Petani Garam Makin Terjepit | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Petani Garam Makin Terjepit

Petani Garam Makin Terjepit
Foto Petani Garam Makin Terjepit

* Bibit Mahal

* Produksi sering Terhenti

LHOKSUKON – Kehidupan petani garam di Desa Kuala Cangkoi dan Matang Tunong, Kecamatan Lapang, Aceh Utara makin terjepit seiring terhentinya produksi dalam dua tahun terakhir karena areal terendam. Kecuali itu, makin mahalnya bibit membuat mereka tak bisa menikmati kenaikan harga garam di pasaran yang sebenanya cukup menggiurkan.

Ketua Kelompok Petani Garam Lapang, Hamdani kepada Serambi, Sabtu (12/8), mengatakan, para petani di kawasan tersebut sangat terpuruk dengan kondisi produksi mereka yang sering terhenti akibat ladang garam terendam air payau, dikarenakan belum ada saluran di kawasan areal tersebut. Bahkan, ungkapnya, sebagian besar petani garam di kecamatan itu kini sudah berhenti memproduksi akibat tak mampu membangun pondok yang sudah rusak diterjang angin kencang.

“Petani garam di kawasan kami sebelumnya mencapai 81 orang. Namun, sekarang hanya tersisa sekitar 30 orang lebih. Sedangkan yang lain tak memproduksi lagi selain karena tak mampu membangun pondok, juga sering merugi karena areal terendam air, dikarenakan belum ada saluran,” kata Hamdani.

Disebutkan dia, persoalan lain yang membelit petani garam di kawasan itu selama ini adalah sulitnya mendapatkan bibit garam, belum lagi harganya yang meningkat tajam dari sebelummya per sak dengan berat 50 kilogram sebesar Rp 100 ribu, sekarang naik menjadi 270 ribu per sak. “Kami sudah berulangkali menyampaikan persoalan ini kepada pemerintah, agar dapat pembinaan serius,” katanya.

“Misalnya, membangun pondok yang permanen dan saluran serta penyediaan bibit garam. Kalau ini dilakukan, saya yakin produksi garam di Lapang bisa mencukupi, bukan hanya untuk Aceh Utara saja, tapi juga untuk kabupaten/kota lain. Sekarang meski harga tinggi, tapi petani di kawasan kami tak bisa memproduksi secara maksimal,” imbuh dia.

Menurut Hamdani, dikhwatirkan jika persoalan ini tak ditanggapi secara serius, ke depannya petani garam di Lapang akan hilang. “Mereka yang bertahan jadi petani garam, karena tak punya mata pencaharian lain. Meskipun tak maksimal tapi mereka berupaya bertahan agar bisa menafkahi keluarganya,” ungkap Hamdani yang dibenarkan Zubir, petani garam lainnya.

Sementara itu, Zubir, petani garam lainnya di Lapang yang berkesempatan bertemu senator alias anggota DPD RI asal Aceh, H Sudirman atau Haji Uma, Jumat (11/8) malam, mengeluhkan kondisi mereka yang nelangsa. Dia membeberkan secara rinci kepada Haji Uma bagaimana kehidupan petani garam yang makin hari kian terjepit, meski harga garam di pasaran melambung tinggi.

Mendengar keluh kesah petani garam tersebut, Haji Uma mengaku cukup prihatin. Senator ini pun menyorot pembinaan pemerintah yang dinilainya sangat tidak maksimal. “Pelatihan yang diberikan pemerintah selama ini seperti asal-asalan saja tanpa ada tindaklanjut. Buktinya, kondisi pondok untuk memasak garam rata-rata hampir roboh,” kata Haji Uma.

Anggota Komite II DPD RI itu berjanji akan berupaya menyampaikan persoalan tersebut kepada kementerian dan dinas terkait di Aceh Utara untuk dicari solusi, sehingga ke depan petani garam di Aceh Utara dapat terbina dengan baik.(jaf) (uri/itri/elmeizar/FD)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id