Pengusaha di India Ini 15 Tahun Buka Sekolah Gratis untuk Anak-anak Miskin | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Pengusaha di India Ini 15 Tahun Buka Sekolah Gratis untuk Anak-anak Miskin

Foto Pengusaha di India Ini 15 Tahun Buka Sekolah Gratis untuk Anak-anak Miskin

aceh.Uri.co.id, AHMEDABAD – Selama 15 tahun, seorang pengusaha Kamal Palmar mengajar anak-anak di kawasan kumuh kota Ahmedabad, India, cara membaca dan menulis.

Kisah Parmar dimulai pada satu siang 15 tahun lalu, ketika dia sedang berdiri di luar bengkel besinya di dekat kawasan kumuh Bhudarpura, Ahmedabad, saat bertemu anak-anak yang baru pulang dari sekolah setempat.

Bocah-bocah itu dengan semangat membicarakan ujian yang baru saja mereka lalui yang mereka yakini bisa dilalui dengan sukses.

Parmar kemudian menghentikan anak-anak itu dan melontarkan beberapa pertanyaan. Namun, ternyata anak-anak itu bahkan yang paling tua sama sekali tak bisa membaca.

“Saya ambil kertas ujian mereka dan menanyakan beberapa hal. Namun tak ada yang bisa menjawab. Lalu saya minta mereka membaca, ternyata mereka tak bisa membaca,” kenang Parmar.

Terkejut dengan kondisi itu, Parmar lalu bertanya kepada anak-anak itu tentang jawaban mereka saat mengisi soal ujian.

“Yang mereka ketahui hanyalah alfabet. Saat itulah saya berpikir harus melakukan sesuatu untuk mereka. Itulah awal dari sekolah saya,” ujar Parmar.

Awalnya, Parmar menanyai sekitar 400 orang siswa sekolah di kawasan itu dan menemukan hanya lima dari mereka yang bisa membaca dan menulis.

Akhirnya dia mengundang anak-anak itu datang ke kediamannya setiap malam. Di sana Parmar membangun sebuah kelas darurat dengan meja besi yang dibuat di bengkelnya.

Meski Parmar juga tak pernah menyelesaikan sekolah, pria ini bertekad memberi semua yang dia tahu untuk anak-anak itu, mulai dari pengenalan huruf hingga memperhatikan kebutuhan setiap anak.

Sekolah ini awalnya hanya memiliki 10 orang murid namun kemudian Parmar berhasil menarik lebih banyak murid dengan cara yang sangat sederhana, yaitu santap malam gratis di kediamannya.

“Saya ajari mereka dua jam setiap hari dan kemudian kami makan malam bersama,” ujar Parmar.

“Saya beri mereka bukan sekadar makan malam. Saya beri makanan bergizi dan lezat serta tentu saja permen. Saya juga mengajak mereka piknik setahun sekali,” paparnya.

Kini sekolah yang didirikan Parmar itu memiliki 155 murid dan banyak anak yang menjadi muridnya selama 15 tahun terakhir kini sudah duduk di bangku kuliah bahkan memiliki karier yang sukses.

“Salah seorang mantan siswi saya belum lama ini menjadi manajer sebuah bank, lalu satu orang lagi menjadi ahli komputer, yang lain menjadi ahli mesin, ada yang mau masuk sekolah kedokteran,” ujar Parmar bangga.

“Bayangkan, mereka yang awalnya tak bisa membaca dan menulis kini menjadi manajer bank, insinyur. Bagi saya ini sebuah kesuksesan,” lanjut dia.

Memang tak semua siswanya menuai sukses, beberapa dari mereka juga tak bisa melanjutkan sekolah karena masalah biaya.

Namun, Parmar mengatakan, dirinya merasa berhasil mengajar anak-anak itu dengan teknik yang inovatif.

“Pertama saya minta mereka membaca, lalu saya minta mereka membuat pertanyaan dan membacakannya lalu mencari sendiri solusinya. Dalam enam bulan mereka belajar semua mata pelajaran dengan cara ini,” tambah dia.

Salah seorang murid Parmar, Ronak Solanki mengakui bahwa pria itu berjasa besar dalam hidupnya.

“Semua teman SD saya tak ada yang melanjutkan sekolah saat ini. Mereka bahkan tak bisa melampaui kelas 10. Dia memberi kami bantuan tak hanya mengajari kami tapi juga memberi kami uang sekolah,” kenang Ronak.

Aksi amal Parmar ini sangat didukung keluarganya yang justru bangga dengan kegiatan ini dan dampak positifnya bagi anak-anak di kawasan itu.

Bahkan, saat Parmar mengungkapkan niat membuka sekolah untuk anak-anak miskin ini, dua putranya langsung mengambil alih bisnis, sehingga Parmar bisa meluangkan waktunya.

“Sejak kami anak-anak, kami sering melihat ayah melakukan kerja sosial dan kami bangga kepada dia,” kata Gautam, salah seorang putra Parmar.

“Jika kami tak mengelola bengkel, maka ayah pasti akan melanjutkan mengelola bengkel sambil mengajar. Namun, kami melihat dia sangat mencintai kerja sosial jadi kami putuskan untuk mengambil alih bisnis,” tambah Gautam. (*) (uri/ndra/ndrianto/IA)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id