Polisi Cegah Aksi Pemagaran Proyek Jembatan | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Polisi Cegah Aksi Pemagaran Proyek Jembatan

Polisi Cegah Aksi Pemagaran Proyek Jembatan
Foto Polisi Cegah Aksi Pemagaran Proyek Jembatan

* Oleh Dua Bersaudara Pemilik Tanah

LHOKSUKON – Aksi pemagaran di lokasi proyek Jembatan Pange yang berada di Desa Teupin Keube, Kecamatan Matangkuli berbatasan dengan Desa Rayeuk Pange, Kecamatan Pirak Timu, oleh dua bersaudara Bukhari (29) dan adiknya Yasir (24), berhasil dicegah oleh polisi. Setelah sempat memagari tanah berukuran sekitar 505 m2 di lokasi proyek tersebut sejak Kamis (10/8), namun pada Sabtu (12/7) sore, pagar itu dibongkar sendiri oleh dua bersaudara yang juga warga Desa Rayeuk Pange tersebut ketika didatangi polisi.

“Karena datang polisi kemarin beramai-ramai ke lokasi, saya langsung membongkar pagar itu. Padahal Pagar tersebut berada di tanah saya yang saya beli pada Aminah. Sebelumnya, tanah itu saya sewa pada Aminah untuk membangun kandang,” kata Bukhari kepada Serambi, kemarin.

Alasan Bukhari dan Yasir memagari lokasi proyek jembatan karena mereka mengaku lahan tersebut belum diganti rugi oleh pemerintah. Bahkan, keduanya mengklaim, imbas proyek jembatan itu mengakibatkan kandang bebek mereka yang berisi 1.000 ekor, ikut dibongkar pihak rekanan atas suruhan keuchik setempat.

“Pada tahun 2016, kandang untuk petelur bebek saya dirusak aparat desa saat gotong royong. Lebih parah lagi, dua bulan yang lalu, kandang tersebut dirusak total dengan menggunakan alat berat. Tak hanya itu, aparat desa juga mengancam akan meracuni semua bebek saya jika tak mau membongkar kandang,” tudingnya. “Karena diancam, saya terpaksa menjual seribuan bebek dengan harga murah, karena khawatir akan diracuni,” ucap dia.

Usai kejadian itu, Bukhari mengaku sudah melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Matangkuli, tapi petugas di sana menolaknya. Lalu dia melaporkan kejadian perusakan kandang bebeknya tersebut ke Polres Aceh Utara. “Kejadian itu sudah saya laporkan dua bulan yang lalu, tapi sampai sekarang belum ditetapkan tersangka,” ujarnya.

Karena itu ia berharap kepada polisi untuk segera mengusut tuntas kasus tersebut. Bukhari juga berharap kepada pemerintah supaya segera menyelesaikan ganti rugi lahannya tersebut. “Saya tidak menghambat pembangunan dengan memagari lahan tersebut, tapi tanah saya jangan diganggu,” tegasnya.

Bukhari membeberkan, dia merintis usaha petelur bebek pada 2012 dengan jumlah bebek mencapai 1.000 ekor dan sudah menghasilkan 900 telur per hari, dengan menyewa tanah orang. Lalu beberapa tahun kemudian, tanah tersebut dibeli olehnya pada Aminah. Tapi, saat itu aparat desa tidak bersedia mengurus akte jual beli.

Sementara itu, upaya Serambi untuk mengklarifikasi tudingan Bukhari kepada Keuchik Rayeuk Pange belum membuahkan hasil. Meski sudah berulangkali mencoba menghubungi via telepon selular, tapi hingga berita ini diturunkan belum juga ada jawaban. Demikian juga dengan pesan singkat (SMS) yang Serambi kirim, juga tak berbalas.

Kapolres Aceh Utara, AKBP Ahmad Untung Surianata melalui KBO Reskrim Iptu Jimmy Hasibuan kepada Serambi menjelaskan, dirinya datang ke lokasi itu bersama petugas Resmob untuk mengimbau kepada pelapor agar membongkar pagar di lokasi proyek tersebut. Karena kasus tersebut masih dalam proses penyelidikan dan belum ada keabsahan soal tanah tersebut.

Hasil penyelidikan sementara, terangnya, tanah itu sudah dihibah Exxon Mobil pada 1973 lalu. Lalu pada tahun 1999, tanah itu dijual suami Aminah kepada Bukhari, tapi secara hukum negara tidak kuat proses jual beli tersebut. “Sampai sekarang kasus pengrusakan pagar tersebut masih dalam proses penyelidikan dan penyidik sudah memeriksa sejumlah saksi untuk pengusutan kasus itu,” katanya.(jaf) (uri/sih/ebrinaldy/AF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id