Tahan Disakiti dan Tahan Tidak Menyakiti | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Tahan Disakiti dan Tahan Tidak Menyakiti

Tahan Disakiti dan Tahan Tidak Menyakiti
Foto Tahan Disakiti dan Tahan Tidak Menyakiti

KETIKA sebuah kepemimpinan dibungkus dengan kesufian, maka manusia tak akan bisa melampiaskan syahwat kepemimpinannya di puncak kekuasaan. Padahal selama ini, dogma yang berlaku, pemimpin adalah penguasa, dan ia harus super dalam segalanya, termasuk dominan terhadap semua lini kehidupan rakyatnya.

Tentu saja ini jauh dari kaedah kesufian yang tawadhuk serta rendah hati di mata Allah dan umatnya. Karena kedudukan dan harkat martabat manusia adalah sama di mata Allah, kecuali yang menjadi pembeda adalah ketaqwaannya kepada Yang Maha Khalik.

Atas dasar balutan kesufian itu, selama lima tahun menjabat sebagai pucukpimpinan Pemerintahan Abdya, Bupati Ir Jufri Hasanuddin MM menganut filosofi yang sangat lembut dan bijaksana, menjadi motto MPTT (Majelis Pengajian Tauhid Tasawuf) yang ditanamkan oleh Abuya Amran Wali yaitu tahan disakiti dan tahan tidak menyakiti.

Tidak ada kaedah serang menyerang dalam konteks filosofi dimaksud. “Jika di dunia politik kita gunakan idiomini, betapa indahnya. Karena kita diminta untuk menahan syahwat politik yang lebih mengedepankan selera duniawi. Jika dalam istilahsepakbola, kita hanya punya fungsi sebagai defender, bukan dalam koridor melakukan counter attack atau serangan balik.

Karena memangtidak ada keinginan untuk membalas. Ini yang coba saya terapkan dalam kepemimpinansaya di Abdya selama ini,” kata Jufri. Padahal, jika mau, sebagai pemimpin dan jugapembina politik di Abdya, seorang Jufri Hasanuddin punya ruang untuk itu. Namun politisi yang juga mantan anggota Dewan PerwakilanRakyat Aceh (DPRA) itu berusaha sekuat tenaga untuk tidak membalas setiap tudingan ataupun ‘serangan’ politik kepada Pemerintah Abdya atau dirinya secara pribadi sekalipun.

Yaitu dengan tidak mengomentari halhal yang berkembang. Terlepas dari apapun,bermuamalat dalam bentuk politik dan sosial budaya juga harus dipikirkan oleh umat. Namun tetap saja dibunghus dengan keinginan dan ridha Allah melalui ajaran kesufian. Sebuah ilmu yang sangat tua dan menjadi tulangpunggung dalam memerdekakan Indonesia di masa lalu.

Terutama dalam kaitan menyingkirkan kesyirikan, dan di sisi lain, ketika kepemimpinan dibungkus de- ngan kesufian, maka manusia tak akan bisa melakukan syahwat kepemimpinannya kala berada di puncak kekuasaan.

Sebagai pemimpin dan juga pembina politik di Abdya, Jufri berusaha kuat untuk tidak membalas setiap tudingan ataupun ‘serangan’ politik kepada Pemerintah Abdya atau Jufri secara pribadi sekalipun. Yaitu dengan tidak mengomentari hal hal yang berkembang.

“Biarpun sebenarnya sebagai seorang bupati, saya punya ruang untuk itu,” tutur Bupati Jufri. Bahwa agama butuh kekuatan secara politik, karena Rasulullah mengembangkan agama dengan basis kekuatan siasah atau politik.

Selama ini memang politik dieqivalenkan dengan intrik dan kejahatan, tapi itu justru pemahaman yang salah. Tapi jika kita berpolitik dengan landasan kepentingan ummat, mengapa tidak?

Misalnya anggota legislatif yang berada di garda depan untuk kesejahteraan ummat, dalam bingkai agamis. Termasuk berupaya meningkatkan kesejahteraan ulama sebagai pemandu ummat. Membiayai pembangunan pesantren, masjid dan meunasah.(**) (uri/ndra/ndrianto/IA)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id