Musibah Besar Bagi DPRA | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Musibah Besar Bagi DPRA

Musibah Besar Bagi DPRA
Foto Musibah Besar Bagi DPRA

TERTANGKAPNYA Ja (37), anggota DPRA yang sedang nyabu bersama tiga rekannya menjadi preseden buruk bagi lembaga terhormat tersebut. Kasus tertangkapnya Ja, dalam pandangan pakar hukum dan pengamat politik Aceh, Mawardi Ismail SH MHum merupakan musibah besar bagi DPRA, selain mencoreng nama baik partai politik tempat Ja bernaung selama ini.

“Saya kira ini musibah besar bagi DPRA, karena itu lembaga terhormat dan lembaga perwakilan rakyat. Tapi apa mau dibilang lagi, ini semua sudah terjadi. Jalani saja proses hukumnya,” kata Mawardi Ismail kepada Serambi, Jumat (11/8) menanggapi kasus sabu yang melibatkan Ja.

Menurut Mawardi, selain menjadi preseden buruk bagi DPRA dan partainya, kasus yang menimpa Ja itu juga mencoreng nama baik Aceh. Oleh sebab itu, kata Mawardi, DPRA melalui Badan Kehormatan Dewan (BKD) harus segera mengambil sikap. “Saya kira ada dua yang harus dilakukan, pertama proses hukum berjalan terus, kemudian yang kedua BKD DPRA perlu mengambil sikap,” ujarnya.

Mawardi menambahkan, kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi partai politik. Ke depan, partai manapun harus lebih selektif lagi dalam merekrut, menentukan atau memilih calon-calon yang akan mewakili partai dalam kontestasi legislatif. “Ketika pencalonan, partai harus benar-benar mancari calon yang punya latar belakang baik, memiliki track record bagus, itu saya rasa sangat penting,” sebutnya.

Menurutnya, kasus narkoba bisa menjerat siapa saja, oleh sebab itu masyarakat dalam menentukan pilihan setiap kali pemilu legislatif (Pileg) juga sangat penting. “Jangan pilih karena uang, tapi pilih mereka karena track record yang baik. Semua orang yang masuk ke situ (dewan) harus terhindar dari itu, kita pilih karena integritas dan kualitas,” sebutnya.

Soal peredaran narkoba yang marak terjadi di Aceh, Mawardi meminta pihak kepolisian agar terus bekerja memberantasnya. Menurutnya, apa yang dilakukan polisi selama ini sudah baik, secara formal katanya, sudah ada direktorat atau reserse narkoba di setiap jajaran kepolisian, ditambah dengan Badan Narkotika Nasional (BNN). “Tetapi dalam masyrakat, peredaran dan penggunaan narkoba terus terjadi, ini suatu yang paradoks saya rasa,” ujarnya.

Mawardi meminta pihak kepolisian untuk memberantas narkoba bukan hanya di hilir (pemakai) tapi juga hulu (pengedar). Pemberantasan dari hulu ke hilir ini harus serius dilakukan kepolisian, jika menginginkan Aceh bebas dari darurat narkoba. “Untuk mengetahui hulu atau para sindikat, itu tidak sulit, polisi bisa memanfaatkan hilir ini untuk menuju ke hulu, jadi dengan begitu mudah memberantasnya,” sebut Mawardi.

Tertangkapnya Ja bersama tiga rekannya dua hari lalu, tak terlepas dari laporan yang disampaikan masyarakat sekitar. Mawardi meminta polisi menghargai laporan itu. Polisi juga diminta memberi insentif kepada masyarakat yang memberikan informasi tentang keberadaan sindikat ataupun pengguna narkoba di Aceh. “Selain memberikan insentif, polisi juga harus menjamin keamanan para pelapor. Untuk apa insentif kalau tidak ada jaminan keamanan, karena jaringan narkoba ini bisa melakukan apa saja,” demikian Mawardi Ismail.(dan) (uri/ndra/ndrianto/IA)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id