakta yang terlihat secara kasat mata dan keterangan dari sumber-sumber medis di RSU Sigli, hampir bisa dipastikan bocah Salsa Salbila telah mengalami tindak penganiayaan yang luar biasa. Namun, bagaimana sebenarnya kejadian yang menimpa bocah tersebut serta siapa pelaku penganiayaan masih berbalut misteri.

Informasi awal tentang adanya kejadian luar biasa yang menimpa bocah Salsa Sabila sempat menyebar di media sosial. Berangkat dari informasi awal itu, Serambi melakukan penelusuran, termasuk ke RSU Sigli, tempat sang bocah dirawat.

Menurut keterangan, bocah Salsa Sabila diantar ke RSU Sigli oleh seorang laki-laki yang mengaku adalah pamannya pada 2 Agustus 2017. Ketika dibawa ke rumah sakit, kondisi Salsa Sabila sangat memiriskan. Luka memar dan lebam terlihat di beberapa bagian tubuhnya. Lengannya juga patah.

Berkembang dugaan, Salsa Sabila dianiaya ayah tirinya yang belum diketahui identitasnya. Penganiayaan itu terjadi di rumah pamanya bernama Tarmizi di Gampong Krueng Seukek, Kecamatan Tangse, Pidie.

Ada informasi yang menyebutkan, Salsa Sabila adalah anak yatim yang tinggal bersama ayah tiri dan ibu kandungnya di Padang, Sumatera Barat. Setelah ayah kandungnya meninggal, ibunya yang bernama Ainal Mardhiah kawin dengan laki-laki asal Padang dan menetap di sana. Ini merupakan suami ketiganya, sedangkan ayah kandung Salsa Salbila yang sudah almarhum merupakan suami kedua. Tak ada informasi tentang suami pertama, apakah masih hidup atau sudah meninggal.

Beberapa hari sebelum kejadian itu, Ainal Mardhiah yang merupakan perempuan asal Pidie pulang kampung bersama suami barunya sambil membawa Salsa Salbila. Mereka ke rumah Tarmizi di Gampong Krueng Seukek, Tangse.

Menurut kabar, tiga hari di Tangse, Salsa Sabila harus merasakan penganiayaan yang diduga dilakukan ayah tirinya. Namun, tidak diketahui secara persis bagaimana penganiayaan itu terjadi. Kasus itu sangat tertutup bahkan pihak keluarga Salsa Sabila tidak melaporkan kepada polisi. Tak jelas kenapa.

Kondisi anak itu ketika diantar ke rumah sakit oleh pamannya pada Rabu (2/8) malam sekira pukul 21.00 WIB sangat memprihatinkan. Fisiknya sangat lemah. Wajahnya dipenuhi luka dan lebam di beberapa bagian tubuh. Tangannya patah. “Anak itu ditangani dokter spesialis tulang,” kata seorang sumber di RSU Sigli.

Malam itu, ibu kandung Salsa Salbila, Ainal Mardiah bersama suaminya datang ke rumah sakit menjenguk anaknya. Namun sejak tiga hari lalu, Ainal Mardhiah menghilang bersama suaminya. Sebuah kabar menyebutkan, pasangan itu sudah kembali ke Padang meninggal Salsa Sabila yang membutuhkan pendampingan dan kasih sayang. Begitu juga sang paman, pulang ke Tangse.

“Meski tak ada orang tua atau saudara yang mendampingi namun tindakan medis untuk Salsa Salbila terus dilakukan. Kini, setelah sekitar dua minggu ditangani, kondisi Salsa Salbila semakin membaik,” kata seorang perawat.

Informasi yang diterima Serambi dari dr Ikhsan SpOT MKes yang menangani Salsa Sabila, pasien yang ditanganinya mengalami patah tulang selangka dan tulang tangan bawah.

Menurut Ikhsan, patah tangan bocah dua tahun itu akibat trauma benda tumpul. Tapi, pihaknya tidak bisa menyimpulkan lebih jauh. “Apakah dipukul atau dilempar kita tidak tahu. Tugas kita hanya memberikan perawatan yang lebih baik. Alhamdulillah kondisinya kini sudah membaik meski belum 100 persen,” ujar Ikhsan.

Ia menjelaskan, yang sangat urgen yang harus dilakukan terhadap bocah dua tahun itu adalah penanganan secara menyeluruh. Karena bocah itu mengalami trauma yang sangat dalam, terutama trauma psikis. Penanganan kompleks, menurutnya, harus melibatkan psikolog dan dokter.

Traumatis mendalam masih terlihat jelas dari gerak-gerik bocah Salsa Sabila. Meski kondisinya mulai membaik dan sudah bisa diajak bicara–walau masih cadel–dengan Bahasa Indonesia. “Saat ibu kandung dan ayah tirinya masih di rumah sakit, dia terlihat sangat ketakutan melihat keduanya,” ungkap seorang perawat.

Salsa Sabila langsung menangis ketika melihat ayah tiri dan ibu kandungnya. “Kue yang diberikan ibu kandungnya, tidak mau dimakannya,” kata Kepala Ruang Bedah Wanita RSU Tgk Chik Di Tiro, Langsanawati AMK, kepada Serambi, Selasa (15/8).

Langsanawati mengaku tak sanggup menahan tangis ketika bocah itu mengatakan tangannya sakit (patah) karena dipukul oleh ayahnya. “Berat sekali derita anak ini. Kami tak sanggup membayangkan,” timpal sejumlah perawat di rumah sakit tersebut yang terlihat memberikan perhatian dan kasih sayang terhadap bocah Salsa Sabila.

Menurutnya, kondisi Salsa Sabila kini telah ceria dan suka bermain dengan petugas di Ruangan Bedah Wanita. Karena asiknya bermain tak jarang Salsa Sabila tertidur pulas di sopa. Perawat sudah memasang ayunan untuk Salsa Sabila. Dia terlihat sangat pulas di ayunan.

Sejak merebaknya kabar tentang Salsa Sabila, bantuan dari berbagai pihak terus mengalir, seperti baju, makanan, dan uang. “Kalau sebelumnya baju dan kue harus kami beli, sekarang banyak warga yang memberikan bantuan kepada anak itu. Kue dan susu kemasan juga terus berdatangan. Bocah Salsa Sabila sudah begitu menyatu dengan kami sini,” ujar Langsanawati dengan suara lirih menahan sedih.(naz/c43) (uri/ilviana/ebriyani/SF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id