Penanganan Pasien Saraf Semakin Mudah di RSUZA | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Penanganan Pasien Saraf Semakin Mudah di RSUZA

Penanganan Pasien Saraf Semakin Mudah di RSUZA
Foto Penanganan Pasien Saraf Semakin Mudah di RSUZA

* Didukung Teknologi C-Arm

SAAT ini Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh menjadi center metode manajemen intervensi minimal dalam penyembuhan pasien nyeri (pasien saraf). Penerapan metode itu didukung oleh keberadaan teknologi C-Arm di Oka Hybrid yang merupakan salah satu teknologi penunjang terbaru di RSUZA.

Dokter Spesialis Saraf RSUZA, Dr dr Dessy Rakhmawati Emril Sp.S(K) kepada Serambi, Jumat (11/8) mengatakan, dengan kecanggihan teknologi C-Arm itu mereka dapat memasukkan jarum ke dalam tubuh pasien tanpa pembedahan. Jarum yang dilengkapi fungsi kamera itu bisa melihat target sumber nyeri yang akan diobati. “Dengan jarum yang lain akan disuntikkan obat. Kita juga dapat melihat masuk dan aliran obat itu ke mana, ya dengan alat itu,” ujar Dessy.

Dalam metode intervensi nyeri itu mereka menggunakan dua alat yaitu C-Arm dan USG, namun C-Arm ini lebih cenderung digunakan untuk tindakan pada pasien sakit tulang punggung belakang, seperti keluhan nyeri punggung bawah.

Ia menjelaskan, pada pasien saraf penanganan akan diawali dengan pengobatan secara konvensional, jika tidak berhasil akan ditangani dengan metode intervensi minimal. Metode ini juga akan menjadi jembatan sebelum operasi.

“Kita tidak langsung operasi, kita ada ambil tindakan dulu dengan intervensi atau kadang ada pasien yang menolak operasi, maka kita bisa bantu dengan tindakan ini, atau ada juga kasus yang operasi tidak boleh sama sekali, tapi harus dengan metode ini,” kata Dessy.

Menurutnya, metode intervensi nyeri ini juga lebih efisien dalam segi waktu, karena jika operasi saraf akan memakan waktu empat hingga enam jam, maka metode intervensi minimal dengan teknologi C-Arm hanya satu jam.

Menurut Dessy, sekitar 40 pasien ditangani setiap bulannya dengan teknologi C-Arm. Jika termasuk dengan teknologi USG, maka ada 90 pasien metode intervensi minimal yang ditangani setiap bulan.

Tentang C-Arm
C-Arm ini sendiri merupakan sebuah teknologi yang berbentuk haruf C dengan sebuah tempat tidur. Dengan teknologi fotoskopi maka dapat dilihat struktur tulang pasien, guna menentukan lokasi penyuntikan dan menempatkan jarum pada posisi target.

Kelebihan C-Arm dapat melakukan manuver ke segala arah sehingga pasien tidak perlu bergerak. Saat ini C-Arm menjadi ‘mata’ dokter untuk melihat gangguan saraf pada pasien, tanpa harus operasi.

Dr Dessy mengatakan, sebenarnya C-Arm sudah ada di banyak rumah sakit, namun C-Arm dengan tipe seperti di RSUZA ini belum banyak dimiliki oleh rumah sakit lain.

Di RSUZA, C-Arm dengan teknologi tinggi sudah ada sejak 2015. Untuk mengoperasikannya dibutuhkan dua asisten operator, radiografer, hemodynamic, dan sirkuler. Teknologi C-Arm ini tidak hanya berfungsi untuk membantu penanganan pasien saraf, namun juga pasien lain seperti jantung.

Direktur RSUZA, dr Fachrul Jamal SpAn KIC mengatakan, penanganan pasien nyeri ini sudah menjadi fokus dokter nasional maupun internasional. Dulu untuk mengatasi nyeri dengan obat-obatan dan suntik, namun saat ini dilakukan dengan metode intervensi dengan menyuntikkan obat ke lokasi syaraf. “Salah satu cara untuk mengetahu lokasi gangguan saraf dengan teknologi C-Arm,” kata Fachrul. (mun) (uri/aradhia/ayanti/FD)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id