Bekerja untuk Akhirat | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Bekerja untuk Akhirat

Bekerja untuk Akhirat
Foto Bekerja untuk Akhirat

RASULALLAH Saw 14 abad yang lalu telah memberikan pengajaran mulia kepada para sahabat bahwa hidup di dunia adalah bagian dari investasi akhirat.

Kenikmatan yang kita dapatkan di dunia berupa rezeki dan umur hanyalah panjar yang diberikan di dunia, dan Allah akan memberikannya secara totalitas di akhirat kelak.

Islam adalah agama yang memberikan motivasi seimbang bagi umatnya untuk berkerja secara totalitas. Ada sebuah kekeliruan besar yang terjadi dalam masyarakat dalam memahami hakikat kerja, dimana uang menjadi segalanya.

Parahnya lagi ketika budaya berkerja  kemudian dipaksa berbaur dengan budaya negatif seperti rasa malas, dan rasa ingin mendapat banyak hak daripada kewajiban.

Rasulullah sudah jauh-jauh hari mengajarkan untuk memberikan totalitas hidup kita pada pekerjaan dengan menikmati dan mengupgrade kualitas diri.

Hal ini tercermin ketika Rasulullah yang berposisi sebagai manajer memberikan contoh manajemen yang baik kepada para sahabat dengan porsi tugas sesuai dengan keahliannya.

Proses pengembangan diri yang dibentuk pada sahabat kemudian memunculkan jati diri sahabat yang berbeda antara satu dengan lainnya.

Di bawah bimbingan Rasulullah  sendiri telah melahirkan kualitas sahabat dengan karakter yang berbeda. Bahwa Rasulullah memuji para sahabatnya dengan bersabda; ashhabi kan nujum; para sahabatku seperti bintang.  Dimana karakter ini sendiri tak bisa diubah tetapi dibalut secara rapi dalam nilai-nilai ilahiyah.

Khalifah Abubakar karena usianya yang sebaya dengan Rasulullah manjadi sahabat  paling bijak diantara yang lain.

Banyak sekali literatur yang menulis tentang keutamaan sahabat mulia ini. Umar di kala masa jahiliyah adalah seorang yang keras wataknya, tetapi Umar mudah luluh melihat kekurangan di sekitar berupa kemiskinan.

Menariknya, watak keras itu mampu ditranformasikan ke dalam Islam sehingga justru membangkitkan marwah Islam itu sendiri. Demikian juga dengan Usman dengan sisi kelembutannya menjadikan Usman sebagai pribadi yang low profile, Pun begitu dengan Ali yang terkenal dengan sisi intelektualitasnya.

Memperbaiki Pola Bekerja

Manajeman waktu yang erat sekali kaitannya dengan kerja-kerja manusia telah Allah gambarkan secara gamblang dalam Alquran dalam beberapa ayat semisal wal ashr, wa Adhuha.

Seorang muslim sejatinya harus bekerja lebih dari apa yang dibayar kepada dirinya, misalnya jika gajinya itu 5 juta sebulan maka ia diharuskan bekerja seperti gaji 10 juta perbulan. Inilah yang disebut dengan investasi akhirat. Jika pola bekerja ini diterapkan dalam berbagai dimensi pekerjaan maka pekerjaan yang dilakukan akan mendekati kepada kesempurnaan.

Para pemimpin daerah semisal Gubernur misalnya atau SKPA harus kembali melihat kepada pola kerja dalam format Islam yakni bekerja lebih dari gaji yang ia peroleh, sebagai bagian ibadah dan investasi akhirat. Dengan pola seperti ini maka insya Allah akan melahirkan pola kerja yang maksimal, bertanggung jawab  dan profesional.

Selanjutnya shalat haruslah menjadi tolak ukur dalam bekerja, jangan berharap kerja-kerja sukses akan tercapai bila manajemen shalat belum berjalan sempurna. Maka kita sangat mengapresiasi jika ada pejabat daerah yang mengawali kerjanya dengan melaksanakan shalat shubuh berjamaah.

Sehingga komitmen seorang muslim dengan shalat berjamaah lima waktunya tersebut akan mampu mendongkrak kinerja. Shalat terbukti mampu memberikan ketenangan jiwa yang berguna dalam bekerja.

Pengaruh amaliah shalat akan mampu memberikan ide-de segar kreatif para pemimpin dalam membangun daerah. Sehingga kita akan menunggu bagaimana misalnya seorang kepala dareah mengupdate status sekali waktu di media sosialnya; mari rakyatku kita shalat, shalat dan shalat.

Belajar kembali dari kegemilangan Islam pada tiga era yakni Umayyah, Abbasiyah dan Ustmaniyah,  mereka adalah para pemimpin yang membawa kegemilangan Islam saat itu para pemimpin notabene menjadi pemimpin untuk menegakkan shalat.

Kita ingat bagaimana kisah dramatis ketika Konstatitinopel untuk pertama sekali ditakhlukkan  umat Islam. Maka ditanya siapa yang tidak pernah meninggalkan shalatnya seumur hidup, dialah yang layak menjadi imam shalat. Semua jamaah yang hadir saat itu tak ada yang berkutik, tiba-tiba seorang yang sangat berwibawa, warak dan santun bangkit dialah seorang pemimpin umat Islam yakni sultan Muhammad Alfatih bangkit mengimami rakyatnya.

Tentu saja zaman sudah bertukar, kita tak akan serupa seratus persen dengan apa yang terjadi kala itu, tetapi semangat Alfatih ini harus dimiliki oleh siapapun pemimpin dan semua masyarakat Aceh yang setiap hari disibukkan dengan beragam pekerjaan. Maka ketahuilah apa yang dikerjakan saat ini adalah investasi akhirat, shalat berjamah adalah nafkah akhirat.

Apapun kerja kita baik sebagai guru, praktisi, karyawan dan lain-lain  adalah bagian dari menghambakan diri kepada Allah. Sejatinya kita bekerja untuk kampung keabadian kita yakni akhirat. [Azmi Abubakar, Lc |Mahasiswa Pasca Sarjana Program Studi Hukum Keluarga UIN Ar-Raniry. Pengajar di Dayah Jeumala Amal, Lueng Putu. Pidie Jaya] (uri/leny/andraini/GC)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id