Pemimpin Langitan | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Pemimpin Langitan

Pemimpin Langitan
Foto Pemimpin Langitan

Oleh TAF Haikal

DI Pulau Jawa, banyak ulama kharismatik dipanggil dengan sebutan kyai langitan. Biasanya, kyai langitan memiliki pesantren atau dayah dengan jumlah santri yang begitu banyak, serta pengaruh kharismatik. Dalam benak kita, ketika mendengar kata-kata “langitan”, memori kita langsung tertuju pada sosok KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Gus Dur merupakan ulama dan juga sebagai seorang pemimpin negara. Dalam menjalankan kekuasaannya sebagai Presiden dan kepala pemerintahan, Gus Dur memiliki segudang cerita yang dianggap oleh sebagian orang sebagai cerita nyentrik, tanpa basa basi, lugas, rasional dan tidak bertele-tele, dan kocak. Begitulah orang-orang mengenal sosok Gus Dur.

Karakter “pemimpin langitan” seperti ini tampaknya dimiliki pula oleh Gubernur Irwandi Yusuf. Dengan gaya kepemimpinan yang blak-blakan, lugas, rasional dan mampu berkomunikasi dengan rakyat, telah membawa Aceh menjadi daerah yang memiliki berbagai terobosan. Ia telah menginisiasi lahirnya Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) yang kemudian direplikasi menjadi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Kini, ia terpilih untuk kedua kalinya sebagai Gubernur Aceh. Tentu harapan rakyat Aceh jauh lebih besar dari sebelumnya.

Irwandi Yusuf dipandang cakap dalam melakukan komunikasi dan diplomasi. Maka tidak heran, bila Aceh saat ini dipandang sebagai daerah yang akan berkembang dan maju. Bahkan sebelum prosesi pelantikan, Irwandi telah membangun komunikasi dengan berbagai pihak baik ditingkat nasional maupun internasioal. Berbagai Negara sahabat dan duta besar turut disambangi untuk mengampanyekan bahwa Aceh berkomitmen membangun kemitraan.

Kemampuan komunikasi dan diplomasi hanya bisa dibangun oleh pemimpin yang berkarakter, yang memiliki mimpi besar dalam membangun Aceh hebat. Selain itu, pemimpin seperti ini tentunya dikelilingi oleh tim yang hebat pula. Tim yang mampu mensuplai ide-ide dan gagasan yang mampu dilaksanakan dengan baik sesuai dengan kebutuhan dan potensi daerah.

Pemimpin berkarakter
Pemimpin mesti memiliki karakter, yang menggambarkan kondisi dan filosif rakyatnya. Pemimpin yang memiliki karakter diharapkan mampu menjawab tantangan yang dihadapi rakyatnya. Tantangan terbesar saat ini yang dihadapi oleh masyarakat Aceh adalah soal kemiskinan, di dalamnya terdapat kemampuan dalam pemenuhan kebutuhan pokok, yakni sandang, pangan, dan perumahan (papan). Dengan tantangan yang mendasar seperti ini, kehadiran pemimpin yang berkarakter sangat diharapkan oleh rakyat Aceh.

Harapan rakyat bukan hanya ketika proses politik pilkada. Namun, jauh setelah itu, lima tahun mendatang. Apakah mimpi kesejahteraaan itu akan terwujud atau jangan-jangan pimimpin lalai dengan singgasananya? Pemimpin hendaknya hadir di tengah-tengah rakyat untuk memberikan rasa bangga dan kesejahteraan. Rakyat Aceh memang bangga dengan kemampuan Irwandi Yusuf ketika mengudara di udara sebagai pilot, namun rakyat juga butuh kemampuan dan kepiawaian Irwandi Yusuf ketika di darat dalam membangun dan menjalankan program pembangunan.

Setidaknya pasangan Irwandi Yusuf dan Nova Iriansyah telah menyiapkan berbagai program pembangunan yang tidak lagi di langit, tapi telah mampu turun ke bumi menjawab tantangan pembangunan dan harapan rakyat. Ada 15 program prioritas, yaitu: 1) Aceh Seujahtra dengan JKA Plusnya; 2) Aceh SIAT (Sistem Informasi Aceh Terpadu); 3) Aceh Caròng yang mendukung perbaikan kualitas pendidikan; 4) Aceh Energi yang bertujuan untuk pemenuhan energi listrik bagi rakyat Aceh dan industri yang berasal dari energi bersih-terbarukan; 5) Aceh Meugoë dan Meulaôt, yakni pembangunan pertanian dan ekonomi maritim melalui program intensifikasi dan ekstensifikasi;

6) Acèh Troë, program yang terkait dengan pemenuhan bahan pangan dan gizi bagi seluruh rakyat Aceh secara mandiri; 7) Acèh Kreatif untuk mendorong tumbuhnya industri sesuai dengan potensi sumberdaya daerah dan memproteksi produk yang dihasilkannya; 8) Acèh Kaya untuk merangsang tumbuhnya entrepreneur yang ditunjang dengan kemudahan akses terhadap modal, keterampilan dan pasar; 9) Acèh Peumulia untuk pemenuhan layanan pemerintahan yang mudah, cepat, berkualitas dan bebas pungutan liar (pungli); 10) Acèh Damê untuk penguatan pelaksanaan UUPA sesuai prinsip-prinsip MoU Helsinki secara konsisten dan komprehensif;

11) Acèh Meuadab untuk mengembalikan khittah Aceh sebagai Serambi Mekkah melalui implementasi nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari; 12) Acèh Teuga untuk mengembalikan dan meningkatkan prestasi olahraga Aceh di tingkat nasional dan regional; 13) Acèh Green upaya untuk menegaskan kembali pembangunan Aceh berwawasan lingkungan dan berkelanjutan yang sensitif terhadap resiko bencana alam; 14) Acèh Seuninya bertujuan untuk penyediaan perumahan bagi masyarakat miskin dan pasangan muda; 15) Acèh Seumeugot untuk memastikan tersedianya sarana dan prasarana (infrastruktur) secara cerdas dan berkelanjutan untuk mendukung pencapaian tujuan semua program unggulan terutama yang menjadi daya ungkit pembangunan ekonomi.

Wujudkan kesejahteraan
Semua program prioritas tersebut harus diturunkan dalam bentuk kegiatan dan kinerja, yang mampu menjawab setidaknya tiga hal: Pertama, kondisi kemiskisnan di Aceh yang semakin tinggi. Angka kemiskinan Aceh menurut Badan Pusat Statistik (BPS) semakin meningkat dan bahkan Aceh menjadi provinsi termiskin di Sumatera; Kedua, potensi sumber daya alam. Aceh memiliki potensi sumber daya alam yang luar biasa, baik dari sisi pertanian, perkebunan, kelautan dan pertambangan. Pembangunan ke depan hendaknya diarahkan pada pembangunan yang mengedepankan kelestarian lingkungan hidup sebagai roh dalam pemanfaatan sumber daya alam;

Ketiga, disparitas pembangunan yang adil dan merata. Aceh memiliki karakteristik yang unik dan beragam. Pembangunan ke depan hendaknya memperhatikan kearifan dalam hal ketimpangan pembangunan Barat-Selatan, Timur-Utara, dan Tengah-Tenggara, serta strategi membangun Banda Aceh dan sekitarnya sebagai jendela Aceh. “Aceh saboh”, bersatu dalam keadilan dan bersatu dalam pembangunan.

Di akhir tulisan ini, penulis mengingatkan kembali kepada pemimpin di Aceh yakni Gubernur/Wakil Gubernur, Bupati/Wakil Bupati, Wali Kota/Wakil Wali Kota. Bapak semua hadir dan tampil sebagai pemimpin pemerintahan karena ada harapan rakyat. Mimpi akan kesejahteraan, mimpi akan kemakmuran menjadi cita-cita kita bersama. Oleh karena itu, mari kita ingatkan pemimpin agar jangan lalai dan lupa akan harapan rakyat.

Jika nanti pemimpin di Aceh lupa akan harapan rakyat, maka jangan salahkan rakyat bila dalam momentum politik selanjutnya, rakyat akan lupa pada pemimpin yang telah dipilihnya. Terakhir, mari kita dukung pemimpin yang memiliki inovasi, kreativitas dan solidaritas dalam membangun daerah. Jadi pemimpin memang harus dekat dengan rakyat, mendengar, bicara dan merasakan apa yang dirasakan rakyat. Itulah ciri-ciri “pemimpin langitan”. Semoga!

* TAF Haikal, Wakil Ketua DPW NasDem Aceh (Bidang Media & Komunikasi Publik). Email: [email protected] (uri/nton/ariana/AM)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id