Tinja Kok Dibuang ke Kawasan Situs Sejarah, Keterlaluan! | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Tinja Kok Dibuang ke Kawasan Situs Sejarah, Keterlaluan!

Tinja Kok Dibuang ke Kawasan Situs Sejarah, Keterlaluan!
Foto Tinja Kok Dibuang ke Kawasan Situs Sejarah, Keterlaluan!

URI.co.id, BANDA ACEH – Penulis Manuskrip Naskah Kuno yang juga Pemerhati Sejarah Aceh, Tarmizi A Hamid menyerukan Pemerintah Kota Banda Aceh menghentikan pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang berada di antara Gampong Jawa dan Gampong Pande, Kecamatan Kutaraja.

Karena proyek tersebut akan secara langsung merusak bahkan mengubur situs sejarah yang paling berharga tentang kejayaan Aceh (Islam) masa lalu.

“Bodoh kalau ada yang mengatakan pada saat proyek itu direncanakan tidak ada situs sejarah atau batu nisan yang masuk dalam master-plan,” kata Tarmizi saat menjadi narasumber ‘Cakrawala’ Radio Serambi FM 90,2 MHz membedah Salam Serambi; Benarkah Situs Sejarah Terkubur Proyek Limbah?, Selasa (15/8/2017).

Baca: Benarkah Situs Sejarah Terkubur Proyek Limbah?

Menurut Tarmizi yang akrab disapa Cek Midi, kawasan Gampong Jawa, Gampong Pande, dan hampir semua gampong lainnya yang kini masuk dalam wilayah Kecamatan Kutaraja, Kota Banda Aceh adalah kawasan cagar budaya dengan berbagai situs sejarah yang merupakan titik nol Kerajaan Aceh Darussalam.

“Di kawasan itu banyak situs sejarah seperti benda-benda peninggalan masa lalu termasuk makam raja-raja dan ulama. Anehnya di lokasi itu pula dibangun tempat pembuangan sampah dan limbah termasuk kotoran manusia. Menurut saya, segera evaluasi dan hentikan proyek tersebut sebelum akhirnya semua situs sejarah itu lenyap,” kata Cek Midi.

Cek Midi juga mengingatkan, di Gampong Pande ada prasasti yang menulis “Di sini tempat bermula didirikan Kerajaan Aceh Darussalam oleh Sultan Johansyah pada hari pertama Ramadhan tahun 601 H”.

Baca: Situs Sejarah Jadi Daya Tarik Aceh

Ternyata, kata Cek Midi, “kalau semua bukti sudah tidak ada lagi, bagaimana kita mau meyakinkan orang bahwa memang ‘di sini’ tempat bermulanya Kerajaan Aceh Darussalam. Bisa saja prasasti itu saya pasang di depan rumah saya.”

Sebelumnya, protes terhadap pembangunan IPAL di situs sejarah disuarakan oleh Khaidir, anggota DPR RI asal Aceh.

Menurutnya, pembangunan proyek IPAL di kawasan TPA Sampah Gampong Jawa telah mengusik keberadaan situs sejarah Gampong Pande, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh.

Baca: Situs Sejarah Pusara Sultan Kerajaan Aceh

Sebab beberapa batu nisan kuno telah dipindahkan dari lokasi awalnya, karena masuk ke area proyek.

Apalagi, kata Khaidir, lokasi situs kerajaan Islam dengan berbagai batu nisan di dalamnya akan menjadi lokasi pembuangan limbah biologis (tinja).

“Di situ merupakan makam raja-raja. Sangat disayangkan kalau dijadikan tempat pembuangan limbah,” kata Khaidir. (uri/omario/alah/RF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id