Benarkah Situs Sejarah Terkubur Proyek Limbah? | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Benarkah Situs Sejarah Terkubur Proyek Limbah?

Benarkah Situs Sejarah Terkubur Proyek Limbah?
Foto Benarkah Situs Sejarah Terkubur Proyek Limbah?

BERITA yang dilansir Harian Serambi Indonesia tentang dugaan terancamnya keberadaan situs sejarah Gampong Pande, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh akibat pembangunan proyek Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) memunculkan keprihatinan kita.

Adalah anggota DPR RI asal Aceh, Khaidir bersama rekannya Ramza Harli SE yang merupakan Wakil Ketua Komisi D DPRK Banda Aceh yang mengeluarkan pernyataan bahwa pembangunan proyek IPAL di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah telah mengusik keberadaan situs sejarah Gampong Pande, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Sebab beberapa batu nisan kuno telah dipindahkan dari lokasi awalnya, karena masuk ke area proyek.

Inilah yang kemudian diprotes oleh Khaidir Ramza. Kedua wakil rakyat tersebut meninjau langsung proyek IPAL yang berada di antara Gampong Jawa dan Gampong Pande. Menurut Khaidir, saat ini beberapa batu nisan kuno telah berpindah posisi dari titik semula, akibat terkena proyek instalasi. Bahkan jika dilihat master-plan proyek itu, akan ada beberapa batu nisan kuno lagi yang harus dipindahkan.

Berdasarkan literatur sejarah, kawasan Gampong Pande merupakan lokasi bekas kerajaan Islam, yang menjadi cikal bakal berdirinya Kota Banda Aceh, serta menjadi titik nol Banda Aceh. Jika yang dikatakan Khaidir benar adanya, memang sangat disayangkan. Apalagi, kata Khaidir, lokasi situs kerajaan Islam dengan berbagai batu nisan di dalamnya akan menjadi lokasi pembuangan limbah biologis (tinja). “Di situ merupakan makam raja-raja. Sangat disayangkan kalau dijadikan tempat pembuangan limbah,” kata Khaidir.

Lalu, apa tanggapan Pemko Banda Aceh terhadap pernyataan Khaidir dan Ramza? “Pada saat proyek itu direncanakan tidak ada situs sejarah atau batu nisan yang masuk dalam master-plan. Namun ketika mulai pengerjaan, ditemukan beberapa batu nisan yang sudah tertanam di dalam tanah,” kata Kepala Bappeda Kota Banda Aceh, Ir Gusmeri MT.

Agar pro kontra itu tidak terus berlanjut, pemerintah perlu memberikan penjelasan didasari argumen yang bisa dipertanggungjawabkan mengenai benar tidaknya lokasi proyek IPAL tersebut dibangun di atas situs sejarah yang sangat berharga. Jika nantinya terbukti lokasi tersebut memang situs sejarah yang harus dilestarikan harus ada keputusan cepat dari pemerintah untuk merelokasi proyek karena masyarakat juga tidak berharap pembangunan terhenti. Begitu pun jika sebaliknya, jika lokasi itu tidak masuk areal situs, masyarakat juga harus terus mendukung kelanjutan pelaksanaan proyek yang sedang dilaksanakan. Begitulah. (uri/anni/addad/BH)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id